banner 728x250

Sari Minta Maaf soal Jaket Almamater UBSI di Deklarasi Sumpah Pemuda

Sari Minta Maaf soal Jaket Almamater UBSI di Deklarasi Sumpah Pemuda
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Sari Putri menyampaikan permintaan maaf setelah penggunaan jaket almamater berlogo lama BSI dalam kegiatan Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, menjadi sorotan. Permintaan maaf tersebut disampaikan melalui sebuah video yang diunggah di akun Instagram @kbm_ubsi.dws. Dalam video itu, Sari menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) atas polemik yang muncul. Peristiwa ini menarik perhatian karena jaket almamater bukan sekadar pakaian yang dikenakan dalam kegiatan, tetapi juga membawa tanda pengenal institusi pendidikan yang melekat pada pemakainya.

Sorotan terhadap jaket tersebut berkaitan dengan penggunaan logo lama BSI pada acara publik yang melibatkan deklarasi bertema kepemudaan. Identitas visual kampus memiliki makna bagi mahasiswa dan komunitasnya, sehingga pemakaiannya dapat memunculkan pertanyaan ketika dianggap tidak sesuai atau menimbulkan kesalahpahaman. Dalam konteks ini, polemik tidak hanya membahas pilihan pakaian, tetapi juga bagaimana simbol universitas dipahami oleh mahasiswa maupun masyarakat yang melihat kegiatan tersebut. Permintaan maaf Sari menjadi respons atas perhatian dan reaksi yang muncul setelah foto atau rekaman kegiatan beredar di media sosial.

banner 325x300

Melalui unggahan tersebut, Sari menyampaikan langsung permohonan maaf kepada mahasiswa UBSI. Video itu menjadi ruang untuk merespons persoalan yang berkembang sekaligus menjelaskan sikapnya kepada pihak yang merasa keberatan. Meski demikian, informasi yang disampaikan dalam permintaan maaf perlu dibedakan dari berbagai tafsir yang muncul di ruang digital. Pokok peristiwanya adalah penggunaan jaket berlogo lama BSI dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI dan respons Sari setelah hal tersebut menjadi perbincangan. Kasus ini menunjukkan bahwa penggunaan atribut kampus di ruang publik dapat menimbulkan perhatian, terutama ketika menyangkut identitas dan representasi universitas.

Sari menyampaikan klarifikasi bahwa dirinya bukan mahasiswa aktif Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Penegasan ini disampaikan untuk menjelaskan bahwa pemakaian jaket almamater UBSI dalam deklarasi Sumpah Pemuda tidak menunjukkan statusnya sebagai mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di kampus tersebut. Dengan demikian, keterkaitan dirinya dan jaket itu, menurut penjelasan Sari, tidak dapat dipahami sebagai bukti bahwa ia merupakan mahasiswa aktif UBSI. Pernyataan tersebut merupakan klarifikasi dari Sari mengenai status dirinya, bukan hasil verifikasi terpisah mengenai data akademik. Penjelasan ini penting dicatat secara cermat agar pemakaian atribut tidak langsung ditafsirkan sebagai identitas resmi atau keterangan tentang keanggotaan akademiknya.

Mengenai asal jaket yang dikenakannya, Sari mengatakan bahwa benda itu diberikan oleh seseorang yang tidak ia kenal. Ia menjelaskan bahwa jaket tersebut bukan identitas resminya sebagai mahasiswa UBSI. Keterangan tentang pemberian itu disampaikan sebagai penuturan Sari sendiri; tidak ada informasi lain di sini yang memastikan secara independen siapa pemberinya ataupun keadaan pemberian jaket tersebut. Karena itu, asal jaket sebaiknya dinyatakan sesuai batas penjelasan yang tersedia: Sari menyebutnya sebagai pemberian dari orang yang tidak dikenalnya. Tidak perlu menyimpulkan identitas pemberi, maksud pemberian, atau cara jaket itu sampai kepadanya, sebab hal-hal tersebut tidak dijelaskan dalam klarifikasinya.

Penjelasan Sari juga membedakan dua hal yang dapat terlihat serupa dalam foto atau kegiatan publik, yakni mengenakan jaket almamater dan berstatus sebagai mahasiswa aktif. Menurut Sari, penggunaan jaket itu tidak mencerminkan status mahasiswa UBSI, sementara asal benda tersebut ia kaitkan dengan pemberian dari orang yang tidak dikenal. Uraian ini perlu tetap ditempatkan sebagai pernyataan Sari, bukan sebagai temuan yang telah dikonfirmasi pihak lain. Dengan menyampaikan klarifikasi tersebut, Sari menjelaskan posisinya mengenai atribut yang dikenakan sekaligus menegaskan bahwa jaket itu bukan identitas resminya sebagai mahasiswa UBSI. Tidak ada rincian tambahan mengenai pemberi atau proses perolehan yang dapat dipastikan dari keterangan yang disampaikan.

