Jakarta | Investasi Indonesia pada kuartal III 2026 mencapai Rp528,7 triliun, atau tumbuh 7,6 persen secara tahunan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa P. Roeslani, kepada Presiden Prabowo Subianto. Rosan memaparkan angka realisasi itu dalam konferensi pers, termasuk pembagian investasi berdasarkan sumber modal.
Dari total tersebut, penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp270,2 triliun, setara dengan 51,1 persen dari keseluruhan investasi. Sementara itu, penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp258,5 triliun atau 48,9 persen. Dengan demikian, kontribusi PMA sedikit lebih besar daripada PMDN, meskipun kedua sumber modal tersebut membentuk porsi yang relatif berimbang dalam total realisasi kuartal III.
Pertumbuhan tahunan sebesar 7,6 persen menunjukkan bahwa nilai investasi pada periode ini lebih tinggi daripada capaian kuartal III tahun sebelumnya. Perbandingan tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan realisasi investasi dari tahun ke tahun, sedangkan angka PMA dan PMDN memperlihatkan komposisi sumber pendanaan yang mendukung total capaian. Data yang disampaikan Rosan menjadi dasar untuk melihat kedua aspek itu secara bersamaan.
Dalam membaca angka tersebut, total Rp528,7 triliun merupakan akumulasi investasi yang direalisasikan selama kuartal III 2026, bukan nilai dari satu sumber modal saja. Rincian PMA dan PMDN menjelaskan bagaimana keseluruhan nilai itu terbagi menurut asal penanam modal. Persentase masing-masing pun merujuk pada bagian dari total realisasi kuartal tersebut: 51,1 persen berasal dari penanaman modal asing dan 48,9 persen dari penanaman modal dalam negeri.
Rosan menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam konferensi pers, sehingga angka pertumbuhan dan rincian sumber modal tersebut muncul sebagai bagian dari pemaparan resmi pemerintah. Informasi ini menempatkan capaian kuartal III dalam konteks yang jelas: investasi mencapai Rp528,7 triliun, meningkat secara tahunan, dan ditopang oleh PMA serta PMDN dengan kontribusi yang hampir seimbang. Angka-angka itu merangkum realisasi investasi Indonesia untuk periode tersebut.
Sebaran investasi pada kuartal III 2026 menunjukkan bahwa realisasi di luar Pulau Jawa sedikit lebih besar daripada yang tercatat di Pulau Jawa. Di luar Jawa, investasi mencapai Rp271,6 triliun, setara dengan 51,4 persen dari total nasional sebesar Rp528,7 triliun. Sementara itu, investasi di Jawa berjumlah Rp257,1 triliun, atau 48,6 persen dari keseluruhan. Perbandingan ini menempatkan wilayah di luar Jawa sebagai penyumbang nilai investasi terbesar pada periode tersebut. Selisihnya dengan Jawa mencapai Rp14,5 triliun, dan tercermin pula pada perbedaan porsi terhadap total, yakni 2,8 poin persentase. Kedua kawasan itu bersama-sama mencatatkan seluruh angka investasi yang dirinci berdasarkan wilayah dalam data kuartal tersebut.
Meski memiliki nilai investasi lebih rendah, Pulau Jawa mencatat laju pertumbuhan tahunan yang lebih tinggi. Realisasi di Jawa tumbuh 13,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, investasi di luar Jawa meningkat 2,2 persen secara tahunan. Dengan demikian, ukuran nilai dan kecepatan pertumbuhan menunjukkan gambaran yang berbeda: kawasan di luar Jawa berada di posisi teratas berdasarkan jumlah investasi, sedangkan Jawa mengalami kenaikan tahunan lebih cepat. Perbedaan tersebut penting dibaca secara terpisah agar besarnya nilai pada satu wilayah tidak disamakan dengan tingkat pertumbuhan yang dicapai wilayah lain.
Angka-angka tersebut menggambarkan distribusi investasi nasional pada satu kuartal, sekaligus memperlihatkan porsi masing-masing kawasan terhadap total realisasi. Lebih dari separuh investasi tercatat di luar Jawa, sementara hampir separuh lainnya berada di Jawa. Pada sisi perubahan tahunan, pertumbuhan Jawa melampaui pertumbuhan di luar Jawa dengan selisih 11,7 poin persentase. Data ini menyajikan dua indikator yang saling melengkapi, yaitu nilai investasi yang terealisasi dan perubahan dibandingkan tahun sebelumnya. Karena itu, pembacaan sebaran wilayah perlu memperhatikan keduanya: total terbesar berada di luar Jawa, tetapi laju pertumbuhan tertinggi tercatat di Jawa. Perbandingan ini merangkum perbedaan capaian wilayah tanpa menyimpulkan penyebab di balik angka tersebut.
