Jakarta | Selena Gomez mengatakan kebiasaannya menggunakan vape bernikotin telah mengubah suaranya. Ia menyampaikan pengakuan tersebut melalui sebuah video di Instagram Story pada 18 Oktober 2026, sekaligus menanggapi spekulasi warganet mengenai perubahan suaranya. Dalam video itu, Gomez berbicara tentang pengalaman pribadinya menggunakan vape dan mengakui bahwa ia pernah mengonsumsinya dalam jumlah banyak.
Pengakuan tersebut muncul ketika perubahan suara Gomez menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Sejumlah pengguna internet mempertanyakan penyebabnya, lalu Gomez memberikan tanggapan secara langsung melalui unggahan sementara tersebut. Ia menghubungkan kebiasaan vaping yang pernah dijalaninya dengan perubahan pada suaranya, tetapi tidak merinci seperti apa perubahan itu. Karena itu, keterangan yang tersedia sebaiknya dipahami sesuai dengan apa yang ia sampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang karakter atau tingkat perubahan suaranya.
Gomez juga menyebut bahwa berhenti menggunakan vape tidak selalu mudah baginya. Menurut pengakuannya, ia merasa sulit berhenti karena nikotin dapat menimbulkan ketergantungan. Pernyataan itu menyoroti bahwa kebiasaan tersebut bukan sekadar persoalan pilihan sesaat: zat nikotin dapat membuat seseorang ingin terus menggunakannya, sehingga upaya untuk menghentikan konsumsi dapat terasa menantang. Gomez tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai proses berhenti atau kondisi penggunaannya saat ini.
Dengan demikian, inti kabar ini adalah pengakuan pribadi Gomez tentang penggunaan vape bernikotin dalam jumlah banyak, kesulitan untuk berhenti, dan keyakinannya bahwa kebiasaan itu telah memengaruhi suaranya. Tanggapannya juga menjadi konteks bagi spekulasi yang beredar di kalangan warganet. Informasi tersebut berasal dari pernyataannya dalam Instagram Story, bukan penjelasan medis terperinci mengenai penyebab perubahan suara. Tanpa keterangan tambahan darinya atau pemeriksaan profesional, dampak spesifik pada suara maupun kaitannya dengan faktor lain tidak dapat dipastikan dari unggahan itu saja. Namun, ia secara terbuka mengaitkan pengalamannya dengan vaping dan menjelaskan bahwa nikotin membuat kebiasaan tersebut sulit dihentikan.
Selena Gomez mengatakan bahwa ia kini telah berhenti menggunakan vape nikotin. Ia juga menyampaikan harapan agar dapat mempertahankan keputusan tersebut. Pengakuan ini menandai perubahan dalam kebiasaannya, setelah sebelumnya ia mengaitkan penggunaan vape dengan perubahan pada suaranya. Meski berhenti merupakan langkah yang telah ia ambil, Selena mengungkapkan harapan untuk tetap menjalaninya, bukan menyatakan bahwa prosesnya selalu mudah atau sepenuhnya selesai.
Dalam pesannya, Selena turut menyoroti orang-orang yang sedang berusaha mengatasi ketergantungan nikotin. Ia mendorong mereka agar tidak menyerah dalam menghadapi proses tersebut. Pernyataan itu menyampaikan dukungan bagi siapa pun yang tengah mencoba menghentikan kebiasaan menggunakan vape, tanpa menetapkan cara tertentu atau menjanjikan hasil yang sama bagi setiap orang. Pengalaman seseorang dapat berbeda, tetapi pesan Selena menekankan pentingnya terus berupaya ketika perubahan terasa sulit.
Selena juga menyampaikan pandangannya kepada orang-orang yang masih mempertimbangkan untuk mencoba vape. Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak sebanding dengan risiko yang mungkin ditimbulkan. Pesan ini mencerminkan penilaiannya berdasarkan pengalaman yang ia ceritakan, termasuk kekhawatirannya mengenai perubahan suara. Ia tidak mengajukan anjuran baru ataupun rincian medis tertentu, melainkan menekankan bahwa calon pengguna sebaiknya memahami kemungkinan dampak sebelum memutuskan untuk mencoba.
Pernyataan Selena menggabungkan pengalaman pribadi dengan dorongan agar orang lain mempertimbangkan pilihan mereka secara cermat. Keputusannya berhenti menggunakan vape dan harapannya untuk bertahan dapat menjadi bagian dari percakapan lebih luas mengenai kebiasaan nikotin, tetapi tidak perlu dipahami sebagai panduan kesehatan yang berlaku bagi semua orang. Bagi mereka yang sedang berjuang, inti pesannya adalah agar tidak menyerah; bagi yang belum mencoba, ia menilai potensi risikonya tidak sebanding dengan kebiasaan tersebut. Dengan demikian, Selena menyampaikan sikapnya secara jelas: ia telah berhenti, ingin mempertahankan keputusan itu, dan berharap orang lain turut mempertimbangkan dampak vape sebelum memulai.
