banner 728x250

Tiga Arah Pengembangan Vaksin TBC di Indonesia, Termasuk Riset BRIN

Tiga Arah Pengembangan Vaksin TBC di Indonesia, Termasuk Riset BRIN
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyampaikan bahwa terdapat tiga kandidat atau pendekatan pengembangan vaksin tuberkulosis (TBC) yang tengah berjalan. Perkembangan ini menjadi bagian dari upaya mencari perlindungan yang lebih baik terhadap penyakit menular tersebut, sekaligus memperkuat pilihan pencegahan di masa mendatang. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan keterangan itu kepada wartawan di kantor BPOM, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Taruna menjelaskan bahwa vaksin BCG, yang dikembangkan dari bakteri, masih digunakan. Namun, menurutnya, efektivitas vaksin tersebut dinilai menurun sehingga diperlukan pengembangan vaksin baru. Pernyataan tentang penurunan efektivitas itu menjadi alasan untuk mendorong riset dan pengembangan, bukan berarti penggunaan BCG dihentikan. Vaksin BCG tetap menjadi bagian dari upaya pencegahan TBC yang berlangsung saat ini.

banner 325x300

Adanya tiga kandidat atau pendekatan menunjukkan bahwa pengembangan vaksin TBC tidak bertumpu pada satu jalur saja. Setiap kandidat perlu diteliti dan dievaluasi lebih lanjut sebelum dapat dinilai manfaat serta kesesuaiannya. BPOM memantau perkembangan tersebut dalam kapasitasnya sebagai lembaga yang berperan dalam pengawasan obat dan produk kesehatan. Pemantauan juga penting untuk memastikan bahwa informasi mengenai calon vaksin disampaikan secara cermat, sejalan dengan tahapan riset yang sedang ditempuh.

Pengembangan vaksin baru memerlukan proses ilmiah bertahap, termasuk penelitian untuk menilai keamanan dan efektivitasnya. Karena itu, keberadaan kandidat yang tengah dikembangkan belum berarti vaksin tersebut sudah siap digunakan oleh masyarakat. Hasil penelitian dan evaluasi berikutnya akan menentukan langkah yang dapat diambil, sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara proses tersebut berjalan, penggunaan BCG tetap berlangsung dan upaya pencegahan TBC masih perlu didukung dengan langkah kesehatan lainnya. Informasi BPOM mengenai tiga arah pengembangan ini memberi gambaran tentang riset yang sedang dilakukan, tanpa mengubah status penggunaan vaksin BCG saat ini.

Kandidat vaksin tuberkulosis yang mendapat perhatian dan dukungan promosi dari miliarder Bill Gates kini telah memasuki uji klinik fase 3. Tahap ini merupakan pengujian lanjutan yang dirancang untuk menilai kandidat vaksin pada skala lebih luas, dengan pelaksanaan multisenter di sejumlah negara. Karena pengujian melibatkan banyak lokasi dan peserta, peneliti dapat mengumpulkan data dari kelompok yang beragam dalam kondisi yang berbeda.

Taruna menyebut jumlah sampel yang dilibatkan secara global hampir mencapai 60 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 peserta berasal dari Indonesia. Keterlibatan peserta dalam negeri menjadi bagian dari kerja sama riset lintas negara, sekaligus memberi kontribusi pada proses pengumpulan data yang diperlukan untuk menilai kandidat tersebut. Angka itu juga menunjukkan bahwa Indonesia mengambil porsi yang cukup berarti dalam pelaksanaan uji klinik internasional ini.

Menurut Taruna, besarnya keterlibatan Indonesia berkaitan dengan beban tuberkulosis di dalam negeri. Jumlah orang yang mengidap TBC di Indonesia disebut telah melampaui satu juta. Tingginya beban penyakit tersebut membuat penelitian dan pengembangan vaksin menjadi salah satu upaya yang relevan untuk terus diperhatikan. Namun, banyaknya peserta dari Indonesia tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa vaksin tersebut telah terbukti berhasil atau dapat langsung digunakan.

Uji fase 3 masih berlangsung, sehingga proses pemantauan dan analisis data belum selesai. Taruna menilai hasil sementara yang terlihat sejauh ini cukup baik, tetapi penilaian tersebut tidak sama dengan kesimpulan akhir mengenai keamanan maupun efektivitas vaksin. Hasil sementara dapat berubah seiring bertambahnya data dan evaluasi menyeluruh. Karena itu, informasi tentang kandidat ini perlu disampaikan secara hati-hati, dengan membedakan perkembangan pengujian dari bukti klinis final.

