Kabupaten Barito Kuala | Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan bahwa penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah tetap berlangsung setelah kecelakaan helikopter di Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Peristiwa tersebut tidak mengubah komitmen pemerintah untuk memadamkan kebakaran, sementara pelaksanaan operasi kini harus semakin memperhatikan aspek keselamatan. Penegasan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers daring yang diikuti di Jakarta pada Minggu (8/11).
Pesan BNPB menempatkan dua hal sebagai perhatian bersama: upaya penanganan karhutla tetap dilanjutkan, dan keselamatan harus menjadi bagian penting dari setiap pelaksanaannya. Dengan demikian, kecelakaan helikopter tidak menjadi alasan untuk menghentikan penanganan kebakaran di wilayah-wilayah yang terdampak. Pemerintah tetap berkomitmen menjalankan upaya pemadaman, sembari memperketat perhatian terhadap keselamatan dalam kegiatan tersebut.
Pernyataan Berton menegaskan bahwa keberlanjutan operasi dan kewaspadaan keselamatan perlu berjalan beriringan. Penanganan karhutla tetap menjadi agenda yang dilaksanakan, namun pendekatan di lapangan harus memberi perhatian lebih besar terhadap risiko bagi pihak-pihak yang terlibat. Penegasan itu disampaikan menyusul kecelakaan helikopter di Sungai Barito, tanpa mengubah arah komitmen pemerintah dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan.
Dengan sikap tersebut, BNPB menyampaikan bahwa upaya pemadaman tidak berhenti, tetapi pelaksanaannya harus dilakukan dengan pengawasan keselamatan yang lebih ketat. Fokus penanganan tetap pada kebakaran di sejumlah daerah, sementara keselamatan menjadi pertimbangan yang semakin ditekankan. Keterangan dalam konferensi pers itu memperjelas bahwa pemerintah melanjutkan penanganan karhutla dan pada saat yang sama meningkatkan perhatian terhadap aspek keselamatan, sesuai dengan penegasan Berton SP Panjaitan.
Helikopter jenis Super Puma H-225 dengan nomor registrasi VH-HGM diduga jatuh di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, pada Minggu (8/11). Informasi mengenai dugaan kecelakaan tersebut menjadi perhatian dalam pelaksanaan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah terkait. Hingga informasi yang disampaikan, penyebab insiden belum dipastikan. Karena itu, dugaan jatuhnya helikopter perlu diberitakan secara hati-hati, tanpa menyimpulkan faktor penyebab ataupun menggambarkan kondisi kejadian melebihi keterangan yang tersedia. Kepastian mengenai insiden harus menunggu informasi resmi lebih lanjut.
Peristiwa tersebut menjadi latar bagi penegasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahwa operasi pemadaman karhutla tetap dilanjutkan. Di saat yang sama, aspek keselamatan dalam setiap kegiatan penanganan bencana perlu mendapat perhatian lebih ketat. Operasi udara dapat menjadi bagian dari upaya pemadaman, sehingga pelaksanaannya menuntut koordinasi dan kehati-hatian. Namun, informasi yang ada tidak menyebutkan bahwa helikopter tersebut sedang menjalankan misi pemadaman saat insiden terjadi. Pembedaan ini penting agar laporan tidak mengaitkan kecelakaan dengan operasi tertentu tanpa dasar yang telah dikonfirmasi.
Dengan demikian, dua hal perlu dicermati secara bersamaan: penanganan karhutla harus berlanjut, sementara perlindungan keselamatan personel dan pelaksanaan operasi perlu diperkuat. Penegasan BNPB mencerminkan perlunya menjaga kesinambungan upaya pengendalian kebakaran tanpa mengabaikan risiko dalam kegiatan di lapangan maupun di udara. Informasi mengenai helikopter Super Puma H-225 VH-HGM masih perlu ditempatkan sebagai dugaan jatuh di Sungai Barito, bukan sebagai kejadian dengan penyebab yang sudah diketahui. Perkembangan berikutnya, termasuk kepastian mengenai peristiwa tersebut, sebaiknya merujuk pada keterangan resmi dari pihak berwenang. Sikap ini menjaga pemberitaan tetap akurat dan tidak mendahului proses penelusuran fakta.
BNPB menyampaikan bahwa helikopter yang jatuh saat mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan membawa tiga awak. Dari jumlah tersebut, dua orang telah ditemukan dalam keadaan selamat dan memperoleh penanganan medis. BNPB mengidentifikasi keduanya sebagai pilot berkewarganegaraan Australia. Informasi ini menjadi bagian dari perkembangan penanganan insiden yang disampaikan lembaga tersebut, sementara upaya di lokasi terus diarahkan pada kebutuhan para awak dan pengamanan area kejadian.