Dokter Paul Kwak, spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan di NYU Langone Voice Center, menjelaskan bahwa vaping berpotensi memengaruhi kualitas suara. Dampaknya berkaitan dengan jalur yang dilalui aerosol ketika dihirup. Aerosol vape bukan sekadar uap air; kandungannya dapat mencakup nikotin dan berbagai bahan kimia lain. Setelah masuk ke saluran pernapasan, partikel tersebut melewati tenggorokan dan mencapai area laring, tempat pita suara berada. Dengan demikian, jaringan yang mendukung produksi suara dapat terpapar langsung.
Paparan itu dapat membuat permukaan saluran napas kering, mengalami iritasi, atau meradang. Kondisi tersebut penting karena pita suara perlu memiliki kelembapan dan kelenturan agar dapat bergetar secara teratur ketika seseorang berbicara atau bernyanyi. Bila jaringan di sekitarnya terganggu, getaran dan penutupan pita suara mungkin berubah. Akibatnya, suara dapat terdengar lebih berat, serak, atau kasar, bahkan terasa kurang stabil. Tingkat perubahan tidak selalu sama pada setiap orang; frekuensi penggunaan, kondisi saluran napas, serta kepekaan individu dapat ikut berperan.
Vaping juga dapat memicu batuk berulang pada sebagian orang. Setiap batuk menghasilkan tekanan dan benturan udara yang kuat di sekitar pita suara. Jika terjadi terus-menerus, beban mekanis tersebut dapat menambah iritasi dan membuat suara lebih mudah lelah atau serak. Perubahan yang tampak ringan mungkin terasa lebih mengganggu bagi penyanyi, pembicara, guru, atau siapa pun yang mengandalkan suara untuk bekerja. Mereka menggunakan suara secara intensif dan mungkin lebih cepat menyadari perubahan pada nada, kejernihan, atau daya tahan suara. Namun, kaitan ini tidak berarti setiap pengguna vape pasti mengalami gangguan suara, dan gejala dapat memiliki penyebab lain. Suara serak yang menetap, semakin berat, atau disertai keluhan pernapasan sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan. Mengurangi atau menghentikan paparan vape dapat membantu menghindari iritasi lebih lanjut, tetapi evaluasi medis diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang tepat.Rokok elektronik sering dipandang sebagai pilihan yang lebih aman daripada rokok konvensional, tetapi anggapan tersebut tidak berarti vape bebas risiko. Cairan vape umumnya dapat mengandung nikotin, zat yang bersifat adiktif dan dapat membuat penggunanya sulit berhenti. Selain itu, uap yang dihasilkan sebenarnya berupa aerosol, bukan sekadar uap air. Aerosol ini dapat membawa partikel halus dan bahan kimia yang terhirup hingga jauh ke dalam paru-paru.
Paparan aerosol vape berpotensi mengiritasi saluran napas dan dikaitkan dengan berbagai gangguan pernapasan. Iritasi di area tenggorokan dan saluran napas dapat memengaruhi kenyamanan saat berbicara, meski dampaknya tidak sama pada setiap orang. Risiko juga dapat dipengaruhi oleh jenis perangkat, cairan yang digunakan, serta frekuensi pemakaian. Karena itu, penggunaan rokok elektronik sebaiknya tidak dianggap tanpa konsekuensi hanya karena tidak menghasilkan asap seperti pembakaran tembakau.
Meski sejumlah risiko telah menjadi perhatian, pemahaman mengenai dampak jangka panjang vaping masih terus berkembang. Rokok elektronik relatif lebih baru dibandingkan produk tembakau konvensional, sehingga penelitian mengenai akibat pemakaian selama bertahun-tahun masih berlangsung. Keterbatasan ini bukan bukti bahwa vape aman, melainkan alasan untuk berhati-hati dan tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah menggunakannya.
Perubahan suara, termasuk suara serak, juga tidak selalu disebabkan oleh vape. Infeksi, iritasi akibat lingkungan, penggunaan suara secara berlebihan, atau kondisi medis tertentu dapat menimbulkan keluhan serupa. Oleh sebab itu, penting untuk mempertimbangkan gejala lain dan lamanya perubahan suara, bukan langsung menyimpulkan penyebabnya. Mengurangi paparan iritan dan memberi waktu istirahat pada suara dapat membantu, tetapi langkah tersebut tidak menggantikan pemeriksaan bila keluhan menetap.
Jika suara serak atau perubahan suara berlangsung lebih dari satu minggu sebaiknya periksakan diri ke dokter agar penyebabnya dapat dinilai dan penanganan yang.
Baca juga: Kondisi Karhutla di Palembang: Mencatat 406 Kejadian dan Dampaknya | Perubahan Layanan KRL: Penjelasan tentang Pengalihan Rangkaian











