banner 728x250

Riset RI–Tanzania Uji Peran Nutrisi dalam Pencegahan dan Penanganan TB

Riset RI–Tanzania Uji Peran Nutrisi dalam Pencegahan dan Penanganan TB
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa Indonesia dan Tanzania menjalankan uji klinik Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON). Riset kolaboratif ini mengkaji hubungan pemenuhan nutrisi dan upaya menghadapi tuberkulosis (TB), terutama dalam konteks pencegahan serta penanganan penyakit. Studi tersebut direncanakan berlangsung selama lima tahun, sehingga memungkinkan peneliti mengamati dampak intervensi nutrisi dalam kurun waktu yang memadai.

PHOTON menelaah apakah suplementasi mikronutrien dan protein seimbang dapat membantu mengurangi risiko TB sekaligus mendukung perawatan orang yang mengalami penyakit tersebut. Mikronutrien mencakup zat gizi yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, sedangkan protein berperan dalam berbagai fungsi, termasuk pemeliharaan jaringan dan sistem pertahanan tubuh. Dengan menguji pendekatan nutrisi secara terstruktur, penelitian ini diharapkan menghasilkan bukti yang dapat memperjelas manfaatnya sebagai bagian dari strategi kesehatan masyarakat.

banner 325x300

Uji klinik ini penting karena TB tidak hanya berkaitan dengan paparan kuman, tetapi juga dengan kondisi kesehatan dan daya tahan tubuh seseorang. Meski begitu, suplementasi tidak serta-merta menggantikan pemeriksaan, pengobatan, atau langkah pencegahan TB yang telah menjadi standar. Penilaian melalui penelitian diperlukan untuk mengetahui apakah intervensi yang diuji memberi manfaat, kelompok mana yang mungkin memperoleh dampak, serta bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan secara tepat.

Kerja sama Indonesia dan Tanzania juga membuka ruang bagi pengumpulan pengetahuan dari konteks yang berbeda. Pelaksanaan studi selama lima tahun memberi kesempatan untuk menilai hasil secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan perubahan jangka pendek. Temuan PHOTON nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengembangan kebijakan dan program terkait TB serta gizi, apabila hasil penelitian mendukung penggunaannya. Dengan demikian, riset ini menguji secara ilmiah potensi nutrisi sebagai pelengkap dalam upaya mencegah dan menangani TB, sekaligus memperkuat dasar pengambilan keputusan kesehatan berbasis bukti.

Besarnya beban tuberkulosis (TB) di Indonesia menjadi alasan penting untuk memperkuat penelitian mengenai pencegahan dan penanganannya. Dante menyoroti bahwa lebih dari satu juta orang di Indonesia jatuh sakit akibat TB setiap tahun. Sebagian pasien meninggal bukan semata-mata karena penyakit tersebut sulit diobati, tetapi juga karena terlambat memperoleh pengobatan atau menerima penanganan yang belum maksimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian TB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan layanan, tetapi juga oleh kemampuan menemukan pasien lebih awal dan memastikan mereka menjalani perawatan dengan baik.

Kendala selama pengobatan dan persoalan nutrisi menjadi perhatian dalam riset Indonesia–Tanzania ini. Status gizi dapat berkaitan dengan kondisi tubuh pasien ketika menghadapi TB, sehingga perbaikan asupan nutrisi layak diteliti sebagai bagian dari dukungan penanganan. Namun, peran tersebut perlu diuji melalui penelitian, bukan dianggap sebagai pengganti pemeriksaan medis maupun pengobatan TB yang sesuai. Pemahaman yang lebih baik tentang hubungan nutrisi dengan pencegahan dan perawatan dapat membantu merumuskan pendekatan yang melengkapi layanan kesehatan.

Data yang disampaikan Dante menggambarkan tantangan dalam menemukan kasus. Pada 2025, tercatat 867 ribu kasus TB, atau sekitar 80 persen dari estimasi. Angka tersebut menegaskan bahwa masih ada kasus yang belum teridentifikasi atau tercatat, sehingga upaya deteksi perlu diperluas agar pasien dapat dirujuk dan ditangani lebih cepat. Keterlambatan penemuan kasus berisiko memperpanjang waktu sebelum pengobatan dimulai dan membuat beban penyakit terus berlangsung.