Satu awak lainnya masih dinyatakan hilang dan sedang dicari. Ia adalah Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia yang bertugas sebagai Helicopter Landing Officer (HLO). BNPB belum menyampaikan informasi bahwa awak tersebut telah ditemukan, sehingga statusnya tetap dilaporkan hilang dalam keterangan yang tersedia. Pencarian terhadap Yayan menjadi salah satu prioritas utama tim di lapangan. Perkembangan mengenai upaya pencarian dan kondisi awak lainnya perlu merujuk pada pembaruan resmi agar tidak muncul kesimpulan yang melampaui informasi yang telah disampaikan.
Selain pencarian, prioritas BNPB mencakup pemulihan kesehatan kedua pilot yang selamat. Keduanya telah menerima penanganan medis, dan perhatian diarahkan pada proses pemulihan mereka. BNPB juga menyebut pengamanan bangkai helikopter sebagai bagian dari langkah penanganan di lokasi. Bangkai tersebut berada di tepian sungai, sehingga area di sekitarnya perlu diamankan selama kegiatan berlangsung. Ketiga hal itu—mencari awak yang hilang, mendukung pemulihan pilot, serta mengamankan bangkai helikopter—menjadi fokus yang berjalan dalam penanganan insiden ini.
Perkembangan ini berlangsung ketika BNPB tetap melanjutkan pemadaman karhutla, dengan keselamatan sebagai perhatian penting setelah kecelakaan helikopter. Informasi yang disampaikan sejauh ini membedakan secara jelas kondisi dua pilot yang ditemukan selamat dan status Yayan yang masih dalam pencarian. Untuk saat ini, tidak ada dasar dalam keterangan tersebut untuk memastikan hasil pencarian atau perubahan kondisi para awak. Karena itu, pelaporan mengenai kejadian ini perlu mempertahankan batas informasi resmi: dua pilot Australia selamat dan telah mendapat penanganan medis, sedangkan HLO Yayan Supyansuri, warga negara Indonesia, belum ditemukan dan masih dicari. Upaya pengamanan bangkai helikopter di tepi sungai juga tetap menjadi bagian dari prioritas BNPB di lokasi.Upaya pencarian setelah helikopter jatuh dilakukan dengan melibatkan sejumlah unsur di lapangan. Basarnas Kantor SAR Banjarmasin memberangkatkan 18 personel penyelamat pada pukul 13.10 WITA untuk mendukung operasi pencarian. Personel tersebut dikerahkan guna membantu penanganan di lokasi serta menyisir area yang menjadi fokus pencarian. Kondisi medan dan akses menuju lokasi menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan tugas, sehingga koordinasi antarpihak diperlukan agar upaya dapat berlangsung terarah dan aman.
Operasi ini juga melibatkan TNI AU, Polri, Babinsa, serta masyarakat setempat. Keterlibatan berbagai unsur diharapkan memperkuat jangkauan pencarian dan mempercepat penyampaian informasi dari lapangan. Masing-masing pihak mendukung sesuai kapasitas dan tugasnya, termasuk membantu koordinasi serta mengenali kondisi wilayah sekitar. Peran warga setempat penting karena pengetahuan mereka mengenai akses dan karakteristik lingkungan dapat membantu tim menentukan langkah pencarian. Seluruh kegiatan tetap perlu mengutamakan keselamatan personel yang bertugas.
Di samping mendukung pencarian, BNPB berencana memfasilitasi investigasi resmi oleh pihak berwenang. Penyelidikan tersebut diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan berdasarkan pemeriksaan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. BNPB menekankan pentingnya menunggu hasil proses resmi, sehingga informasi yang beredar tidak berkembang menjadi spekulasi. Keterangan mengenai kronologi maupun faktor penyebab sebaiknya disampaikan setelah otoritas terkait menyelesaikan pemeriksaan. Pendekatan ini membantu menjaga akurasi informasi sekaligus menghormati proses investigasi.
BNPB juga menyiapkan evaluasi menyeluruh terhadap keselamatan operasi udara, terutama dalam kegiatan pemadaman karhutla. Evaluasi akan mencakup kesiapan teknis armada, prosedur pengambilan air untuk water bombing, serta kelaikan awak pesawat. Faktor cuaca dan karakteristik lokasi operasi turut menjadi bagian penting yang perlu ditelaah. Pemeriksaan terhadap seluruh aspek tersebut diharapkan menghasilkan pemahaman yang lebih lengkap mengenai risiko dan langkah pengendaliannya. Hasil evaluasi dapat menjadi dasar untuk memperkuat prosedur, memastikan kesiapan sebelum penerbangan, dan meningkatkan perlindungan bagi awak maupun tim di lapangan.
Baca juga: AirNav-Telkom University kembangkan AI untuk keselamatan penerbangan | BPOM: Inovasi Farmasi Boleh Canggih, Tapi Keselamatan Pasien Nomor 1 | Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Penerbangan di Palembang
113 kunjungan











