banner 728x250
Bisnis  

Teknologi AI Lao Gan Ma Picu Kontroversi soal Nasib Pekerja Pabrik

Teknologi AI Lao Gan Ma Picu Kontroversi soal Nasib Pekerja Pabrik
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Lao Gan Ma, produsen sambal asal China yang dikenal luas melalui produk minyak cabainya, menjadi sorotan setelah muncul laporan tentang penggunaan kecerdasan buatan (AI) di pabrik perusahaan. Perhatian publik tidak hanya tertuju pada teknologi yang diterapkan di lini produksi, tetapi juga pada dugaan bahwa penerapannya berkaitan dengan pengurangan jumlah pekerja. Informasi tersebut memicu pertanyaan mengenai perubahan peran tenaga manusia ketika proses manufaktur semakin mengandalkan sistem otomatis dan analisis berbasis data.

Pembahasan mengenai teknologi itu disampaikan Li Xin, Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Petugas Mutu Lao Gan Ma, dalam sebuah konferensi pemerintah provinsi pada akhir September. Dalam kesempatan tersebut, Li memaparkan pemanfaatan AI di lingkungan produksi perusahaan. Pernyataan itu kemudian mendapat perhatian media, terutama karena perusahaan makanan yang telah lama beroperasi tersebut kerap diasosiasikan dengan metode produksi tradisional dan proses pengolahan yang membutuhkan pengawasan mutu ketat.

banner 325x300

Menurut laporan media pemerintah yang dikutip dalam bahan sumber, Li menyebut AI membantu menekan tingkat kecacatan produk. Klaim tersebut menempatkan teknologi sebagai salah satu alat untuk menjaga konsistensi hasil produksi, mendeteksi masalah, dan mendukung pengendalian mutu. Pada skala pabrik, penurunan produk cacat dapat berarti lebih sedikit bahan terbuang serta proses pemeriksaan yang lebih terarah. Namun, informasi yang tersedia belum merinci jenis sistem AI yang digunakan, tahapan produksi yang terdampak, maupun jumlah pekerja yang mungkin mengalami perubahan tugas.

Laporan yang sama menyebut Lao Gan Ma mencatat pendapatan sebesar 5,4 miliar yuan pada 2025, setara sekitar Rp14,73 triliun. Angka tersebut memberi gambaran tentang skala bisnis perusahaan, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan dampak AI terhadap kinerja keuangan atau kebutuhan tenaga kerja. Karena itu, kabar mengenai otomatisasi dan dugaan pengurangan pekerja perlu dibedakan dari fakta yang telah disampaikan perusahaan. Pernyataan Li berfokus pada manfaat teknologi bagi mutu produk, sedangkan rincian tentang perubahan jumlah karyawan belum dijelaskan secara terbuka dalam laporan tersebut.

Pernyataan Li mengenai perubahan jumlah pekerja di salah satu lini produksi Lao Gan Ma menjadi titik utama dalam perdebatan tentang penerapan kecerdasan buatan di pabrik. Dalam laporan yang beredar, ia menyebut bahwa sebelum sistem pemeriksaan cabai berbasis AI diperkenalkan, lini tersebut mempekerjakan lebih dari 600 orang. Setelah teknologi itu digunakan pada tahun sebelumnya, jumlah pekerja yang bertugas di lini yang sama disebut turun menjadi 48 orang. Selisih yang besar kedua angka tersebut segera menarik perhatian publik dan media.

Namun, cakupan angka itu perlu dipahami secara tepat. Pernyataan tersebut merujuk pada satu lini produksi tertentu, bukan jumlah keseluruhan pekerja Lao Gan Ma ataupun total tenaga kerja di seluruh fasilitas perusahaan. Perbedaan ini penting karena angka yang dilepaskan dari konteksnya dapat menimbulkan kesan bahwa ratusan pekerja di perusahaan secara keseluruhan telah digantikan oleh mesin. Informasi yang tersedia dalam pernyataan tersebut hanya menggambarkan perubahan jumlah personel pada lini yang disebut, sehingga tidak cukup untuk menyimpulkan skala dampak terhadap seluruh karyawan.

Meski demikian, penyusutan dari lebih dari 600 orang menjadi 48 orang memicu anggapan bahwa teknologi pemeriksaan cabai digunakan untuk menggantikan banyak pekerja. Sistem berbasis AI dapat mengotomatisasi sebagian tugas pemeriksaan, dan perubahan kebutuhan tenaga kerja pada satu lini membuat kekhawatiran tentang masa depan pekerjaan terasa nyata bagi sebagian orang. Perdebatan pun berkembang dari soal efisiensi produksi ke pertanyaan yang lebih luas: apakah otomatisasi sekadar membantu pekerja menjalankan tugas, atau turut mengurangi kebutuhan perusahaan terhadap tenaga manusia? Tanpa keterangan lebih terperinci mengenai pembagian tugas sebelum dan sesudah penerapan, perubahan jumlah pekerja saja belum menjelaskan sepenuhnya bagaimana proses tersebut berlangsung. Karena itu, angka yang disampaikan Li menjadi pemicu kontroversi, tetapi perlu dibaca sebagai data untuk satu lini produksi, bukan gambaran menyeluruh tentang nasib seluruh pekerja Lao Gan Ma.

