Jakarta | Program Kembangs yang dijalankan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) mengajak nasabah PNM Mekaar memulai pengelolaan sampah dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: dapur rumah. Melalui kebiasaan memilah sampah rumah tangga, para ibu dapat membedakan material yang masih bisa dimanfaatkan dari sampah yang perlu ditangani secara berbeda. Kembangs merupakan singkatan dari Kelompok Membina dan Mengelola Sampah, sebuah pendekatan yang menghubungkan pembinaan kelompok dengan praktik pengelolaan sampah secara teratur.
Gagasan dasarnya sederhana, tetapi bermakna bagi keluarga. Sampah tidak harus langsung dibuang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Dengan pemilahan yang tepat dan penanganan lanjutan, sebagian hasilnya dapat memiliki nilai ekonomi. Kebiasaan ini membantu nasabah melihat hubungan kepedulian terhadap lingkungan dan pengelolaan keuangan rumah tangga. Bahan yang sebelumnya bercampur dan sulit dimanfaatkan dapat dikumpulkan sesuai jenisnya, sehingga lebih mudah dikelola melalui kegiatan kelompok.
Dalam kerangka Kembangs, hasil pengelolaan tersebut dapat berkontribusi sebagai tabungan atau tambahan modal bagi para ibu. Artinya, aktivitas yang berawal dari dapur berpotensi mendukung kebutuhan ekonomi keluarga, sekaligus menumbuhkan kebiasaan memilah dan bertanggung jawab atas sampah. Pendekatan ini tidak menjanjikan bahwa setiap jenis sampah selalu memiliki nilai yang sama; nilai bergantung pada bahan dan cara pengelolaannya. Namun, pesan pentingnya adalah bahwa sampah yang kerap dianggap tidak bernilai dapat memperoleh manfaat ketika dikelola dengan lebih cermat. Melalui kerja bersama dan pembinaan, nasabah PNM Mekaar didorong untuk menjadikan pengelolaan sampah bagian dari rutinitas, bukan kegiatan sesaat. Dengan demikian, Kembangs menghubungkan praktik sederhana di rumah dengan peluang membangun kebiasaan menabung dan memperkuat modal secara bertahap, sambil menjaga lingkungan sekitar tetap lebih tertata.
Proses pengelolaan dimulai dari rumah tangga. Ibu nasabah Mekaar membangun kebiasaan memilah sampah sebelum sampah tersebut disalurkan lebih lanjut. Pemilahan di rumah menjadi langkah awal yang penting karena menempatkan pengelolaan sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari, bukan hanya urusan setelah sampah keluar dari lingkungan keluarga. Dengan membiasakan diri memisahkan sampah, anggota keluarga dapat ikut memahami bahwa barang yang tidak lagi digunakan masih dapat dikelola melalui suatu alur bersama. Kebiasaan ini juga membantu rumah tangga berpartisipasi secara teratur dalam program, sesuai dengan peran masing-masing. Pada tahap ini, perhatian utamanya adalah memulai pemilahan di sumbernya, yakni di rumah, sehingga proses berikutnya dapat berlangsung melalui jaringan pengelolaan yang telah disiapkan.
Setelah dipilah, sampah disalurkan ke bank sampah unit. Unit ini dikelola oleh sesama nasabah, sehingga para peserta tidak hanya menjadi pihak yang menyerahkan sampah, tetapi juga terlibat dalam pengelolaan bersama. Peran pengelola dari kalangan nasabah mendukung terbentuknya tanggung jawab kolektif dan mendorong kebiasaan memilah agar terus berjalan. Bank sampah unit menjadi penghubung kegiatan rumah tangga dan tahap pengelolaan berikutnya. Dari unit tersebut, sampah kemudian diteruskan ke bank sampah induk. Alur berjenjang ini memperjelas bahwa program tidak berhenti pada pemilahan individual. Sampah bergerak dari rumah, dikelola melalui unit, lalu diteruskan ke tingkat induk sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung.
Hasil pengelolaan dalam alur tersebut dikonversi menjadi nilai simpanan atau tambahan permodalan. Dengan demikian, kegiatan memilah dan menyalurkan sampah memiliki kaitan langsung dengan manfaat ekonomi bagi peserta, tanpa mengubah tujuan dasarnya untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih tertata. Ekosistem PNM Mekaar dimanfaatkan untuk mendukung proses ini sekaligus menumbuhkan kebiasaan memilah sampah di tingkat rumah tangga. Keterlibatan nasabah, keberadaan bank sampah unit, dan hubungan dengan bank sampah induk membentuk rangkaian yang dapat dipahami secara runtut. Dimulai dari tindakan sederhana di rumah, sampah masuk ke jaringan pengelolaan bersama dan hasilnya kembali bernilai bagi peserta sebagai simpanan atau dukungan permodalan.
