JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Kawasan The Telkom Hub resmi mencapai status net zero emission untuk emisi cakupan 1 dan 2. Pencapaian ini menandai langkah penting PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dalam memperkuat komitmen dekarbonisasi operasional sekaligus mendorong penerapan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Status tersebut menunjukkan bahwa emisi langsung dari kegiatan operasional serta emisi tidak langsung yang berasal dari penggunaan energi di kawasan terkait telah diimbangi melalui mekanisme pengurangan dan pemanfaatan energi terbarukan yang diakui.
Pengakuan atas pencapaian itu ditandai dengan penyerahan Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) oleh PT Energy Management Indonesia (EMI). Penyerahan berlangsung di Jakarta pada Rabu, 23 September 2026. Kedua instrumen tersebut menjadi bagian penting dalam pembuktian upaya pengelolaan emisi, karena REC merepresentasikan penggunaan energi terbarukan, sementara SPE GRK menunjukkan pengurangan emisi gas rumah kaca yang telah diverifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi Telkom, pencapaian di The Telkom Hub mencerminkan pelaksanaan dekarbonisasi yang dilakukan secara terukur, dengan menggabungkan efisiensi energi, pemanfaatan sumber energi yang lebih bersih, serta mekanisme kompensasi atau pengurangan emisi yang kredibel. Langkah ini juga memperlihatkan bahwa pengelolaan keberlanjutan dapat diterapkan pada kawasan operasional secara spesifik, sehingga kinerja lingkungan dapat dipantau berdasarkan cakupan, sumber emisi, dan instrumen pendukung yang jelas.
Status net zero emission tersebut berlaku untuk kawasan The Telkom Hub dan tidak diperluas menjadi klaim bahwa seluruh operasional PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk telah mencapai kondisi serupa. Penegasan mengenai batas cakupan ini penting agar informasi disampaikan secara akurat dan tidak menimbulkan tafsir yang lebih luas daripada dasar verifikasinya. Dengan demikian, pencapaian The Telkom Hub menjadi bagian dari perjalanan perusahaan dalam menjalankan dekarbonisasi secara bertahap, transparan, dan bertanggung jawab.
Pencapaian status net zero emission untuk Cakupan Emisi 1 dan 2 di The Telkom Hub merupakan bagian dari rencana transisi iklim TelkomGroup yang dilaksanakan secara bertahap. Langkah ini ditempatkan dalam kerangka pengelolaan emisi jangka panjang, sehingga pengurangan dampak lingkungan tidak hanya dilakukan melalui satu program, tetapi melalui serangkaian upaya yang terukur dan berkelanjutan di lingkungan operasional perusahaan.
Dalam rencana tersebut, TelkomGroup menargetkan penurunan emisi secara berjenjang dengan memperkuat efisiensi energi, meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, serta mengoptimalkan pengelolaan operasional. Tahapan pengurangan emisi diarahkan untuk mendukung tercapainya operasional net zero emission 100 persen pada 2060. Target jangka panjang ini menjadi acuan bagi pelaksanaan berbagai inisiatif dekarbonisasi, termasuk penerapan solusi rendah emisi pada fasilitas dan kegiatan bisnis perusahaan.
Vice President Sustainability Telkom, Gunawan Wasisto Ciptaning Andri, menyampaikan bahwa pencapaian The Telkom Hub menjadi tonggak penting dalam perjalanan tersebut. “Pencapaian ini merupakan tonggak penting karena menunjukkan bahwa upaya dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata di tingkat operasional perusahaan,” ujar Gunawan.
Perolehan status tersebut memperlihatkan penerapan target transisi iklim melalui pengelolaan langsung di fasilitas perusahaan. The Telkom Hub menjadi salah satu contoh pelaksanaan langkah pengurangan emisi dalam cakupan operasional, sekaligus bagian dari proses bertahap TelkomGroup untuk mencapai sasaran 2060. Pendekatan ini memungkinkan setiap inisiatif dievaluasi berdasarkan cakupan emisi, kesiapan operasional, dan kontribusinya terhadap target penurunan emisi perusahaan. Dengan demikian, perjalanan menuju operasional net zero emission dilakukan melalui tahapan yang disusun secara sistematis dan terintegrasi.
