Surabaya | Kabar duka membayangi pertandingan PSS Sleman melawan Persebaya Surabaya pada lanjutan BRI Super League 2026/27. Empat suporter PSS dilaporkan meninggal dunia setelah rombongan yang hendak berangkat untuk mendukung tim secara langsung mengalami kecelakaan lalu lintas di Tol Madiun KM 616, jalur Tol Ngawi–Kertosono. Pertandingan tersebut dijadwalkan berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 18 Oktober.
Peristiwa ini menjadi kabar berat bagi keluarga para korban, komunitas suporter PSS, serta pihak-pihak yang mengikuti perjalanan tim dan pendukungnya. Kepergian empat suporter tersebut terjadi ketika mereka sedang menuju Surabaya untuk menyaksikan pertandingan. Informasi mengenai kecelakaan yang tersedia menyebut lokasi kejadian dan jumlah korban meninggal, tanpa rincian lebih lanjut mengenai penyebabnya.
Laga di Gelora Bung Tomo semestinya menjadi kesempatan bagi pendukung PSS untuk hadir langsung dan memberikan dukungan kepada tim dalam kompetisi. Namun, kabar kecelakaan di tengah perjalanan membuat pertandingan kali ini berlangsung dalam suasana yang berbeda. Perhatian pun tertuju pada kabar duka yang menimpa rombongan suporter, bukan hanya pada persiapan kedua kesebelasan menghadapi laga.
Empat suporter yang meninggal dunia menjadi bagian dari rombongan yang melakukan perjalanan untuk mendukung PSS Sleman. Keterangan mengenai peristiwa ini perlu disampaikan secara cermat, dengan berpegang pada informasi yang telah tersedia dan tidak menambahkan dugaan tentang bagaimana kecelakaan terjadi. Lokasi yang disebutkan adalah Tol Madiun KM 616 di jalur Tol Ngawi–Kertosono, sementara tujuan perjalanan rombongan adalah Surabaya.
Di tengah jadwal pertandingan PSS melawan Persebaya pada 18 Oktober, kabar kehilangan tersebut membawa duka bagi keluarga korban dan lingkungan suporter. Peristiwa ini mengingatkan bahwa perjalanan untuk menyaksikan pertandingan dapat menjadi bagian penting dari pengalaman mendukung sebuah tim, tetapi kabar duka seperti ini mengubah perhatian publik terhadap laga. Informasi mengenai empat korban meninggal menjadi pokok utama yang membayangi pertemuan kedua tim di Surabaya.
Di Gate 5 tribun Stadion Gelora Bung Tomo, sejumlah suporter PSS berkumpul untuk menyaksikan pertandingan melawan Persebaya di Surabaya. Kehadiran mereka tampak berbeda dari suasana umum stadion yang diisi dukungan bagi kedua tim. Sepanjang laga, kelompok pendukung Super Elang Jawa itu lebih banyak berada dalam keadaan diam. Mereka tidak terus-menerus menyanyikan chant atau meneriakkan dukungan, sehingga tribun tempat mereka berkumpul terlihat relatif hening. Pemandangan tersebut menjadi bagian yang menonjol dari suasana pertandingan, di tengah sorak-sorai yang terdengar dari bagian stadion lain. Gambaran itu merujuk pada perilaku yang terlihat selama laga, tanpa menyimpulkan alasan di balik sikap masing-masing suporter.
Sorakan dari kelompok tersebut hanya terdengar pada momen-momen tertentu yang berkaitan dengan jalannya pertandingan. Mereka sesekali bersorak ketika PSS, yang dikenal sebagai Super Elang Jawa, mencetak gol. Suara juga muncul ketika tim itu kebobolan. Di luar momen tersebut, para pendukung kembali diam dan menyaksikan pertandingan dari tribun. Dengan demikian, respons mereka tidak berlangsung terus sepanjang laga, melainkan muncul sesaat mengikuti peristiwa di lapangan. Suasana di Gate 5 pun berubah singkat ketika terjadi gol, sebelum kembali tenang. Tidak ada gambaran bahwa seluruh orang bereaksi dengan cara yang sama; yang terlihat adalah sorakan sesekali dari kelompok suporter PSS yang berkumpul di area tersebut.