Sari mengakui bahwa penggunaan jaket almamater UBSI dalam deklarasi Sumpah Pemuda telah menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Menurutnya, atribut kampus yang dikenakan dalam kegiatan tersebut dapat memberi kesan seolah-olah tindakan itu berkaitan dengan UBSI. Ia memahami bahwa persepsi tersebut berpotensi memengaruhi pandangan publik terhadap institusi, termasuk nama baik dan reputasi kampus. Karena itu, ia menyampaikan bahwa persoalan ini tidak hanya menyangkut pilihannya sebagai individu, tetapi juga dampak yang muncul ketika identitas sebuah perguruan tinggi terlihat dalam ruang publik.

Dalam klarifikasinya, Sari menyatakan bertanggung jawab atas tindakan tersebut. Ia kembali menyampaikan permohonan maaf kepada pihak UBSI, mahasiswa, civitas akademika, serta masyarakat yang merasa dirugikan atau tersinggung. Permintaan maaf itu disampaikan seiring pengakuannya bahwa pemakaian almamater dapat ditafsirkan sebagai bentuk keterlibatan atau dukungan institusi, meskipun hal tersebut bukan maksud yang ingin ia sampaikan. Sari juga menegaskan bahwa ia menyadari atribut kampus membawa identitas bersama, sehingga penggunaannya perlu mempertimbangkan konteks dan kemungkinan dampaknya.

Sari mengajak masyarakat menilai persoalan tersebut secara objektif dengan membedakan tindakan pribadi dari sikap seluruh komunitas kampus. Menurutnya, tindakan seorang individu tidak semestinya langsung dikaitkan dengan semua mahasiswa maupun civitas akademika UBSI. Ia menegaskan pula bahwa tindakan dan pernyataannya dalam kegiatan itu tidak mewakili sikap resmi, pandangan, ataupun kepentingan institusi. Penegasan ini menjadi bagian penting dari klarifikasi agar publik tidak menarik kesimpulan yang lebih luas hanya berdasarkan penggunaan jaket almamater. Pada saat yang sama, ia tetap mengakui konsekuensi yang timbul dan menyampaikan penyesalan atas dampaknya terhadap nama baik UBSI. Klarifikasi tersebut diharapkan membantu menempatkan persoalan sesuai konteks, tanpa mengabaikan tanggung jawab pribadi Sari maupun kekhawatiran pihak kampus dan masyarakat. Dengan demikian, permohonan maafnya sekaligus menekankan perlunya pemisahan yang jelas tindakan individu dan representasi resmi sebuah institusi pendidikan.

Perhatian publik terhadap Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 tidak hanya muncul dari klarifikasi Sari mengenai pemakaian jaket almamater UBSI. Kehadiran sejumlah tokoh dan jalannya acara juga memunculkan beragam tanggapan di masyarakat. Polda Metro Jaya sebelumnya menyampaikan bahwa pihaknya mencermati perhatian publik terhadap kegiatan tersebut. Respons yang berkembang dinilai menjadi bagian dari ruang publik, terutama karena acara membawa nama Sumpah Pemuda dan melibatkan mahasiswa. Dalam konteks itu, kepolisian menyatakan terbuka terhadap kritik. Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa penyelenggaraan kegiatan dan respons masyarakat sama-sama menjadi perhatian, tanpa menghapus perbedaan pandangan yang disampaikan warga.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyampaikan permintaan maaf atas nama kepolisian. Ia mengatakan kritik yang disampaikan masyarakat akan diterima dan dijadikan bahan evaluasi. Dengan demikian, masukan publik disebut sebagai hal yang dapat dipertimbangkan untuk memperbaiki pelaksanaan kegiatan maupun koordinasi pada kesempatan berikutnya. Permintaan maaf dan pernyataan mengenai evaluasi itu disampaikan dalam konteks perhatian serta beragam tanggapan atas deklarasi tersebut. Polda Metro Jaya juga menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari masukan yang perlu didengar. Tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa pernyataan kepolisian itu secara khusus merupakan tanggapan terhadap klarifikasi Sari mengenai jaket almamater.

Budi juga menjelaskan bahwa Raffi Ahmad dan Willie Salim hadir di acara tersebut atas undangan penyelenggara. Menurutnya, keduanya datang dengan niat untuk turut memaknai peringatan Sumpah Pemuda. Penjelasan itu menjadi bagian dari keterangan kepolisian mengenai kehadiran para tokoh dalam deklarasi, di tengah respons masyarakat yang beragam. Sementara itu, polemik mengenai jaket almamater dan klarifikasi Sari memiliki konteks tersendiri.

banner 325x300