Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) diadakan pada tanggal 25-27 November 2023, di kota Surabaya, Jawa Timur. Acara ini merupakan momen penting dalam sejarah organisasi NU, yang telah berdiri sejak tahun 1926 dan terus berkomitmen untuk menjaga serta mengembangkan potensi umat Islam di Indonesia. Muktamar ini dihadiri oleh ribuan peserta dari berbagai kalangan, termasuk pengurus NU, ulama, dan masyarakat sipil, dan menjadi ajang pembahasan isu-isu strategis yang berkaitan dengan perkembangan bangsa dan umat.
Penting untuk diketahui bahwa Muktamar ke-35 tidak hanya merupakan platform untuk merumuskan kebijakan, tetapi juga berfungsi sebagai medium untuk mempertegas posisi NU dalam konteks sosial dan politik Indonesia saat ini. Dalam sejarahnya, NU telah berperan aktif dalam mengawal keberagaman dan toleransi beragama di Tanah Air, serta mendukung berbagai program yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat. Dengan mengingat hal ini, acara muktamar akan diisi dengan diskusi yang mendalam dan serius mengenai arah yang ingin ditempuh oleh NU ke depan.
Selain itu, tujuan utama dari Muktamar ke-35 adalah untuk memperkuat komitmen NU dalam menjaga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-alamin, serta mempertimbangkan berbagai tantangan yang dihadapi oleh umat Islam di Indonesia, seperti radikalisasi, intoleransi, dan krisis lingkungan. Dengan tema sentral yang diangkat selama muktamar ini, diharapkan kebijakan dan keputusan yang diambil bisa memberikan dampak positif tidak hanya bagi internal NU, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Melalui pengambilan keputusan yang berlandaskan pada akhlak dan intelektualitas, Muktamar ke-35 diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi yang konstruktif bagi masa depan organisasi. Ketika para pemimpin dan anggota NU berkumpul untuk mendiskusikan isu kritis ini, mereka juga menegaskan dedikasi mereka terhadap kemajuan bangsa dan umat, sejalan dengan prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan pendirian NU.
Pada muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, sesi penutupan diwarnai dengan sambutan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung kegiatan dan pengembangan organisasi NU, yang memiliki peran penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pernyataan ini tidak hanya mencerminkan dukungan terhadap program-program NU, tetapi juga mengaitkan visi dan misi NU dengan kepentingan nasional.
Presiden Prabowo Subianto menyoroti beberapa poin penting dalam sambutannya. Salah satu poin utama adalah perlunya penguatan kerukunan antar umat beragama dan penegakan toleransi sebagai landasan dalam merealisasikan cita-cita bersama. Beliau juga menekankan pentingnya peran aktif santri dan pengurus NU untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional, serta menjadikan nilai-nilai yang diajarkan dalam organisasi sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Makna dari penutupan muktamar ini tidak hanya mengambil bentuk formalitas, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat. Dengan dukungan pemerintah, NU diharapkan bisa lebih berperan dalam pembinaan akhlak dan pendidikan, serta memperkuat persatuan bangsa. Momen ini seharusnya menjadi titik momentum bagi seluruh jemaah NU untuk berkolaborasi dengan elemen-elemen masyarakat lainnya demi tercapainya tujuan bersama dan mewujudkan masyarakat yang lebih baik.
Kesimpulannya, sambutan Presiden Prabowo Subianto pada penutupan muktamar ke-35 NU mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendukung peran NU. Ini adalah langkah positif yang diharapkan dapat memperkuat sinergi pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan bersama. Dengan semangat yang ditunjukkan pada muktamar ini, NU diharapkan dapat melanjutkan misinya sebagai organisasi yang memperjuangkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
Pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, pemilihan pengurus baru PBNU untuk periode 2026-2031 berhasil dilaksanakan dengan sukses. Pemilihan ini bukan hanya menjadi momen penting bagi organisasi, tetapi juga sebagai momentum untuk memperkuat visi dan misi yang akan membawa Nahdlatul Ulama ke arah yang lebih baik. Salah satu hasil signifikan dari pemilihan ini adalah terpilihnya KH Miftahul Akhyar sebagai Rais Aam, serta KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU.
