Jakarta | International Test Center (ITC) menyelenggarakan ITC Leadership Conclave 2026 sebagai ruang dialog bagi para pemimpin dan pemangku kepentingan untuk membahas perubahan yang membentuk organisasi masa kini. Memasuki penyelenggaraan ke-15, forum ini menghadirkan peserta dari sektor pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, dan industri. Keberagaman latar belakang tersebut membuka kesempatan untuk bertukar perspektif mengenai tantangan kepemimpinan yang dihadapi berbagai sektor, sekaligus mencari pendekatan yang relevan untuk merespons perubahan dengan lebih terarah.
Pembahasan berlangsung di tengah perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi cara kerja, pengambilan keputusan, dan kebutuhan kompetensi. Pada saat yang sama, meningkatnya ketidakpastian global menuntut organisasi agar mampu menyesuaikan strategi serta mempersiapkan sumber daya manusia menghadapi kondisi yang terus berubah. Karena itu, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan teknologi, tetapi juga dengan kemampuan memahami dampaknya terhadap manusia dan organisasi. Pemimpin perlu mempertimbangkan bagaimana perubahan teknologi dapat diintegrasikan dengan kapasitas tim, proses kerja, dan tujuan jangka panjang.
ITC Leadership Conclave 2026 mengusung tema “Durable Leadership, Lasting Impact: Optimizing the Integration of Resources, New Technologies, and Adaptive Human Skills”. Tema tersebut menekankan pentingnya kepemimpinan yang tangguh dan mampu menghasilkan dampak berkelanjutan, bukan sekadar merespons perubahan sesaat. Integrasi sumber daya, teknologi baru, dan keterampilan manusia yang adaptif menjadi perhatian utama dalam membangun kesiapan menghadapi tantangan mendatang. Ketiganya perlu dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi: teknologi dapat mendukung efektivitas, sumber daya perlu dikelola secara tepat, dan keterampilan manusia membantu organisasi belajar serta menyesuaikan diri.
Melalui forum lintas sektor ini, peserta diajak mencermati bagaimana pemimpin dapat menavigasi transformasi sumber daya manusia tanpa mengabaikan kebutuhan organisasi maupun kemampuan individu. Diskusi mengenai AI dan perubahan global menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman, berbagi pengalaman, serta menimbang langkah yang dapat diterapkan dalam konteks masing-masing. Dengan demikian, conclave ini menempatkan kepemimpinan adaptif sebagai bagian penting dari upaya menghubungkan inovasi teknologi dengan kesiapan manusia dan ketahanan organisasi dalam jangka panjang.
CEO ITC Jenny Lee menilai bahwa organisasi yang menghadapi pesatnya perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi tidak cukup hanya mengadopsi teknologi baru. Pemanfaatan teknologi perlu diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata, mulai dari peningkatan produktivitas hingga penguatan daya saing. Pada saat yang sama, organisasi perlu memastikan bahwa perubahan tersebut turut mengembangkan kapabilitas manusia secara berkelanjutan. Dengan demikian, transformasi digital tidak berhenti pada pembelian perangkat atau penerapan sistem, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat cara kerja dan kesiapan tenaga kerja menghadapi perubahan.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Rabu, Jenny menyampaikan bahwa pemimpin perlu melihat transformasi organisasi secara menyeluruh. Penerapan AI, menurut pandangan tersebut, harus berjalan seiring dengan pengelolaan sumber daya, pembaruan proses, dan inovasi teknologi. Organisasi perlu memahami bagaimana teknologi dapat melengkapi pekerjaan manusia, sekaligus menyiapkan karyawan agar mampu beradaptasi dengan tanggung jawab dan pola kerja yang berkembang. Pendekatan ini membantu perusahaan menghubungkan investasi teknologi dengan kebutuhan bisnis dan pengembangan kompetensi, sehingga perubahan dapat memberi nilai bagi organisasi maupun orang-orang di dalamnya.