Pada 2026, penguatan deteksi dilakukan melalui integrasi pemeriksaan TB dengan program Cek Kesehatan Gratis serta pemeriksaan terhadap kontak serumah pasien. Pemeriksaan kontak penting karena orang yang tinggal bersama pasien berpotensi terpapar dan perlu dinilai lebih lanjut. Meski demikian, cakupan pemeriksaan kontak serumah baru mencapai 19,7 persen dari target 80 persen. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya memperluas jangkauan pemeriksaan sekaligus memahami hambatan yang dihadapi. Dalam konteks tersebut, riset tentang nutrisi menjadi relevan sebagai salah satu upaya mencari dukungan yang dapat memperkuat penanganan TB secara menyeluruh, sejalan dengan peningkatan deteksi dan akses terhadap pengobatan.Studi PHOTON dirancang untuk menilai apakah suplementasi gizi dapat membantu mencegah tuberkulosis (TB) pada orang yang tinggal serumah dengan pasien TB. Secara khusus, penelitian ini menguji efektivitas pemberian suplemen selama enam bulan dalam menurunkan kejadian TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis. Penilaian mencakup TB paru maupun TB ekstra paru, sehingga hasilnya dapat menggambarkan potensi manfaat intervensi pada beberapa bentuk penyakit. Studi ini melibatkan 78.400 peserta, yaitu kontak serumah pasien TB yang menjadi sasaran upaya pencegahan.

Untuk membandingkan dampak berbagai jenis dukungan nutrisi, peserta dibagi ke dalam kelompok intervensi dan kelompok plasebo. Kelompok pertama menerima vitamin B. Kelompok kedua memperoleh vitamin B bersama multimikronutrien, yakni gabungan sejumlah zat gizi mikro. Kelompok ketiga menerima kombinasi vitamin B, multimikronutrien, dan protein energi seimbang. Kelompok plasebo berfungsi sebagai pembanding, sehingga peneliti dapat menilai apakah perbedaan hasil berkaitan dengan jenis suplementasi yang diberikan, bukan sekadar perubahan yang terjadi seiring waktu.

Rancangan ini memungkinkan tim membandingkan tiga pendekatan suplementasi secara langsung sekaligus menguji apakah kombinasi zat gizi yang lebih luas memberikan manfaat tambahan. Perbandingan tersebut penting karena kondisi gizi dapat berkaitan dengan daya tahan tubuh, sementara kontak serumah menghadapi paparan TB di lingkungan tempat tinggal. Namun, tujuan penelitian adalah mengukur hasil klinis berdasarkan kasus TB terkonfirmasi secara bakteriologis; rancangan ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suplementasi pasti mencegah penyakit.

Menurut Rina Agustina, manfaat intervensi akan dievaluasi selama 24 bulan. Periode ini perlu dibedakan dari durasi pemberian suplemen: peserta menerima suplementasi selama enam bulan, sedangkan pengamatan untuk menilai manfaat berlangsung selama dua tahun. Dengan demikian, penelitian dapat mengamati apakah dampak yang mungkin muncul selama masa intervensi bertahan atau terlihat setelah pemberian suplemen selesai. Pemisahan waktu pemberian dan masa evaluasi juga membantu menjelaskan bagaimana efektivitas pencegahan dinilai dalam studi PHOTON.

Penelitian lintas negara ini membagi kepemimpinan pelaksanaan studi Indonesia dan Tanzania. Di Indonesia, Universitas Indonesia memimpin penelitian bersama para mitra yang terlibat, sementara di Tanzania penelitian dipimpin oleh National Institute for Medical Research (NIMR). Pembagian tersebut memungkinkan tim menguji peran nutrisi dalam konteks dua negara dengan kondisi masyarakat dan sistem layanan kesehatan masing-masing. Studi ini mendapat dukungan dari Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk, sebagaimana tercantum dalam informasi mengenai penelitian. Kolaborasi lembaga dan dukungan pendanaan menjadi bagian penting untuk menjalankan riset klinis serta menghasilkan bukti yang dapat dinilai secara ilmiah.

Rina Agustina, principal investigator studi, menjelaskan bahwa tuberkulosis (TB) berkaitan erat dengan status gizi dan kondisi sosial ekonomi. Hubungan ini menjadi alasan untuk menguji apakah intervensi nutrisi dapat melengkapi upaya pencegahan dan penanganan TB yang sudah berjalan. Dukungan gizi berpotensi membantu melindungi kelompok berisiko, sekaligus mendukung percepatan eliminasi TB. Namun, peran tersebut perlu ditelaah melalui penelitian agar pendekatan yang digunakan memiliki dasar bukti dan sesuai dengan kebutuhan pasien maupun masyarakat. Nutrisi bukan pengganti diagnosis, pengobatan, atau langkah kesehatan masyarakat lainnya, melainkan kemungkinan komponen pendamping yang efektivitasnya perlu dinilai lebih lanjut.

Dalam menjelaskan dasar pertimbangan itu, Rina merujuk studi RATIONS di India yang dipublikasikan di jurnal The Lancet. Studi tersebut melaporkan bahwa dukungan gizi menurunkan kejadian TB paru terkonfirmasi bakteriologis hingga 48 persen pada kontak serumah pasien.

Baca juga: Duka Berubah Amarah, Keluarga Solikhin Pertanyakan Penanganan di Puskesmas Yosowilangun | Perkembangan Terbaru Penanganan Karhutla di Indonesia

banner 325x300