Jakarta | Megawati Soekarnoputri mengingatkan generasi muda bahwa kecerdasan akademik dan kemampuan menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi saja tidak cukup untuk menentukan arah masa depan Indonesia. Kemajuan teknologi dapat membuka banyak peluang, tetapi manfaatnya bergantung pada cara manusia menggunakan pengetahuan tersebut. Karena itu, anak muda perlu mengembangkan kualitas diri yang melampaui capaian pendidikan atau keterampilan teknis. Bekal intelektual penting, namun harus berjalan seiring dengan karakter yang kokoh agar kemajuan dapat diarahkan untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
Dalam pesannya, Megawati menekankan arti keteguhan hati, integritas, dan karakter kuat ketika generasi muda menghadapi perubahan serta tantangan zaman. Nilai-nilai tersebut membantu seseorang tetap berpegang pada prinsip, mempertimbangkan dampak tindakannya, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat. Di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, kemampuan untuk bersikap kritis perlu disertai kejujuran dan kepedulian. Dengan demikian, kecakapan digital dan penguasaan ilmu tidak hanya menjadi alat untuk meraih keberhasilan pribadi, tetapi juga dapat digunakan secara bijaksana dan memberi manfaat yang lebih luas.
Megawati juga mengaitkan pembentukan karakter dengan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa. Bagi generasi muda, berpegang pada Pancasila berarti membawa semangat kemanusiaan, persatuan, tanggung jawab, dan keadilan dalam menghadapi persoalan baru. Nilai-nilai itu dapat menjadi pegangan saat teknologi mengubah cara belajar, bekerja, berkomunikasi, maupun mengambil keputusan. Pesan tersebut disampaikan Megawati melalui tayangan video dalam puncak Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (25/10). Penekanannya menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju pengetahuan dan teknologi yang dikuasai anak muda, tetapi juga oleh keteguhan karakter yang menyertai pemanfaatannya.
Megawati mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual saja belum cukup untuk menjadikan seseorang mampu menghadapi tantangan. Dalam pandangannya, kemampuan memahami persoalan, menguasai ilmu, atau menyampaikan gagasan perlu berjalan bersama karakter yang kokoh. Ia mengkritik keadaan ketika orang-orang berpengetahuan tinggi ternyata mudah ragu dan tidak memiliki keberanian untuk bersikap. Kritik tersebut menempatkan keteguhan sebagai unsur penting dalam pembentukan generasi penerus, terlebih ketika perubahan berlangsung cepat dan teknologi berkembang pesat.
Ia menyampaikan, “banyak mereka justru orang pintar, tetapi hatinya goyang, hatinya tidak teguh, tidak berani,” untuk menggambarkan kesenjangan kepintaran dan kekuatan batin. Pernyataan itu bukan berarti kemampuan akademis tidak bernilai. Sebaliknya, kecakapan berpikir tetap diperlukan, tetapi manfaatnya dapat terbatas apabila seseorang tidak mantap dalam mengambil sikap atau menghindari keputusan karena takut menghadapi konsekuensi. Pengetahuan perlu mendukung tindakan yang bertanggung jawab, bukan sekadar menjadi ukuran keberhasilan di ruang pendidikan.
Keteguhan yang dimaksud dapat terlihat ketika seseorang berhadapan dengan tekanan, perbedaan pandangan, maupun persoalan yang belum memiliki jawaban mudah. Keberanian bukan tindakan gegabah atau penolakan terhadap masukan. Sikap berani justru membutuhkan pertimbangan yang jernih, kesediaan mendengar, dan kemantapan untuk mempertahankan keputusan yang memiliki dasar kuat. Dengan karakter semacam itu, anak muda dapat menggunakan pengetahuan secara lebih bijaksana dan tidak mudah terombang-ambing oleh tuntutan sesaat, pengaruh lingkungan, atau derasnya informasi digital.
Penilaian terhadap kualitas generasi penerus, menurut pesan tersebut, karena itu tidak sepatutnya hanya bertumpu pada nilai akademis, kecakapan teknis, atau penguasaan teknologi. Aspek-aspek itu penting, namun perlu disertai keberanian menghadapi persoalan serta keteguhan dalam menjalankan prinsip. Pendidikan dan lingkungan sosial dapat berperan menumbuhkan keseimbangan tersebut, lain dengan memberi ruang bagi anak muda untuk berpikir kritis, mengambil tanggung jawab, dan belajar dari keputusan. Generasi yang cerdas sekaligus mantap sikapnya diharapkan mampu merespons kemajuan tanpa kehilangan arah dan kepedulian.