Jenny juga menekankan pentingnya mengintegrasikan keterampilan manusia dengan sumber daya dan inovasi teknologi. Keterampilan itu mencakup kemampuan berpikir kritis untuk menilai informasi serta memahami persoalan, dan pengambilan keputusan etis ketika teknologi digunakan dalam pekerjaan. Adaptabilitas diperlukan agar individu dapat merespons perubahan, sementara resiliensi membantu mereka menghadapi tantangan dan ketidakpastian. Selain itu, pembelajaran berkelanjutan menjadi dasar untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan seiring kemajuan teknologi. Peran pemimpin adalah menyediakan arah dan lingkungan yang mendukung pengembangan kemampuan tersebut, bukan menganggap teknologi sebagai pengganti investasi pada manusia. Ketika organisasi menyeimbangkan keduanya, pemanfaatan AI dan otomatisasi berpeluang mendorong produktivitas sekaligus membangun kesiapan jangka panjang. Pesan tersebut menjadi salah satu dorongan bagi pemimpin untuk merancang transformasi dengan mempertimbangkan tujuan bisnis, dampak pada tenaga kerja, serta kemampuan organisasi beradaptasi.Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta periode 2014–2017, hadir sebagai pembicara utama dalam sesi “Leading with Purpose in an Environment of Complexity: Building Durable Leadership for a Challenging World” di ITC Leadership Conclave. Sesi ini membahas arti memimpin dengan tujuan yang jelas ketika lingkungan kerja semakin kompleks dan perubahan berlangsung cepat. Pembahasan menyoroti pentingnya keputusan strategis yang tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga menjaga ketangguhan organisasi dalam menghadapi tantangan. Bagi pemimpin, kejelasan arah menjadi dasar untuk menentukan prioritas, menyatukan tim, serta mempertahankan kepercayaan ketika kondisi di sekitar organisasi terus berubah.
Dalam konteks perkembangan kecerdasan buatan, Basuki mengingatkan bahwa AI berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja. Otomatisasi dan pemanfaatan teknologi dapat membuat sejumlah jenis pekerjaan mengalami perubahan, bahkan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja bagi pekerja yang kompetensinya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan baru. Namun, perkembangan tersebut tidak hanya membawa tantangan. Teknologi juga dapat membuka peluang dan jenis pekerjaan baru, sehingga organisasi serta tenaga kerja perlu mengantisipasi perubahan, bukan sekadar bereaksi setelah dampaknya terasa. Kesiapan menghadapi transisi menjadi penting agar manfaat teknologi dapat dimanfaatkan sekaligus risiko sosialnya dikelola secara lebih terarah.
Untuk merespons perubahan itu, pengembangan kompetensi perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pekerja perlu memperbarui keterampilan agar relevan dengan kebutuhan yang berkembang, sementara pemimpin perlu memahami kemampuan yang dibutuhkan organisasi pada masa mendatang. Basuki juga menekankan pentingnya membangun dan merawat jejaring, karena hubungan profesional dapat membantu membuka akses pada pengetahuan, kolaborasi, serta peluang baru. Di tengah tekanan dan ketidakpastian, ia mendorong pemimpin untuk rutin melakukan “kalibrasi diri”. Langkah ini membantu mereka memeriksa kembali arah, nilai, dan cara mengambil keputusan, sehingga tetap berpegang pada kompas etika di tengah godaan, perubahan, dan kompleksitas kepemimpinan.
Dalam sesi Executalk di ITC Leadership Conclave, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, membahas cara membangun organisasi yang tetap kompetitif di tengah perubahan yang berlangsung terus-menerus. Sesi bertajuk “Building Competitive Organizations in the World of Continuous Transformation: Integrating Human Capability, Technology, and Business” menempatkan kapabilitas manusia, teknologi, dan bisnis sebagai unsur yang saling terkait. Pembahasan ini menegaskan bahwa transformasi bukan sekadar adopsi perangkat baru, melainkan upaya menyelaraskan kemampuan organisasi dengan kebutuhan masyarakat dan dinamika pasar.
Anindya menekankan bahwa teknologi seharusnya digunakan sebagai solusi yang memberi nilai tambah bagi masyarakat. Karena itu, keberhasilan penerapan teknologi tidak cukup diukur dari kecanggihan sistem atau besarnya investasi, tetapi juga dari manfaat nyata yang dihasilkan. Teknologi perlu membantu menjawab persoalan, meningkatkan produktivitas, serta memperluas akses terhadap layanan dan peluang ekonomi. Dalam proses tersebut, kapabilitas manusia tetap menjadi faktor penting: tenaga kerja dan pemimpin perlu memiliki keterampilan untuk memanfaatkan teknologi secara tepat, sementara perusahaan perlu membangun budaya yang mendorong pembelajaran dan adaptasi. Integrasi ketiganya memungkinkan organisasi merespons perubahan tanpa mengabaikan tujuan bisnis maupun dampaknya bagi publik.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia perlu kembali berfokus pada tujuan utama pembangunan ekonomi agar tidak kehilangan momentum untuk keluar dari middle income trap. Fokus tersebut mencakup penguatan produktivitas, penciptaan nilai, dan peningkatan daya saing dunia usaha, sehingga pertumbuhan dapat berlangsung lebih berkelanjutan. Tantangan global menuntut perusahaan Indonesia bergerak lebih tangkas, termasuk dalam mengembangkan kemampuan di sektor teknologi dan memanfaatkan inovasi untuk memperkuat posisi di pasar.
Baca juga: Perkembangan Terbaru di Jakarta: Dari Proyek Infrastruktur Hingga Insiden Kecelakaan | Perkembangan Terbaru Penanganan Karhutla di Indonesia












