banner 728x250

Cabai dan Beras Jadi Sorotan BI di Tengah Tekanan Inflasi Pangan

Cabai dan Beras Jadi Sorotan BI di Tengah Tekanan Inflasi Pangan
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyoroti kenaikan harga cabai sebagai salah satu faktor yang mendorong inflasi pangan. Pergerakan harga komoditas tersebut dapat memberi tekanan pada pengeluaran rumah tangga, terutama ketika pasokan tidak cukup untuk memenuhi permintaan. Karena itu, perkembangan harga cabai menjadi perhatian dalam upaya menjaga kestabilan harga kebutuhan pokok. Tekanan pada sejumlah bahan pangan juga menunjukkan bahwa kondisi inflasi tidak selalu dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat.

Dalam konteks inflasi secara keseluruhan, indikator nasional masih berada di dalam sasaran tahunan yang ditetapkan, yakni 1,5–3,5%. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan sebesar 3,28%, sementara inflasi tahun kalender mencapai 2,17%. Angka tersebut menunjukkan bahwa inflasi umum masih terkendali dalam rentang sasaran. Namun, capaian agregat itu perlu dibaca bersama perkembangan kelompok komoditas yang harganya lebih mudah berubah, khususnya pangan.

banner 325x300

Pada September 2026, inflasi komponen harga bergejolak tercatat sebesar 5,03% secara tahunan. Angka ini berada di atas sasaran inflasi umum dan memperlihatkan kuatnya tekanan pada komoditas yang harganya dapat berubah mengikuti pasokan, musim, serta kondisi distribusi. Cabai menjadi salah satu contoh bahan pangan yang pergerakan harganya dapat cepat memengaruhi belanja harian. Dengan demikian, inflasi umum yang terkendali belum berarti tekanan harga pangan telah mereda sepenuhnya.

Destry menyampaikan perhatian tersebut dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin di Jakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026. Sorotan terhadap cabai dan komoditas pangan lainnya menegaskan pentingnya memantau perubahan harga secara rinci, bukan hanya melihat angka inflasi nasional. Stabilitas harga pangan tetap menjadi tantangan karena gejolak pada kelompok ini dapat memengaruhi daya beli dan persepsi masyarakat terhadap biaya hidup. Data inflasi memberi gambaran bahwa sasaran umum masih terjaga, tetapi kebutuhan untuk mencermati pasokan dan harga pangan tetap besar. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada kemampuan menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan komoditas, tanpa mengabaikan variasi harga antardaerah. Dengan perhatian tersebut, pengendalian inflasi dapat diarahkan sekaligus pada kestabilan agregat dan perlindungan konsumen dari kenaikan harga pangan yang tajam.

Dalam penjelasannya mengenai inflasi pangan pada September 2026, Destry menyebut sejumlah komoditas yang memberi andil terhadap kenaikan harga. Komoditas tersebut meliputi daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi. Daftar ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi tidak hanya datang dari satu jenis bahan pangan. Namun, beras menjadi perhatian tersendiri karena upaya menurunkan harganya masih menghadapi tantangan, meskipun stok yang tersedia disebut berada pada tingkat tinggi. Keterangan mengenai pasokan itu penting untuk memahami bahwa persoalan harga tidak serta-merta berarti jumlah beras di dalam negeri tidak mencukupi. Destry menilai titik persoalan utama ada pada distribusi, bukan pada ketersediaan stok. Karena itu, pembahasan mengenai harga beras perlu melihat bagaimana pasokan yang tercatat dapat tersalurkan, sembari tetap berpegang pada keterangan yang telah disampaikan.

Destry menyampaikan bahwa stok beras mencapai 4,9 juta ton. Ia menyebut jumlah tersebut sebagai yang tertinggi. Angka itu memperlihatkan besarnya persediaan beras yang tersedia menurut keterangannya, tetapi belum dengan sendirinya menjelaskan mengapa harga masih menjadi tantangan. Dalam pandangannya, melimpahnya stok belum cukup untuk memastikan harga turun apabila distribusi masih menjadi persoalan. Dengan demikian, informasi mengenai jumlah persediaan dan perkembangan harga perlu dibaca sebagai dua hal yang berkaitan, tetapi tidak identik. Stok yang tinggi menggambarkan ketersediaan, sedangkan distribusi menjadi aspek yang dinilai menentukan agar pasokan dapat menjangkau kebutuhan. Pernyataan tersebut menempatkan perhatian pada jalur penyaluran beras, tanpa mengubah fakta bahwa persediaan yang disebutkan Destry berada pada angka 4,9 juta ton dan merupakan yang tertinggi.

