banner 728x250

BI Melihat Ruang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Terbuka

BI Melihat Ruang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Masih Terbuka
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Bank Indonesia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di bawah tingkat potensinya. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi nasional belum sepenuhnya mencerminkan kapasitas yang dapat dicapai. Dengan demikian, ruang untuk memperkuat pertumbuhan masih terbuka dan dapat dimanfaatkan melalui upaya yang mendorong aktivitas ekonomi secara berkelanjutan.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa potensi ekonomi nasional masih luas. Pernyataan ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia memiliki ruang pengembangan yang belum sepenuhnya terealisasi. Potensi tersebut menjadi dasar penting untuk melihat pertumbuhan bukan hanya dari kondisi yang telah dicapai, tetapi juga dari peluang peningkatan yang masih tersedia.

banner 325x300

Menurut Destry, kondisi pertumbuhan yang belum mencapai tingkat potensial menuntut dorongan yang berkelanjutan. Upaya tersebut diperlukan agar kapasitas ekonomi dapat berkembang dan berbagai peluang yang ada tidak berhenti sebagai potensi. Dorongan terhadap pertumbuhan juga perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses untuk memperkuat kinerja ekonomi nasional secara menyeluruh.

Asesmen Bank Indonesia mengenai masih terbukanya ruang pertumbuhan menjadi dasar dalam menilai arah kebijakan ekonomi. Penilaian itu membantu bank sentral memahami kondisi perekonomian serta menentukan respons kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan. Dengan melihat adanya kapasitas yang belum sepenuhnya digunakan, arah kebijakan dapat terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan, tanpa mengabaikan penilaian terhadap dinamika ekonomi yang berlangsung.

Penilaian Bank Indonesia (BI) bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mencapai potensi terbaiknya menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Meskipun perekonomian menunjukkan perbaikan dan laju pertumbuhan mulai meningkat, bank sentral melihat masih terdapat ruang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi. Ruang tersebut mencakup peningkatan konsumsi, investasi, serta penyaluran kredit kepada sektor-sektor produktif.

Pertimbangan itu terlihat ketika sejumlah bank sentral utama dunia menaikkan suku bunga pada September. Berbeda dari langkah tersebut, BI memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen. Keputusan ini menunjukkan bahwa BI tidak semata-mata mengikuti perubahan kebijakan moneter global, tetapi juga memperhatikan kondisi domestik, khususnya kebutuhan menjaga momentum pemulihan ekonomi.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa bank sentral tidak ingin kebijakan moneter justru menghambat pemulihan atau menahan laju pertumbuhan ekonomi yang sedang meningkat. Menurut dia, masih terdapat kesenjangan pertumbuhan aktual dan pertumbuhan yang dapat dicapai perekonomian. Karena itu, kebijakan perlu diarahkan secara seimbang: menjaga stabilitas, tetapi tetap memberi ruang bagi kegiatan ekonomi untuk berkembang.

Destry juga menyampaikan bahwa ruang untuk mendorong ekonomi masih tersedia tanpa harus menimbulkan kondisi ekonomi yang terlalu panas. Artinya, penguatan permintaan dan aktivitas usaha masih dapat didukung selama dilakukan dengan memperhatikan tekanan inflasi, stabilitas nilai tukar, serta kondisi keuangan secara menyeluruh. Dengan mempertahankan suku bunga 5,75 persen, BI berupaya menjaga keseimbangan kebutuhan meredam risiko eksternal dan peluang mempercepat pertumbuhan domestik. Pendekatan ini menegaskan bahwa keputusan suku bunga tidak hanya didasarkan pada langkah bank sentral global, melainkan juga pada penilaian terhadap kapasitas dan kebutuhan perekonomian Indonesia.

Destry menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia masih memiliki ruang untuk melanjutkan pertumbuhan, meskipun situasi global sedang diwarnai gejolak dan ketidakpastian. Perubahan kondisi eksternal dapat memberikan tekanan terhadap berbagai negara, tetapi hal tersebut tidak serta-merta menutup peluang Indonesia untuk mempertahankan momentum ekonominya. Menurutnya, daya tahan tersebut ditopang oleh sejumlah kelebihan yang dimiliki Indonesia.

Salah satu kelebihan utama adalah besarnya pasar domestik. Jumlah masyarakat yang besar menciptakan basis permintaan yang luas dan menjadi modal penting bagi keberlangsungan aktivitas ekonomi. Di samping itu, Indonesia memiliki penduduk usia produktif dalam jumlah besar. Komposisi demografis ini merupakan potensi yang dapat mendukung pertumbuhan apabila dikelola secara baik dan diarahkan untuk memperkuat kemampuan ekonomi nasional.

Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang menjadi bagian dari keunggulan negara. Ketersediaan sumber daya tersebut memperbesar peluang pertumbuhan dan memberikan fondasi yang penting di tengah perubahan lingkungan global. Namun, berbagai potensi itu tidak akan berkembang dengan sendirinya. Pengelolaan yang baik diperlukan agar kelebihan yang dimiliki dapat memberikan manfaat secara optimal bagi perekonomian.

Optimisme menjadi landasan penting dalam melihat peluang tersebut. Gejolak dan ketidakpastian global perlu dihadapi dengan keyakinan terhadap kemampuan Indonesia, tanpa mengabaikan tantangan yang ada. Besarnya pasar, banyaknya penduduk usia produktif, serta kekayaan sumber daya alam menunjukkan bahwa ruang pertumbuhan masih terbuka. Dengan pengelolaan yang baik dan sikap optimistis, Indonesia dinilai tetap memiliki kemampuan untuk melanjutkan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

Destry menilai pengalaman Indonesia menghadapi berbagai tekanan ekonomi menjadi salah satu dasar keyakinannya bahwa perekonomian nasional memiliki kemampuan untuk merespons gejolak global. Dalam perjalanannya, Indonesia telah melewati krisis moneter 1998 yang memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi dan keuangan. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting mengenai perlunya menjaga ketahanan nasional, memperkuat koordinasi, serta merespons perubahan secara terukur.

Selain krisis moneter, Indonesia juga menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Tekanan yang berawal dari perekonomian dunia itu menguji kemampuan berbagai negara, termasuk Indonesia, dalam mempertahankan stabilitas dan menjaga aktivitas ekonomi. Pengalaman berikutnya terjadi selama pandemi Covid-19, ketika gangguan kesehatan dan pembatasan kegiatan turut memengaruhi kehidupan masyarakat serta dinamika perekonomian. Menurut Destry, rangkaian pengalaman tersebut membentuk pemahaman bahwa Indonesia tidak asing dengan situasi penuh ketidakpastian.

Pengalaman melewati sejumlah krisis itu menjadi bagian dari keyakinan Destry terhadap kemampuan Indonesia dalam menghadapi gejolak global saat ini. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kerja sama dan sinergi nasional agar setiap tantangan dapat dihadapi secara bersama-sama. Sinergi tersebut ia sebut sebagai sinergi Merah Putih, yakni semangat untuk memperkuat kolaborasi antarpihak dalam menjaga kepentingan ekonomi nasional. Melalui koordinasi dan kesatuan langkah, sinergi Merah Putih diharapkan membantu Indonesia melewati situasi global yang penuh tekanan. Pesan itu menempatkan kerja sama sebagai unsur penting dalam menghadapi perubahan, tanpa mengabaikan pengalaman yang telah diperoleh dari berbagai krisis sebelumnya.

Baca juga: Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Bali yang Berkelanjutan | Rupiah Anjlok Dipengaruhi Sentimen Ekonomi Global | Menikmati Malam di Taman Jakarta yang Terbuka 24 Jam

banner 325x300