banner 728x250

Prabowo Sampaikan Apresiasi dan Dukungan bagi Pesantren pada Hari Santri 2026

Prabowo Sampaikan Apresiasi dan Dukungan bagi Pesantren pada Hari Santri 2026
banner 120x600
banner 468x60

Surabaya | Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat memperingati Hari Santri 2026 kepada para santri, kiai, nyai, serta seluruh keluarga besar pesantren di berbagai penjuru Indonesia. Pesan tersebut disampaikan melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam keterangan tertulis pada Kamis, 22 Oktober. Ucapan itu menjadi bentuk perhatian Presiden terhadap kontribusi komunitas pesantren dalam kehidupan keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan. Peringatan Hari Santri juga menjadi kesempatan untuk mengapresiasi pengabdian para pengasuh dan peserta didik pesantren yang terus menjalankan peran mereka di tengah masyarakat.

Dalam pandangan Prabowo, pesantren tidak semata-mata berfungsi sebagai tempat untuk mempelajari agama. Lembaga pendidikan ini turut menjadi ruang pembentukan karakter, tempat nilai-nilai moral dan kedisiplinan ditanamkan melalui proses belajar serta kehidupan sehari-hari. Para santri memperoleh bekal keilmuan sekaligus dibimbing untuk mengembangkan sikap hormat, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama. Peran kiai dan nyai dalam mendampingi proses tersebut juga menjadi bagian penting dari lingkungan pendidikan pesantren, yang menghubungkan pembelajaran dengan praktik kehidupan bersama.

banner 325x300

Presiden menilai pesantren juga berperan dalam menanamkan nilai kebangsaan kepada generasi muda. Melalui pendidikan yang dijalankan, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa. Bekal tersebut penting agar generasi muda dapat berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan sosial serta menjaga kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia. Ucapan Hari Santri 2026 dengan demikian menegaskan penghargaan terhadap pesantren sebagai bagian dari pendidikan nasional dan pembinaan warga negara. Pesan itu sekaligus mengakui sumbangan santri, kiai, nyai, dan keluarga pesantren dalam membentuk generasi yang berilmu, berkarakter, serta memiliki komitmen terhadap kehidupan berbangsa.

Pemerintah menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada pondok pesantren atas pengabdian yang telah diberikan kepada masyarakat dan bangsa. Apresiasi ini mengakui bahwa pesantren bukan hanya bagian dari kehidupan pendidikan dan keagamaan, tetapi juga turut hadir dalam perjalanan Indonesia. Peran tersebut telah tampak jauh sebelum kemerdekaan, ketika pesantren menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di berbagai masa. Pengabdian yang berlangsung lintas generasi itu menjadi warisan penting, sekaligus menunjukkan eratnya hubungan pesantren dengan perkembangan bangsa. Karena itu, penghormatan terhadap pesantren tidak terbatas pada peringatan Hari Santri, melainkan juga mencerminkan pengakuan atas kontribusi yang terus berlangsung.

Seiring perubahan zaman, peran pesantren terus berkembang hingga kini. Keberlanjutan tersebut memperlihatkan kemampuan lembaga ini untuk tetap memberikan pengabdian di tengah dinamika masyarakat dan kebutuhan bangsa yang berubah. Pesantren menjalankan perannya dengan berangkat dari nilai dan tradisi yang telah tumbuh dalam lingkungan masing-masing, sambil menjadi bagian dari kehidupan Indonesia masa kini. Pemerintah memandang perjalanan panjang itu sebagai kontribusi yang patut dihargai dan didukung. Dengan demikian, perhatian kepada pesantren berkaitan langsung dengan pengakuan atas jasa yang telah diberikan sejak masa sebelum kemerdekaan, serta penghormatan atas peran yang tetap hadir dalam kehidupan bangsa saat ini.

Dukungan pemerintah terhadap keberlanjutan pesantren berangkat dari pemahaman bahwa pengabdian tersebut memiliki arti bagi perjalanan Indonesia. Penghargaan dan terima kasih yang disampaikan bukan sekadar pengakuan atas masa lalu, melainkan juga penegasan bahwa pesantren tetap memiliki tempat dalam pembangunan bangsa ke depan. Perhatian terhadap keberlanjutan lembaga ini menjadi bagian dari upaya menjaga agar perannya dapat terus berkembang sesuai perubahan zaman, tanpa mengabaikan sumbangsih historisnya. Dengan menghubungkan kontribusi sejak sebelum kemerdekaan dan pengabdian hingga kini, pemerintah menegaskan pentingnya mendampingi pesantren agar dapat melanjutkan perannya. Sikap tersebut mencerminkan penghormatan terhadap perjalanan pesantren sekaligus dukungan bagi keberadaannya di masa mendatang.