Dalam mendukung dekarbonisasi operasional, Telkom bersama anak usahanya, NeutraDC, memanfaatkan instrumen energi terbarukan melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC). Sebanyak 45.407 unit REC dibeli sebagai bagian dari upaya memperkuat penggunaan energi yang memiliki atribut keberlanjutan dalam operasional perusahaan. Langkah ini menunjukkan pemanfaatan mekanisme berbasis pasar untuk membantu pengelolaan emisi dan mendukung pencapaian target lingkungan secara lebih terukur.
REC tersebut berbasis pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Setiap sertifikat merepresentasikan atribut lingkungan dari energi listrik terbarukan yang dihasilkan pembangkit terkait. Dengan membeli REC, Telkom dan NeutraDC memperoleh pengakuan atas atribut energi terbarukan tersebut sesuai mekanisme yang berlaku, tanpa berarti bahwa listrik yang digunakan secara fisik selalu dialirkan langsung dari pembangkit tertentu ke fasilitas perusahaan. Karena itu, REC berfungsi sebagai instrumen berbasis pasar yang mendukung pelaporan serta strategi pengurangan emisi cakupan 2 berdasarkan pendekatan market-based.
Pemanfaatan 45.407 unit REC berbasis PLTA tersebut diproyeksikan dapat mengurangi potensi emisi karbon cakupan 2 market-based hingga 42.425,7 ton CO₂e. Angka ini merupakan estimasi potensi pengurangan yang dikaitkan dengan atribut energi terbarukan dari REC yang dibeli, sehingga tidak boleh dipahami sebagai pengurangan emisi yang telah pasti terealisasi secara aktual. Realisasi pengurangan tetap bergantung pada penerapan metodologi perhitungan, faktor emisi, periode pelaporan, serta ketentuan verifikasi yang relevan.
Melalui pendekatan ini, Telkom dan NeutraDC menempatkan pengadaan energi terbarukan sebagai salah satu instrumen dalam pengelolaan emisi operasional. Penggunaan REC berbasis PLTA melengkapi langkah dekarbonisasi lainnya dengan menyediakan dasar pengakuan berbasis pasar untuk cakupan emisi 2. Penyebutan jumlah sertifikat, sumber energi, cakupan emisi, dan proyeksi pengurangan secara terpisah juga membantu memastikan informasi keberlanjutan disampaikan secara transparan dan tidak melebih-lebihkan hasil yang telah dicapai.
Upaya efisiensi energi di kawasan The Telkom Hub diterapkan melalui pengoperasian 77 unit penerangan jalan umum tenaga surya (PJUT). Fasilitas tersebut memanfaatkan tenaga surya untuk mendukung kebutuhan penerangan di area kawasan. Penggunaan PJUT menjadi salah satu langkah operasional dalam mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi listrik dari gedung Telkom Landmark Tower. Berdasarkan penerapan tersebut, konsumsi listrik gedung Telkom Landmark Tower dapat dihemat sebesar 20.235,6 kWh per tahun. Penghematan ini mencerminkan penerapan efisiensi energi yang dilakukan melalui pemanfaatan sumber energi surya untuk kebutuhan penerangan jalan umum di lingkungan The Telkom Hub.
Selain pengoperasian PJUT, efisiensi konsumsi daya gedung juga didukung oleh penerapan teknologi building management system. Direktur Utama PT Telkom Landmark Tower, Suratman, menyampaikan bahwa teknologi tersebut diterapkan untuk memaksimalkan efisiensi konsumsi daya gedung. Sistem ini menjadi bagian dari pengelolaan operasional gedung yang diarahkan pada penggunaan energi secara lebih efisien. Dengan demikian, penerapan teknologi building management system melengkapi penggunaan PJUT dalam upaya mengelola kebutuhan energi di kawasan The Telkom Hub.
Pengoperasian 77 unit PJUT dan penerapan building management system merupakan dua langkah operasional yang saling mendukung. PJUT berkontribusi terhadap penghematan konsumsi listrik melalui pemanfaatan tenaga surya untuk penerangan jalan umum, sedangkan sistem pengelolaan gedung diarahkan untuk memaksimalkan efisiensi konsumsi daya di Telkom Landmark Tower. Kedua tindakan tersebut menjadi rangkaian upaya operasional dalam mendukung pencapaian dekarbonisasi di kawasan The Telkom Hub, melalui pengelolaan energi yang lebih efisien dan penerapan teknologi pada kebutuhan operasional kawasan serta gedung.








