banner 728x250

Pendekatan Humanis Kapolresta Surakarta Warnai Aksi Mahasiswa di Solo

Pendekatan Humanis Kapolresta Surakarta Warnai Aksi Mahasiswa di Solo
banner 120x600
banner 468x60

Kota Solo | Kapolresta Surakarta AKBP Condro Sasongko hadir langsung di tengah ratusan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (BEM UNS) yang menggelar aksi unjuk rasa di Bundaran Gladag, Solo, pada Kamis petang, 22 Oktober 2026. Kehadirannya menjadi bagian paling mencolok dari suasana demonstrasi: alih-alih berdiri jauh dari peserta, Condro membaur bersama mahasiswa di ruang yang sama, sementara orasi berlangsung.

Dalam gambaran aksi tersebut, tidak tampak jarak maupun barikade yang memisahkan Kapolresta dari para demonstran. Condro, yang akrab disapa Mbah Con, berada di mahasiswa dan berinteraksi dengan mereka. Ia mengajak peserta bercanda di tengah rangkaian orasi, menciptakan suasana yang lebih cair di lokasi unjuk rasa. Pendekatan ini memberi warna berbeda pada pertemuan aparat kepolisian dan mahasiswa, yang biasanya berlangsung dengan pengamanan dan batas fisik yang kentara.

banner 325x300

Bundaran Gladag menjadi titik berkumpul massa pada petang itu. Di tengah penyampaian aspirasi, kehadiran pimpinan kepolisian secara langsung membuat interaksi kedua pihak terlihat terbuka. Momen bercanda bukan berarti aksi kehilangan substansinya; mahasiswa tetap menyampaikan orasi, sementara Kapolresta berada dekat dengan mereka. Perpaduan ekspresi aspirasi dan percakapan santai tersebut menunjukkan bahwa suasana demonstrasi dapat memuat ketegangan sekaligus ruang komunikasi.

Sikap membaur yang ditunjukkan Condro juga menonjolkan pendekatan humanis dalam pengelolaan aksi. Tanpa barikade yang menjadi batas, komunikasi berlangsung melalui kedekatan dan interaksi langsung, bukan semata-mata melalui pengaturan jarak. Sebutan Mbah Con yang digunakan mahasiswa turut menggambarkan sapaan akrab dalam suasana itu, sebagaimana terlihat dari ajakan bercanda di tengah orasi. Dengan hadir bersama para peserta, Kapolresta memberi perhatian langsung pada suasana di lapangan, sementara mahasiswa tetap menjadi pusat aksi dan penyampaian pendapat. Peristiwa di Bundaran Gladag itu memperlihatkan bentuk hubungan aparat dan pengunjuk rasa yang lebih terbuka: kehadiran polisi tidak hanya tampak sebagai unsur pengamanan, tetapi juga sebagai pihak yang berinteraksi langsung dengan warga yang menyuarakan aspirasi mereka.

Suasana aksi mahasiswa di Solo yang semula berpotensi tegang tampak mencair melalui pendekatan yang lebih humanis. Guyonan yang hadir di tengah kegiatan membantu menghadirkan suasana lebih ringan, tanpa menghapus tujuan mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui orasi. Perubahan nuansa tersebut memberi gambaran bahwa interaksi di lokasi tidak hanya berlangsung dalam suasana serius. Ada ruang bagi suasana yang lebih cair dan penuh tawa, sehingga aksi terlihat lebih terbuka. Pendekatan ini menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa suasana kegiatan dapat terasa lebih tenang ketika komunikasi berlangsung dengan cara yang tidak kaku. Dalam konteks tersebut, guyonan bukan pengganti penyampaian pendapat, melainkan bagian dari suasana yang terbangun.

Di tengah rangkaian itu, personel Polresta Surakarta terlihat membagikan air mineral kepada mahasiswa yang kehausan setelah berorasi. Rincian ini memperlihatkan bentuk pelayanan yang dapat disaksikan langsung di lokasi aksi. Air mineral diberikan dalam situasi ketika para mahasiswa telah menyampaikan orasi dan membutuhkan minuman. Kehadiran tindakan sederhana tersebut memberi warna pada suasana kegiatan, sebab perhatian yang tampak tidak berhenti pada pengawalan peristiwa, tetapi juga mencakup kebutuhan praktis yang terlihat saat itu. Penyebutan ini tetap berpegang pada hal yang tercatat: personel membagikan air mineral kepada mahasiswa yang kehausan setelah berorasi. Dengan demikian, gambaran pelayanan dapat dijelaskan secara konkret tanpa perlu menambahkan rincian lain.