Pemerintah memandang dukungan berkelanjutan bagi kemajuan pesantren sebagai hal yang penting, mengingat peran lembaga ini dalam pendidikan dan pembentukan karakter bangsa. Upaya tersebut perlu mencakup peningkatan kualitas pendidikan, pembinaan santri secara menyeluruh, serta penguatan kelembagaan. Dengan dukungan yang tepat, pesantren dapat menjawab kebutuhan zaman sekaligus mempertahankan jati diri dan kekhasan masing-masing. Kebijakan dan program pemerintah juga perlu memperhatikan keragaman tradisi, skala, serta kondisi wilayah pesantren. Pendekatan yang melibatkan pengasuh, pendidik, santri, dan masyarakat akan membantu memastikan bahwa dukungan sesuai dengan kebutuhan nyata. Kemitraan semacam ini dapat memperkuat kepercayaan dan mendorong pengembangan pesantren secara berkelanjutan.

Prasetyo menyampaikan bahwa pemerintah akan berupaya melakukan perbaikan dan penguatan yang diperlukan. Langkah tersebut dapat diarahkan pada penyediaan lingkungan belajar yang lebih baik, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, serta dukungan terhadap tata kelola lembaga. Perhatian juga dibutuhkan untuk memastikan pembinaan santri berlangsung secara utuh, meliputi pengembangan pengetahuan, karakter, dan keterampilan. Dengan demikian, santri memperoleh bekal yang relevan untuk berperan di tengah masyarakat. Pelaksanaan program perlu dilakukan secara terencana dan terbuka terhadap masukan dari pesantren, sehingga kebijakan yang diterapkan tidak mengabaikan kebutuhan lokal maupun kekuatan yang telah tumbuh di dalam komunitas pesantren.

Tujuan dukungan tersebut adalah memperluas kesempatan bagi santri untuk belajar, tumbuh, dan berkarya. Peningkatan akses serta mutu pendidikan diharapkan berjalan seiring dengan pemeliharaan nilai keagamaan, tradisi keilmuan, dan semangat pengabdian yang telah lama menjadi kekuatan pesantren. Kemajuan tidak harus berarti meninggalkan akar tradisi; sebaliknya, pembaruan dapat memperkaya cara pesantren mendidik dan melayani masyarakat. Dengan menjaga keseimbangan itu, santri dapat memiliki ruang untuk mengembangkan potensi sekaligus memahami tanggung jawab sosialnya. Menjaga dan memperkuat pesantren pada akhirnya merupakan bagian dari upaya merawat salah satu pilar pembangunan bangsa, agar kontribusinya bagi pendidikan, kehidupan beragama, dan kemajuan masyarakat terus berkembang.

Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober untuk mengenang Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan tersebut lahir dalam situasi genting setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ketika pasukan Sekutu datang ke sejumlah wilayah, termasuk Surabaya. Kedatangan mereka menimbulkan kekhawatiran karena dapat membuka jalan bagi kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Bagi para ulama dan masyarakat, mempertahankan kemerdekaan bukan sekadar persoalan politik, melainkan juga tanggung jawab untuk menjaga tanah air dan keselamatan rakyat.

Pokok Resolusi Jihad menegaskan kewajiban umat Islam untuk berjuang melawan tentara Sekutu yang mengancam kemerdekaan Indonesia. Dalam seruan itu, kewajiban membela tanah air diberlakukan bagi umat Islam, terutama mereka yang berada di wilayah sekitar medan perjuangan. Pesan tersebut disampaikan melalui jaringan ulama, pesantren, dan organisasi masyarakat, sehingga cepat menyebar serta mendorong keterlibatan berbagai kalangan. Santri dan kiai tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga turut bergerak bersama rakyat dalam menghadapi ancaman. Resolusi Jihad menjadi penguat semangat perlawanan dan membantu menegaskan bahwa kemerdekaan perlu dipertahankan secara nyata.

Seruan itu berperan dalam membangkitkan keberanian rakyat, khususnya di Surabaya, yang menjadi salah satu pusat perlawanan terhadap pasukan Sekutu. Ketegangan berkembang menjadi pertempuran besar setelah ultimatum kepada warga dan pejuang tidak diterima. Puncak pertempuran berlangsung pada 10 November 1945, ketika rakyat Surabaya menghadapi kekuatan militer Sekutu. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai Pertempuran Surabaya, sementara tanggal 10 November diperingati setiap tahun sebagai Hari Pahlawan. Dengan demikian, peringatan Hari Santri pada 22 Oktober mengingatkan masyarakat pada kontribusi ulama, santri, dan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, serta hubungan perjuangan keagamaan dan kebangsaan dalam sejarah Indonesia.

Baca juga: Panggilan Timnas untuk Haye dan Oratmangoen: Dukungan Pelatih Persib | Dukungan Pemprov Jakarta untuk Penegakan Hukum dalam Penyelundupan Kacang Tanah | Pengumuman Finalis Opsi 2026: Cek Hasil Seleksi Hari Ini

banner 325x300