Setelah pengujian berakhir, data akan ditelaah untuk menentukan apakah kandidat memenuhi kriteria yang diperlukan. Keputusan mengenai manfaat dan penggunaannya akan bergantung pada hasil lengkap serta penilaian pihak berwenang. Sampai tahap tersebut tercapai, kandidat yang dipromosikan Gates tetap berstatus sebagai vaksin yang sedang diteliti, bukan sebagai vaksin yang efektivitasnya telah dipastikan.

Kandidat kedua vaksin tuberkulosis yang dipantau Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dikembangkan oleh CanSino bersama grup Etana. Berbeda dari vaksin yang diberikan melalui suntikan, kandidat ini dirancang dalam bentuk inhalasi. Cara pemberiannya adalah dengan menghirup vaksin melalui saluran pernapasan. Perbedaan bentuk dan rute pemberian tersebut menjadi ciri utama kandidat yang sedang dikembangkan kedua pihak.

Dalam pemantauan pengembangan vaksin, tahapan uji klinik menjadi bagian penting untuk menilai kandidat secara bertahap. Menurut Taruna, uji klinik fase pertama untuk vaksin inhalasi CanSino dan Etana menunjukkan profil keamanan yang cukup baik. Pernyataan tersebut merujuk pada hasil dari fase pertama, sehingga tidak dapat diartikan sebagai kesimpulan mengenai seluruh aspek kinerja vaksin atau hasil pada tahapan penelitian berikutnya. Penilaian pada tahap selanjutnya tetap perlu mengikuti proses uji klinik yang berlaku.

Setelah fase pertama, kandidat ini akan memasuki fase 2. Peralihan tersebut menandai kelanjutan proses penelitian, bukan bukti bahwa vaksin telah tersedia untuk digunakan secara luas. Informasi yang disampaikan mengenai kandidat ini terbatas pada bentuk inhalasi, cara pemberian melalui saluran pernapasan, hasil keamanan yang cukup baik pada fase pertama menurut Taruna, serta rencana memasuki fase kedua. Karena itu, belum tepat untuk menambahkan perkiraan jadwal, hasil klinis yang belum disebutkan, atau klaim manfaat di luar informasi tersebut.

Pengembangan vaksin TBC melalui pendekatan inhalasi menunjukkan salah satu jalur riset yang sedang diperhatikan BPOM di Indonesia. Bagi pembaca, pembedaan hasil awal dan tahapan yang masih akan dijalani penting agar perkembangan kandidat dapat dipahami secara proporsional. Fase pertama memberikan informasi awal mengenai keamanan, sedangkan fase 2 merupakan tahapan penelitian berikutnya yang akan dijalankan. Perkembangan lebih lanjut perlu merujuk pada keterangan resmi dan hasil uji yang tersedia pada waktunya, tanpa menganggap kandidat ini telah melewati seluruh proses evaluasi.

Kandidat ketiga dalam arah pengembangan vaksin TBC di Indonesia berasal dari penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset ini menjadi salah satu pendekatan yang dibicarakan dalam upaya mengembangkan kandidat vaksin, tetapi statusnya masih berada pada tahap rencana untuk ditelaah. Taruna menyatakan bahwa Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan mengevaluasi rencana dari tim BRIN pada pekan berikutnya. Pernyataan tersebut merujuk pada agenda evaluasi yang akan dilakukan, bukan proses yang telah selesai atau keputusan yang sudah dikeluarkan. Karena itu, perkembangan kandidat ini perlu dipahami sesuai tahapannya, tanpa menganggapnya telah memperoleh penilaian akhir maupun persetujuan untuk digunakan.

Rencana penelaahan tersebut berlangsung dalam konteks beban TBC yang besar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam Global Tuberculosis Report, Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk beban kasus TBC, setelah India. Laporan itu memperkirakan terdapat lebih dari 1,06 juta kasus baru setiap tahun di Indonesia, sementara jumlah kematian terkait TBC diperkirakan sekitar 125 ribu orang. Angka-angka ini menggambarkan skala persoalan kesehatan masyarakat yang dihadapi negara. Data tersebut menjadi latar untuk memahami perhatian terhadap beragam upaya pengembangan vaksin, termasuk penelitian yang dilakukan tim BRIN.

Namun, besarnya beban penyakit tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil atau manfaat tertentu dari kandidat BRIN. Informasi yang tersedia dalam konteks ini hanya menyebutkan asal kandidat dan rencana BPOM untuk mengevaluasi rencana tim pada pekan berikutnya. Rincian mengenai hasil evaluasi, tahapan penelitian, ataupun perkembangan selanjutnya belum dapat dipastikan dari keterangan tersebut.

Baca juga: Pengembangan Industri Cokelat di Kawasan Transmigrasi Papua

banner 325x300