Ajakan dari Bonek untuk bernyanyi bersama juga tidak diikuti oleh para pendukung PSS di Gate 5. Mereka tetap tidak bergabung dalam nyanyian tersebut, sementara sikap diam berlanjut sepanjang pertandingan. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kelompok suporter tamu itu memilih menyaksikan laga tanpa mengikuti ajakan bernyanyi dari pendukung tuan rumah. Uraian suasana di tribun terbatas pada hal-hal yang terekam: para suporter berkumpul, sebagian besar diam, sesekali bersorak ketika PSS mencetak gol ataupun kebobolan, dan tidak menyambut ajakan Bonek untuk bernyanyi bersama. Tanpa informasi tambahan, tidak tepat mengaitkan perilaku tersebut dengan motif atau perasaan tertentu. Yang dapat dicatat adalah suasana hening di Gate 5 menjadi salah satu potret pendukung PSS dalam laga kontra Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo.Setelah pertandingan berakhir, suporter PSS tidak menggelar perayaan secara berlebihan. Tidak ada suasana yang diarahkan untuk merayakan laga, sebab perhatian mereka tertuju pada duka yang menyertai pertandingan tersebut. Sikap itu terlihat ketika para pemain, pelatih, dan staf mendatangi sisi lapangan, lalu berhadapan langsung dengan para pendukung. Momen setelah peluit akhir pun berlangsung dengan nuansa yang berbeda dari perayaan biasa: sederhana, tertahan, dan diwarnai rasa kehilangan.
Di hadapan rombongan tim, suporter menyanyikan chant. Nyanyian itu menjadi cara mereka menyampaikan dukungan kepada para pemain sekaligus merespons kedatangan orang-orang yang terlibat di dalam tim. Tidak ada gambaran tentang pesta atau euforia yang mengambil alih suasana. Sebaliknya, para pendukung dan tim berada dalam satu ruang emosional, berbagi duka setelah pertandingan usai. Interaksi tersebut berlangsung di sisi lapangan dan menjadi bagian paling menonjol dari momen penutup laga.
Kedatangan pemain, pelatih, serta staf membuat pertemuan itu terasa sebagai komunikasi langsung tim dan suporternya. Para pemain tidak hanya meninggalkan lapangan begitu saja, sementara para pendukung juga tidak sekadar mengakhiri dukungan mereka dengan sorak-sorai. Chant yang dinyanyikan di depan tim hadir dalam suasana yang lebih tenang dan penuh makna. Sikap suporter yang tidak merayakan secara berlebihan memperlihatkan bahwa pada saat itu, ekspresi dukungan berjalan beriringan dengan rasa duka.
Momen tersebut menegaskan bahwa akhir pertandingan tidak selalu ditandai oleh perayaan, bahkan ketika para pendukung berkumpul bersama tim. Dalam pertemuan singkat di sisi lapangan itu, nyanyian suporter, kehadiran para pemain dan staf, serta suasana berbagi duka menjadi unsur utama. Tanpa perlu menambahkan gambaran lain, interaksi tersebut memperlihatkan kedekatan PSS dan para pendukungnya di tengah keadaan yang berat. Mereka menutup laga dengan saling hadir, bukan dengan perayaan besar.
Sesudah pertandingan PSS melawan Persebaya di Surabaya, perhatian tertuju pada reaksi pelatih PSS, Pieter Huistra, ketika ia membicarakan keadaan ruang ganti tim setelah menerima kabar kecelakaan yang menewaskan empat suporter. Dalam momen tersebut, Huistra tampak berkaca-kaca dan emosional. Ekspresi itu memperlihatkan beratnya suasana yang ia hadapi, ketika kabar duka hadir di tengah rangkaian pertandingan dan aktivitas tim. Responsnya menjadi gambaran bahwa peristiwa tersebut tidak hanya menyentuh para suporter dan keluarga korban, tetapi juga terasa dekat bagi orang-orang di lingkungan klub.
Huistra menjelaskan suasana ruang ganti setelah kabar itu diterima. Namun, rincian mengenai apa yang disampaikan di dalam ruang ganti, bagaimana kabar tersebut pertama kali sampai kepada tim, ataupun reaksi masing-masing pemain tidak tersedia dalam informasi yang menjadi dasar pemberitaan ini. Karena itu, hal-hal tersebut tidak dapat dipastikan. Yang dapat dicatat adalah bahwa pelatih PSS membahas kondisi ruang ganti dan menunjukkan emosi saat mengingat situasi tersebut. Sikapnya yang berkaca-kaca menjadi bagian paling terlihat dari tanggapan usai pertandingan, tanpa perlu menambahkan kutipan atau dugaan tentang isi penjelasannya.
Di tengah sorotan terhadap hasil laga, respons itu mengingatkan bahwa pertandingan berlangsung dalam suasana yang dibayangi kabar kehilangan. Empat suporter PSS meninggal akibat kecelakaan, dan kabar tersebut menyisakan duka bagi komunitas pendukung maupun tim.
Baca juga: Persebaya Siap Tingkatkan Ketajaman Melawan Garudayaksa FC | Kecelakaan Crane Timpa Tiang Listrik di Surabaya | Peluncuran MG ZS Hybrid di Surabaya: Perkenalan SUV Kompak Listrik