Respons di media sosial China menunjukkan bahwa kontroversi penggunaan teknologi AI di Lao Gan Ma tidak hanya dipandang sebagai persoalan operasional pabrik. Sejumlah warganet mengkritik perusahaan karena dinilai lebih mengutamakan keuntungan dan efisiensi dibandingkan kesejahteraan karyawan. Bagi mereka, penerapan teknologi yang berpotensi mengubah kebutuhan tenaga kerja semestinya disertai perhatian terhadap dampaknya pada pekerja, bukan semata-mata dipromosikan sebagai cara untuk meningkatkan produktivitas.

Kritik tersebut terasa semakin tajam karena Lao Gan Ma memiliki citra yang erat dengan kelas pekerja. Perusahaan dan produknya kerap dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat biasa, sehingga sebagian pengguna melihat perlakuan terhadap karyawan sebagai bagian penting dari identitas merek. Mereka menilai bahwa mengedepankan efisiensi tanpa memastikan pekerja tetap diperhatikan bertentangan dengan akar sosial yang selama ini melekat pada Lao Gan Ma. Dalam pandangan mereka, reputasi yang dibangun melalui kedekatan dengan konsumen pekerja akan sulit dipisahkan dari cara perusahaan memperlakukan tenaga kerjanya sendiri.

Pengguna Weibo bernama Black Dragon menyebut situasi tersebut ironis dan tidak etis. Komentar itu mencerminkan kesenjangan yang dirasakan warganet citra perusahaan yang berakar pada kelas pekerja dan keputusan yang dinilai lebih berpihak pada efisiensi. Sementara itu, pengguna bernama Xin Ma28 menyampaikan ancaman untuk memboikot produk Lao Gan Ma. Ancaman tersebut memperlihatkan bahwa sebagian konsumen bersedia menjadikan pilihan belanja sebagai bentuk tekanan ketika mereka menganggap nilai perusahaan tidak sejalan dengan kepentingan pekerja.

Skala perhatian publik juga tercermin dari penyebaran tagar terkait kontroversi ini. Hingga Rabu, salah satu tagar yang berhubungan dengan isu tersebut telah meraih lebih dari 120 juta penayangan. Angka itu menunjukkan luasnya diskusi di kalangan pengguna media sosial, meskipun jumlah penayangan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa semua pengguna memiliki sikap yang sama. Bagi Lao Gan Ma, kritik dan seruan boikot menjadi pengingat bahwa perubahan teknologi dapat memicu pertanyaan yang lebih luas tentang tanggung jawab perusahaan. Perdebatan ini pada akhirnya menyoroti tuntutan agar pertimbangan efisiensi berjalan seiring dengan keterbukaan dan perhatian terhadap nasib karyawan.

Perusahaan menanggapi pemberitaan mengenai penggunaan kecerdasan buatan di pabriknya dengan menyatakan bahwa sejumlah laporan yang beredar tidak akurat. Pihaknya membantah klaim bahwa penerapan teknologi tersebut menyebabkan pemutusan hubungan kerja secara massal. Menurut perwakilan perusahaan, keberadaan sistem inspeksi berbasis AI memang benar, tetapi hal itu tidak berarti sejumlah besar pekerja telah kehilangan pekerjaan. Perusahaan menilai angka yang dikutip dalam laporan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lokasi produksi yang menjadi perhatian publik. Dengan demikian, isu yang beredar perlu dibedakan penggunaan teknologi untuk pemeriksaan produk dan klaim tentang perubahan jumlah tenaga kerja akibat penerapannya.

Perwakilan perusahaan juga menjelaskan bahwa lini produksi yang dimaksud sejak awal tidak pernah mempekerjakan sebanyak jumlah pekerja yang disebutkan dalam sejumlah laporan. Keterangan tersebut menjadi dasar bantahan terhadap klaim PHK massal, yang menggambarkan seolah-olah banyak pekerja diberhentikan setelah teknologi inspeksi diterapkan. Dalam penjelasan perusahaan, angka tenaga kerja yang diberitakan tidak sesuai dengan skala awal lini tersebut. Namun, klarifikasi ini tidak mengubah fakta bahwa inspeksi dengan bantuan AI telah digunakan. Perbedaan pengakuan atas adopsi teknologi dan penolakan atas angka PHK menjadi inti tanggapan perusahaan terhadap kontroversi yang berkembang.

Perdebatan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran di China mengenai dampak kecerdasan buatan terhadap pekerjaan. Perhatian terutama tertuju pada industri padat karya, tempat otomatisasi dapat memengaruhi kebutuhan tenaga kerja dan pola kerja.

Baca juga: Pengerjaan Trotoar di Depok Memicu Kontroversi | Polri dan Prof Ary Ginanjar Kuatkan Sistem Karier Berbasis TalentDNA dan Teknologi | K3 Dipajang di Papan Proyek Rumdin Polres Langsa, Pekerja Diduga Abaikan APD

banner 325x300