Perpaduan suasana yang lebih cair dan pembagian air mineral menonjolkan sisi humanis dalam peristiwa tersebut. Guyonan membuat suasana aksi tidak semata dipenuhi ketegangan, sementara air mineral menjadi bentuk perhatian yang tampak terhadap mahasiswa setelah menyampaikan orasi. Kedua rincian itu memberikan gambaran tentang pendekatan yang hadir di lapangan melalui suasana dan pelayanan sederhana. Penjelasan mengenai momen tersebut tidak perlu mengandaikan adanya tindakan lain atau keadaan tambahan; fokusnya tetap pada guyonan yang membuat suasana lebih ringan serta pembagian air mineral kepada mahasiswa yang kehausan. Hal-hal yang terlihat itu menjadi penanda konkret pendekatan humanis Kapolresta Surakarta dalam aksi mahasiswa di Solo, dengan uraian yang bertumpu pada suasana dan pelayanan yang disebutkan.

Condro memandang kehadiran polisi dalam aksi mahasiswa di Solo sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, bukan semata-mata upaya mengendalikan kerumunan. Ia menegaskan bahwa polisi hadir untuk melayani, bukan mengamankan situasi yang sudah aman. Pernyataan tersebut menggambarkan pendekatan yang mengutamakan kebutuhan peserta aksi, sekaligus menghormati ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat. Dalam pandangan itu, keberadaan petugas tidak seharusnya membuat suasana yang tertib terasa tegang. Polisi perlu menjalankan perannya secara proporsional agar kegiatan dapat berlangsung nyaman dan aspirasi tersampaikan dengan baik.

Condro juga menekankan bahwa demonstrasi merupakan hak. Karena itu, tugas polisi adalah memastikan mahasiswa merasa nyaman saat menyampaikan pendapat, bukan membatasi atau menakut-nakuti mereka. Penyampaian aspirasi di muka umum dipandang sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang perlu dihormati, selama kegiatan berlangsung dengan tertib dan kondusif. Peran petugas, menurutnya, ialah mendukung terciptanya suasana yang memungkinkan mahasiswa berbicara dengan aman dan tenang. Pendekatan pelayanan ini menempatkan komunikasi serta penghormatan terhadap hak warga sebagai hal penting dalam mendampingi aksi.

Ia berharap mahasiswa di Solo dapat menyampaikan aspirasi dengan baik dan menjaga situasi tetap kondusif. Harapan itu berjalan seiring dengan tugas polisi untuk hadir secara bersahabat, sehingga peserta aksi tidak merasa berhadapan dengan pihak yang harus ditakuti. Condro menyatakan bahwa polisi bukan untuk ditakuti, melainkan hadir sebagai sahabat masyarakat. Dengan cara pandang tersebut, polisi diharapkan dapat membangun kedekatan dengan mahasiswa dan warga, sekaligus mendukung berlangsungnya demonstrasi secara tertib. Hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati dapat membantu menciptakan ruang dialog yang lebih nyaman bagi semua pihak. Pesan Condro menegaskan bahwa pelayanan, penghormatan atas hak demonstrasi, dan suasana kondusif merupakan bagian dari cara polisi mendampingi penyampaian aspirasi di Solo.

Aksi mahasiswa di depan Balai Kota Solo dan Bundaran Gladag dilaporkan berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga seluruh peserta membubarkan diri. Situasi tersebut menjadi gambaran akhir kegiatan di dua titik itu, tanpa adanya keterangan mengenai gangguan yang mengubah jalannya aksi. Peserta dan petugas berada dalam suasana yang terkendali sampai kegiatan selesai. Pengawalan berlangsung dengan pendekatan yang menenangkan, bukan melalui tindakan yang memperkeruh keadaan. Dalam keterangan mengenai pengamanan, tidak disebutkan penggunaan water cannon ataupun gas air mata. Dengan demikian, akhir aksi di kawasan Balai Kota dan Bundaran Gladag berlangsung tanpa penggunaan kedua perangkat tersebut, serta berujung pada pembubaran yang tertib.

Suasana pengawalan juga digambarkan tidak semata-mata diwarnai sikap formal. Guyonan di pihak yang berada di lokasi ikut mencairkan suasana, sementara pembagian air mineral menjadi bagian dari pendekatan yang humanis. Hal-hal tersebut disampaikan sebagai bentuk interaksi yang membantu menjaga keadaan tetap tenang selama aksi berlangsung. Pendekatan yang menenangkan tampak menjadi unsur penting dalam pengawalan, sejalan dengan situasi yang terjaga hingga peserta membubarkan diri. Tidak ada keterangan bahwa suasana berubah menjadi tegang atau memerlukan penggunaan tindakan seperti penyemprotan air maupun gas air mata. Gambaran yang muncul adalah kegiatan yang selesai dalam keadaan terkendali, dengan interaksi yang lebih cair dan perhatian terhadap kondisi peserta.

Di depan Balai Kota Solo maupun di Bundaran Gladag, aksi berakhir dalam keadaan aman, tertib, dan kondusif sampai bubar.

Baca juga: Polwan Polres Blitar Berikan Pelayanan Humanis, Berbagi Air hingga Bersihkan Sampah Bersama Massa Aksi | Pria di Solo Diamankan Tim Sparta Polresta Surakarta Usai Diduga Rekam Wanita di Kamar Mandi GOR | Mahasiswa UINSA Gelar Aksi Penutupan Kampus untuk Protes Rektor Baru

banner 325x300