KH Miftahul Akhyar, yang sebelumnya menjabat dalam posisi penting di organisasi, diharapkan dapat meneruskan program-program unggulan NU sekaligus memperkenalkan inovasi baru yang relevan dengan perkembangan zaman. Visi kepemimpinan beliau adalah menjaga tradisi keagamaan yang moderat sekaligus mengedepankan dialog antar umat beragama. Ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antar komunitas dan mendamaikan perbedaan yang ada di masyarakat.
Sebagai Ketua Umum PBNU yang baru, KH Abdul Hakim Mahfudz menggambarkan misi kepemimpinannya fokus pada pemanfaatan teknologi digital untuk menyebarkan nilai-nilai Islam dan tradisi Nahdlatul Ulama. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya adaptasi terhadap perubahan zaman untuk menjangkau generasi muda. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu yang dihadapi masyarakat saat ini, diharapkan PBNU dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam penyelesaian masalah sosial dan keagamaan.
Harapan terhadap kepemimpinan KH Miftahul Akhyar dan KH Abdul Hakim Mahfudz sangat besar. Anggaran dan program-program yang telah dirancang diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik untuk meningkatkan mobilisasi massa Nahdlatul Ulama di seluruh Indonesia. Komitmen untuk memperkuat organisasi dan memperluas pengaruhnya di pentas nasional dan internasional menjadi kunci dari kepemimpinan mereka ke depan.
Setelah pemilihan yang berlangsung di Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, KH Abdul Hakim Mahfudz, atau lebih dikenal dengan sebutan Gus Kikin, akan menyampaikan sambutan yang mencerminkan visi dan misi dari kepengurusan baru. Sambutan ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang ceremonial, tetapi juga menyampaikan harapan besar dari pengurus baru terhadap tantangan yang dihadapi organisasi.
Pada muktamar tersebut, pengurus baru memahami betul bahwa Nahdlatul Ulama, sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia, harus menghadapi berbagai tantangan, lain, perubahan sosial yang cepat, dinamika politik, dan isu-isu kebangsaan yang kompleks. Oleh karena itu, Gus Kikin dan timnya berkomitmen untuk membawa NU ke arah yang lebih progresif, sembari tetap menghormati tradisi yang ada. Hal ini menjadi penting agar NU tetap relevan di tengah masyarakat yang terus berubah.
Salah satu harapan utama dari pengurus baru adalah bagaimana Nahdlatul Ulama dapat memposisikan diri sebagai mediator dalam menghadapi perbedaan pendapat, baik di kalangan anggotanya sendiri maupun di tingkat nasional. Dengan demikian, NU diharapkan dapat berkontribusi dalam menciptakan harmoni sosial yang mendukung keberagaman dan toleransi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Gus Kikin juga akan menekankan pentingnya penguatan daya tarik organisasi di kalangan generasi muda. Menyadari bahwa generasi muda adalah kunci keberlanjutan organisasi, pengurus baru berkomitmen untuk melakukan berbagai inovasi yang dapat menarik minat dan partisipasi aktif mereka dalam program-program NU. Dengan mengedepankan pendekatan yang inklusif, diharapkan semakin banyak generasi muda yang bergabung dan berkontribusi dalam menjalankan visi serta misi besar Nahdlatul Ulama.
Secara keseluruhan, tanggapan dan harapan pengurus baru terhadap Nahdlatul Ulama menggambarkan keinginan kuat untuk membawa organisasi ini ke arah yang lebih baik, menjawab tantangan zaman, serta memperkuat peran NU dalam konteks kebangsaaan dan sosial keumatan.