Dalam catatan realisasi investasi provinsi pada kuartal III 2026, Jawa Barat menempati posisi pertama dengan nilai Rp91 triliun. Angka tersebut menjadikan provinsi ini wilayah dengan realisasi tertinggi di tiga daerah yang disebutkan. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, investasi di Jawa Barat tumbuh 17,2 persen. Dengan demikian, posisinya bukan hanya berada di urutan teratas berdasarkan nilai nominal, tetapi juga disertai kenaikan tahunan sebagaimana tercatat dalam data. Nilai dan laju pertumbuhan tersebut menunjukkan besaran capaian yang dilaporkan untuk periode kuartal III, tanpa mengubah urutan provinsi dalam daftar.
Jakarta berada di urutan kedua, dengan realisasi investasi sebesar Rp75,5 triliun. Nilai ini lebih rendah daripada capaian Jawa Barat, tetapi tetap menempatkan Jakarta sebagai provinsi dengan realisasi terbesar kedua dalam daftar tersebut. Secara tahunan, investasi di Jakarta meningkat 14,3 persen. Penyajian nilai dan persentase pertumbuhan ini memberikan gambaran yang dapat dibandingkan langsung dengan angka Jawa Barat: Jakarta mencatat nominal Rp75,5 triliun dan pertumbuhan 14,3 persen, sedangkan Jawa Barat mencatat Rp91 triliun dan pertumbuhan 17,2 persen. Keduanya merupakan dua posisi teratas berdasarkan nilai yang dilaporkan.
Posisi ketiga ditempati Sulawesi Tengah, dengan realisasi investasi Rp47,3 triliun. Angka itu berada di bawah capaian Jakarta dan Jawa Barat, sesuai urutan yang tercatat. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, investasi Sulawesi Tengah meningkat 8,9 persen. Rangkaian data tersebut memperlihatkan tiga nilai secara berurutan: Jawa Barat sebesar Rp91 triliun, Jakarta sebesar Rp75,5 triliun, dan Sulawesi Tengah sebesar Rp47,3 triliun. Masing-masing disertai pertumbuhan tahunan 17,2 persen, 14,3 persen, dan 8,9 persen. Urutan ini merangkum provinsi-provinsi dengan realisasi tertinggi yang disebutkan untuk kuartal III 2026, sekaligus membedakan nilai investasi dari persentase kenaikan tahunannya secara jelas.
Komposisi investasi Indonesia pada kuartal III 2026 menunjukkan bahwa industri logam menjadi sektor dengan nilai penanaman modal paling besar. Industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, mencatat investasi sebesar Rp118,8 triliun. Nilai tersebut menempatkan sektor ini di posisi teratas dibandingkan bidang usaha lainnya, sekaligus mencerminkan besarnya aliran modal ke kegiatan pengolahan dan produksi logam. Peran industri ini penting dalam rantai pasok manufaktur, termasuk sebagai penyedia bahan dan komponen bagi beragam kegiatan ekonomi.
Di urutan berikutnya, sektor jasa lainnya membukukan investasi Rp81,8 triliun. Cakupan sektor ini lain meliputi pusat data, yang mendukung kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan informasi seiring berkembangnya layanan digital. Besarnya nilai investasi tersebut memperlihatkan bahwa modal tidak hanya mengalir ke industri pengolahan, tetapi juga ke layanan yang menopang aktivitas bisnis dan infrastruktur digital. Sementara itu, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat investasi sebesar Rp51,7 triliun. Ketiga bidang tersebut berperan dalam menghubungkan kegiatan produksi, distribusi, komunikasi, dan pergerakan barang maupun orang.
Sektor pertambangan juga mencatat nilai yang cukup besar, yakni Rp38,7 triliun. Investasi di bidang ini berkaitan dengan kegiatan pengelolaan sumber daya mineral dan energi, yang menjadi bagian dari rantai pasok sejumlah industri. Adapun industri makanan memperoleh investasi Rp34,7 triliun.
Baca juga: Investasi Strategis untuk Keamanan Siber di Indonesia | Pengembangan Industri Cokelat di Kawasan Transmigrasi Papua | Tantangan Hukum Terhadap Iklim Investasi di Indonesia