Megawati mendorong anak muda untuk memiliki keberanian menyuarakan kebenaran, terutama ketika menghadapi keadaan yang menuntut sikap. Keberanian ini bukan sekadar tampil lantang atau bertindak spontan, melainkan kesediaan menyampaikan apa yang diyakini benar dengan pertimbangan yang matang. Anak muda perlu memahami persoalan, menjaga keteguhan sikap, dan tidak mudah mengubah pendirian hanya karena tekanan. Dengan cara itu, suara yang disampaikan dapat menjadi wujud tanggung jawab, bukan sekadar reaksi sesaat.
Seruan tersebut juga berkaitan dengan sikap terhadap ketidakadilan. Megawati mengajak generasi muda agar tidak memilih diam ketika melihat ketidakadilan, tetapi berani menyuarakan penolakan secara bertanggung jawab. Sikap ini menuntut konsistensi: keberanian tidak cukup ditunjukkan sekali, lalu ditinggalkan ketika keadaan berubah atau ketika pembelaan terasa sulit. Keteguhan karakter tampak dalam kesediaan untuk tetap berpihak pada kebenaran, sekaligus mempertimbangkan cara menyampaikan sikap agar tidak kehilangan arah dan tujuan.
Perhatian kepada masyarakat yang lemah dan membutuhkan bantuan menjadi bagian penting dari dorongan tersebut. Anak muda diajak untuk konsisten membela mereka, bukan hanya menunjukkan kepedulian dalam kata-kata. Pembelaan itu berangkat dari kepekaan terhadap kebutuhan sesama dan kesadaran bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab moral untuk tidak mengabaikan pihak yang memerlukan dukungan. Ajakan ini tidak berarti keberanian tanpa batas atau tindakan tanpa pertimbangan. Sebaliknya, keberanian perlu disertai penilaian yang cermat, sikap yang teguh, dan kepedulian yang berkelanjutan. Dengan demikian, keberanian membela kebenaran dan masyarakat lemah merupakan bagian dari karakter yang perlu dibangun oleh generasi muda. Di tengah perubahan zaman, kualitas tersebut membantu anak muda menentukan sikap secara jernih, bertahan pada nilai yang diyakini, dan menggunakan suaranya dengan bertanggung jawab. Pesan Megawati menempatkan keberanian bukan sebagai tujuan yang berdiri sendiri, melainkan sebagai unsur karakter yang mengarahkan pilihan dan perilaku. Ketika keberanian berjalan bersama pertimbangan serta konsistensi, anak muda dapat menunjukkan kepedulian tanpa kehilangan keteguhan dalam membela kebenaran dan mereka yang membutuhkan bantuan.
Megawati mengingatkan bahwa kecakapan generasi muda dalam menguasai teknologi perlu disertai kebijaksanaan dalam menggunakannya. Kemajuan digital membuka peluang besar untuk belajar, berkarya, dan menjangkau masyarakat luas, tetapi kemampuan teknis saja tidak cukup untuk menghadapi perubahan. Anak muda juga perlu mempertimbangkan dampak pilihan mereka terhadap orang lain dan kehidupan bersama.
Pesan itu menempatkan nilai kemanusiaan sebagai landasan dalam menyikapi inovasi. Teknologi dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan, namun penggunaannya tetap membutuhkan empati, kepedulian, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengejar kecepatan dan kemudahan, tetapi juga memahami batas etis serta tanggung jawab yang menyertai setiap tindakan.
Megawati menekankan pentingnya keberanian yang berpadu dengan pertimbangan moral. Anak muda perlu berani menyampaikan gagasan, mengambil inisiatif, dan terlibat dalam menjawab tantangan zaman. Namun, keberanian tersebut harus dijalankan secara bertanggung jawab, bukan sekadar mengikuti dorongan sesaat atau mengejar perhatian. “Jadilah generasi muda yang cerdas dan bijaksana; gunakan kemajuan teknologi dengan tetap menjunjung nilai kemanusiaan, serta bertindak berani dengan tanggung jawab moral dan etika.”
Harapan tersebut menegaskan bahwa karakter tetap menjadi pegangan ketika perubahan berlangsung cepat. Kecerdasan membantu seseorang memahami persoalan, sedangkan kebijaksanaan menuntun cara mengambil keputusan. Begitu pula, kemajuan teknologi akan memberi manfaat lebih luas apabila disertai kepedulian sosial dan kesadaran akan konsekuensinya. Dengan bekal itu, generasi muda dapat berperan aktif tanpa kehilangan arah maupun kepekaan terhadap sesama.
Pesan mengenai karakter dan tanggung jawab tersebut disampaikan dalam rangkaian festival yang diselenggarakan PDI Perjuangan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tahun 2026.
Baca juga: Ancaman Penyalahgunaan Obat Bagi Kesehatan Ginjal Anak Muda | Teknologi Dashcam AI: Solusi Cerdas Pengemudikan di Indonesia | Anak Muda Kanigaran Bangkitkan Seni Bantengan, Satrio Sukmo Sejati Tampil Memukau di GOR A. YANI