Dalam gerakan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, nasabah perempuan Mekaar dapat berperan lebih jauh daripada memilah sampah di rumah. Mereka juga berkesempatan mengambil peran kepemimpinan dalam bank sampah unit, mulai dari membantu mengatur kegiatan hingga mendorong partisipasi warga. Pengalaman sehari-hari dalam mengelola kebutuhan keluarga dapat menjadi bekal untuk mengajak tetangga membiasakan pemilahan sampah secara konsisten. Dengan demikian, kebiasaan yang dimulai dari dapur dapat berkembang menjadi gerakan bersama di lingkungan tempat tinggal.
Keterlibatan tersebut sejalan dengan tiga pijakan pemberdayaan PNM, yaitu penguatan peran perempuan, dukungan terhadap ekonomi keluarga, dan kepedulian terhadap lingkungan. Ketiganya dapat berjalan beriringan ketika perempuan memperoleh ruang untuk memimpin kegiatan, keluarga merasakan manfaat dari pengelolaan sampah, dan warga semakin memahami pentingnya menjaga lingkungan. Bank sampah unit menjadi wadah yang menghubungkan tindakan sederhana di rumah dengan kerja sama masyarakat. Nasabah dapat berbagi pengetahuan, membangun kebiasaan memilah, serta mengajak warga lain ikut menjaga agar sampah terpilah dan dikelola dengan lebih baik.
Direktur Utama PNM, Kindaris, memandang bahwa pemberdayaan dapat berawal dari kegiatan sederhana yang dekat dengan keseharian masyarakat. Melalui Kembangs, sampah dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Pandangan ini menempatkan kegiatan rumah tangga bukan sebagai urusan kecil, melainkan sebagai titik awal perubahan yang dapat dilakukan dan dikembangkan bersama. Ketika nasabah perempuan terlibat aktif, mereka dapat menjadi penggerak yang memperluas praktik pemilahan di sekitarnya. Dampaknya tidak hanya terasa pada pengelolaan sampah, tetapi juga pada tumbuhnya peran perempuan dan kesadaran warga untuk menjaga lingkungan. Gerakan ini menunjukkan bahwa langkah praktis yang dilakukan secara rutin dapat menghubungkan pemberdayaan keluarga dengan kepedulian sosial dan lingkungan.
PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menerima ESG Now Awards 2026 dalam kategori Circular Economy Empowerment. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas upaya perusahaan dalam mendorong praktik ekonomi sirkular yang tidak hanya memperhatikan pengelolaan sumber daya, tetapi juga menghubungkannya dengan pemberdayaan masyarakat. Bagi kelompok ultra mikro, pendekatan tersebut membuka ruang untuk melihat kegiatan sehari-hari sebagai bagian dari peluang ekonomi dan perubahan sosial yang lebih luas.
Penghargaan diserahkan dalam acara ESG Now Movement 2026 bertema “Inspiring Impact”, yang diselenggarakan Republika di Hotel Borobudur Jakarta pada Senin, 19 Oktober. Momentum ini menempatkan isu keberlanjutan dan dampak sosial sebagai bagian penting dari pembahasan mengenai pembangunan. Apresiasi yang diterima PNM juga menyoroti hubungan ketahanan ekonomi warga, kepedulian terhadap lingkungan, dan dukungan yang konsisten bagi pelaku usaha ultra mikro.
Dalam keterangan yang disampaikan mengenai penghargaan tersebut, apresiasi diberikan atas pendekatan ekonomi sirkular PNM yang dinilai berdampak serta memperkuat sektor ultra mikro. Pengelolaan sampah dari lingkungan rumah tangga, termasuk kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna, dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kesadaran bersama. Ketika dilakukan secara teratur dan didukung pendampingan, praktik semacam ini berpotensi memberi nilai tambah sekaligus mendorong warga berperan aktif dalam menjaga lingkungan.
PNM memandang capaian ini sebagai dorongan untuk terus menghadirkan inovasi pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan warga. Penghargaan bukanlah titik akhir, melainkan pengingat bahwa program yang bermanfaat perlu tumbuh dari kondisi dan kebiasaan masyarakat. Dalam konteks gerakan ibu Mekaar mengelola sampah, perubahan dapat berawal dari tindakan kecil di rumah, lalu berkembang melalui kerja sama dan pendampingan yang berkelanjutan. Kebiasaan sederhana yang dilakukan dengan tekun dapat memberi manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Dengan menghubungkan kepedulian ekologis dengan penguatan ekonomi, upaya pemberdayaan dapat semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan membantu menciptakan dampak yang lebih luas.












