banner 728x250

Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Penerbangan di Palembang

Kabut Asap Karhutla Ganggu Aktivitas dan Penerbangan di Palembang
banner 120x600
banner 468x60

PALEMBANG, SUMATERA SELATAN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti Kota Palembang pada Kamis sore, 8 Oktober 2026. Asap tersebut telah terlihat sejak pagi dan semakin terasa mengganggu aktivitas warga. Udara di sejumlah kawasan tampak berkabut, sementara suasana di luar ruangan menjadi kurang nyaman bagi masyarakat yang harus bepergian atau menjalankan kegiatan sehari-hari.

Kondisi tersebut turut berdampak pada jarak pandang. Di wilayah Palembang, jarak pandang sempat turun hingga sekitar 400 meter akibat pekatnya kabut asap. Penurunan jarak pandang ini membuat pengguna jalan perlu lebih berhati-hati, terutama ketika melintas di ruas yang ramai atau melakukan perjalanan pada waktu sore.

banner 325x300

Di sejumlah jalan, sebagian warga terlihat mengenakan masker untuk mengurangi paparan asap saat berada di luar ruangan. Namun, sebagian lainnya tetap beraktivitas tanpa menggunakan masker, baik ketika berkendara maupun ketika melakukan kegiatan di sekitar tempat tinggal dan pusat aktivitas masyarakat.

Kabut asap yang bertahan hingga sore hari menunjukkan bahwa gangguan akibat kebakaran hutan dan lahan masih dirasakan secara langsung oleh warga Palembang. Selain mengurangi kenyamanan, kondisi ini juga membuat aktivitas luar ruangan perlu dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi. Kualitas udara di sejumlah wilayah perlu diwaspadai karena telah masuk kategori berbahaya. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu memperhatikan kondisi sekitar, khususnya ketika asap semakin pekat dan jarak pandang kembali menurun.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut mengganggu aktivitas penerbangan di Palembang. Kondisi atmosfer yang dipenuhi partikel asap menurunkan jarak pandang di sekitar Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Bagi operasional penerbangan, jarak pandang merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keamanan proses lepas landas dan pendaratan. Ketika pandangan pilot dan petugas pengatur lalu lintas udara terbatas, jadwal penerbangan dapat disesuaikan untuk mengurangi risiko.

Minimnya jarak pandang menyebabkan sejumlah penerbangan menuju bandara tersebut mengalami penundaan. Penyesuaian jadwal dilakukan sebagai langkah keselamatan, bukan semata-mata akibat kendala teknis pada pesawat atau fasilitas bandara. Pesawat yang akan mendarat perlu menunggu hingga kondisi visual dan atmosfer memenuhi batas operasional yang ditetapkan. Demikian pula, penerbangan yang akan berangkat dapat ditahan sementara apabila situasi di sekitar landasan belum mendukung pergerakan yang aman.

Pada Rabu, 7 Oktober 2026, tercatat tiga penerbangan sipil mengalami gangguan pada jadwal keberangkatan dan kedatangan di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Gangguan tersebut mencerminkan dampak langsung kualitas udara yang buruk terhadap konektivitas udara di Palembang. Meskipun penundaan dapat memengaruhi rencana perjalanan penumpang, keputusan untuk mengatur ulang jadwal diperlukan agar setiap tahapan penerbangan berlangsung dengan tingkat keselamatan yang memadai.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada kesehatan masyarakat dan kegiatan di darat. Ketika asap menyelimuti kawasan bandara, mobilitas antarkota melalui udara ikut terdampak. Penumpang perlu memperhatikan informasi terbaru dari pengelola bandara dan pihak terkait sebelum menuju lokasi, karena perubahan kondisi jarak pandang dapat memengaruhi jadwal penerbangan secara dinamis. Pemantauan atmosfer tetap menjadi dasar penting bagi pengambilan keputusan operasional selama kabut asap masih bertahan.

Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan masih berlangsung hingga Rabu, 7 Oktober 2026. Berdasarkan data pemantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdeteksi 354 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Angka tersebut menunjukkan adanya indikasi kuat sumber panas yang perlu segera diverifikasi dan ditangani, terutama di wilayah yang memiliki tutupan lahan kering serta rentan terhadap penyebaran api.

Selain titik panas, petugas mencatat 92 titik api yang masih membakar lahan dengan total luas mencapai 390,61 hektare. Data ini menggambarkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemantauan dari udara, tetapi juga mencakup upaya pemadaman di lokasi yang teridentifikasi mengalami kebakaran. Luas lahan terdampak dapat berubah seiring perkembangan api, kondisi cuaca, dan hasil verifikasi lapangan oleh tim gabungan.

Pembaruan pemantauan satelit NOAA20 dalam kurun waktu 24 jam turut menunjukkan 49 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi. Dari jumlah tersebut, 45 titik berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir, sedangkan empat titik lainnya terpantau di Kabupaten Muara Enim. Konsentrasi titik panas di Ogan Komering Ilir menjadi perhatian karena wilayah itu memiliki area lahan yang luas dan berpotensi mengalami kebakaran berulang ketika kondisi cuaca mendukung.

Risiko kebakaran semakin tinggi karena sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berada dalam kategori sangat mudah terbakar berdasarkan tingkat kemudahan terbakar pada lapisan atas permukaan tanah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa vegetasi dan material organik di permukaan relatif cepat mengering, sehingga api lebih mudah muncul dan meluas. Pemantauan titik panas, pemeriksaan lapangan, serta respons pemadaman yang cepat diperlukan untuk membatasi luas lahan terbakar dan mencegah dampak karhutla meluas ke kawasan permukiman maupun jalur transportasi.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono, meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang pada Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam peninjauan tersebut, pemerintah menyampaikan bahwa operasi modifikasi cuaca dan pengerahan water bombing telah dikoordinasikan sebagai bagian dari respons terhadap kebakaran serta kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan penerbangan.

Selain penanganan darurat, pemerintah menekankan pentingnya langkah pencegahan, terutama di lahan gambut yang mengalami kekeringan. Dalam rapat koordinasi yang melibatkan 43 perusahaan swasta pemegang konsesi di wilayah 1 yang memiliki titik kebakaran, Diaz mendorong peningkatan ketersediaan air tanah melalui pembangunan sekat kanal. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat menjaga kelembapan gambut dan mengurangi risiko api meluas.

Untuk kanal yang kekurangan air, air dari sungai di sekitar wilayah konsesi akan dialirkan ke kanal yang berada di area rawan kebakaran. Penyaluran dilakukan menggunakan intake dan pompa sentrifugal agar pasokan air dapat menjangkau lokasi yang membutuhkan. Langkah ini disampaikan Diaz dalam keterangan resmi yang dikutip pada Jumat, 9 Oktober 2026, sekaligus menjadi bentuk koordinasi pemerintah dan pemegang konsesi.

Namun, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca belum dilakukan karena belum terdapat potensi pertumbuhan awan hujan yang memadai. Kondisi atmosfer tersebut membuat penyemaian awan belum dapat dilaksanakan secara efektif. Pemerintah tetap memantau perkembangan cuaca dan titik panas untuk menentukan tindakan lanjutan yang sesuai.

Di tengah kondisi kabut asap, warga diimbau memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan. Pengendara juga diminta berhati-hati karena jarak pandang dapat berkurang. Kecepatan kendaraan perlu dikurangi, lampu dinyalakan sesuai kebutuhan, dan perjalanan sebaiknya ditunda apabila asap semakin tebal atau kondisi jalan sulit terlihat.

banner 325x300