Kemungkinan adanya kendala distribusi karena itu perlu mendapat perhatian dalam menilai tekanan harga beras. Perhatian tersebut sejalan dengan penekanan Destry bahwa tantangan utamanya bukan ketersediaan stok. Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci bentuk kendala, lokasi, ataupun penyebab tertentu, sehingga hal-hal itu tidak dapat dipastikan dari pernyataannya. Yang dapat dicatat ialah adanya jarak stok tinggi dan tantangan menurunkan harga, dengan distribusi disebut sebagai pokok persoalan. Di tengah kontribusi daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi terhadap inflasi September 2026, pemantauan distribusi beras menjadi bagian penting dari pembacaan kondisi pangan. Angka persediaan memberi konteks, sementara perhatian terhadap penyalurannya dapat membantu menjelaskan tantangan harga tanpa menyimpulkan rincian yang belum disampaikan oleh Destry.

Kenaikan harga cabai menjadi salah satu perhatian Destry ketika tekanan inflasi pangan kembali disorot. Cabai rawit secara khusus termasuk komoditas yang turut menyumbang inflasi, sehingga pergerakan harganya dapat terasa langsung oleh masyarakat. Bahan pangan ini digunakan dalam banyak hidangan sehari-hari, sementara pasokannya dan harganya dapat berubah. Karena itu, lonjakan harga cabai bukan sekadar perubahan pada satu komoditas, melainkan juga persoalan yang memengaruhi pengeluaran rumah tangga dan dinamika inflasi pangan secara lebih luas.

Untuk menggambarkan besarnya kenaikan, Destry menyampaikan perbandingan bahwa harga satu kilogram cabai kini disebut sudah seperti harga satu kilogram daging sapi. Pernyataan tersebut menekankan betapa tinggi harga cabai dalam pandangan masyarakat, bukan menyatakan bahwa kedua komoditas memiliki harga yang selalu sama dalam setiap kondisi. Perbandingan itu juga tidak merujuk pada nominal tertentu. Intinya, cabai yang biasanya dipandang sebagai bahan pelengkap telah menjadi belanja yang terasa mahal ketika harganya meningkat tajam.

Perhatian terhadap cabai rawit penting karena perubahan harga komoditas pangan dapat menambah tekanan inflasi, terutama apabila kenaikannya terjadi ketika kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi. Bagi konsumen, harga yang tinggi dapat mendorong penyesuaian belanja, seperti mengurangi jumlah pembelian atau mencari pilihan bahan lain. Namun, cabai merupakan kebutuhan yang lazim digunakan dalam masakan, sehingga perubahan harganya mudah dirasakan. Gambaran yang disampaikan Destry menunjukkan mengapa perkembangan harga cabai perlu dicermati bersama komoditas pangan lain, termasuk beras, dalam memantau tekanan biaya hidup dan inflasi.

Persoalan cabai, beras, dan komoditas pangan lain yang mendorong inflasi tidak dapat ditangani oleh Bank Indonesia (BI) seorang diri. Sebab, tekanan harga pangan lain berakar pada kondisi pasokan, sedangkan peran BI dalam pengendalian inflasi terutama bekerja melalui sisi permintaan. Perbedaan sumber persoalan dan instrumen penanganan ini membuat upaya stabilisasi memerlukan keterlibatan berbagai pihak, sesuai kewenangan masing-masing.

Destry menjelaskan bahwa inflasi pangan memiliki karakter yang berbeda dari tekanan harga yang dapat diatasi hanya dengan pengelolaan permintaan. Ketika pasokan menjadi sumber tekanan, pengendalian melalui kebijakan BI saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan yang mendasarinya. Ketersediaan komoditas dan faktor-faktor yang memengaruhi pasokan perlu menjadi perhatian lembaga terkait. Dengan demikian, respons terhadap kenaikan harga pangan perlu melihat penyebabnya secara menyeluruh, bukan semata-mata mengandalkan satu instrumen kebijakan.

Atas dasar itu, diperlukan koordinasi atau orkestrasi BI dan kementerian serta lembaga yang berkaitan dengan urusan pangan. Kerja bersama dibutuhkan agar penanganan inflasi dapat mencakup sisi permintaan maupun sisi pasokan. BI dapat menjalankan perannya dalam menjaga stabilitas dari sisi permintaan, sementara lembaga lain berperan sesuai bidang dan tanggung jawabnya dalam menghadapi persoalan pasokan. Pendekatan lintas lembaga tersebut menjadi penting terutama ketika kenaikan harga komoditas pangan memberi tekanan terhadap inflasi.

Destry mengatakan bahwa penjelasan mengenai perlunya penanganan bersama tersebut juga telah disampaikan kepada Presiden.

Baca juga: Rupiah Hadapi Tekanan di Tengah Kebijakan Moneter The Fed | Prospek IHSG di Tengah Tekanan Pasar | Kenaikan Harga Cabai di Tigaraksa: Dampak El Nino Terhadap Sektor Pangan

banner 325x300