banner 728x250

BI Paparkan Kondisi Inflasi dan Langkah Menjaga Rupiah kepada Prabowo

BI Paparkan Kondisi Inflasi dan Langkah Menjaga Rupiah kepada Prabowo
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas yang berlangsung di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Senin, 19 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Bank Indonesia untuk memaparkan perkembangan kondisi ekonomi yang berkaitan langsung dengan stabilitas, terutama pergerakan inflasi dan nilai tukar rupiah. Dua aspek ini disampaikan sebagai fokus utama laporan BI kepada Presiden.

Dalam pemaparannya, BI membahas inflasi sebagai salah satu indikator penting yang memengaruhi kestabilan perekonomian. Perkembangan harga perlu diperhatikan karena berdampak pada daya beli masyarakat dan kepastian dalam kegiatan ekonomi. Selain inflasi, laporan tersebut menyoroti nilai tukar rupiah, yang menjadi perhatian dalam menjaga kondisi moneter tetap stabil. Penyampaian kedua hal itu memperlihatkan cakupan laporan yang berpusat pada tantangan stabilitas ekonomi, tanpa memisahkan pembahasan inflasi dari perkembangan rupiah.

banner 325x300

BI juga menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah. Komitmen tersebut berkaitan dengan upaya mempertahankan nilai tukar agar tetap terjaga, sekaligus memperhatikan hubungannya dengan inflasi. Dengan demikian, perhatian terhadap rupiah dan harga menjadi bagian dari fokus stabilitas yang dilaporkan kepada Prabowo dalam rapat di Istana Merdeka. Penyampaian laporan ini menegaskan bahwa BI memandang kestabilan inflasi dan nilai tukar sebagai dua aspek yang perlu dicermati bersama. Dalam konteks itu, laporan Destry merangkum kondisi pada kedua bidang tersebut serta komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah. Pokok pembahasan yang disampaikan kepada Presiden tetap terbatas pada inflasi dan nilai tukar, sesuai dengan fokus laporan yang dijelaskan BI. Rapat tersebut berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026, di Jakarta Pusat, dengan Istana Merdeka sebagai tempat penyampaian laporan.

Destry menyampaikan bahwa inflasi inti pada September tercatat sebesar 2,8 persen. Angka tersebut dinilai menunjukkan bahwa kondisi perekonomian masih cukup terkendali. Inflasi inti menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam membaca perkembangan harga secara lebih mendasar, sehingga capaian ini memberi gambaran bahwa tekanan harga pada komponen tersebut masih berada pada tingkat yang terjaga. Penyampaian data ini menjadi bagian dari paparan Bank Indonesia mengenai kondisi inflasi dan upaya menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, inflasi bahan pangan atau volatile food tercatat mencapai 5 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi inti. Perbedaan angka tersebut menempatkan perkembangan harga pangan sebagai perhatian tersendiri dalam pembahasan inflasi. Data yang disampaikan Destry menunjukkan bahwa pemantauan terhadap kelompok pangan tetap penting, meskipun inflasi inti dinilai menggambarkan perekonomian yang cukup terkendali. Fokus kebijakan, dalam hal ini, diarahkan pada upaya menjaga inflasi pangan agar tetap berada dalam sasaran yang telah ditetapkan.

Untuk mendukung upaya tersebut, BI berencana berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian. Koordinasi ini ditujukan untuk menjaga inflasi pangan agar masuk dalam koridor sasaran inflasi BI, yakni 2,5 persen, dengan toleransi plus-minus 1 persen. Sasaran tersebut menjadi acuan bersama dalam membahas langkah pengendalian harga pangan dan menjaga stabilitas harga secara keseluruhan. Melalui koordinasi antarlembaga, BI dan Kementerian Pertanian dapat menyelaraskan perhatian pada perkembangan inflasi pangan serta langkah yang diperlukan untuk mengupayakan agar angkanya tetap berada dalam rentang sasaran. Dengan demikian, paparan Destry memperlihatkan dua kondisi yang berjalan berdampingan: inflasi inti pada September berada di 2,8 persen dan dinilai terkendali, sedangkan inflasi volatile food sebesar 5 persen menjadi fokus koordinasi berikutnya.

Destry menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak terlepas dari volatilitas global yang masih tinggi. Kondisi eksternal tersebut menciptakan ketidakpastian bagi banyak negara, terutama ketika arah kebijakan moneter Amerika Serikat tetap menjadi perhatian pasar. Dalam situasi seperti ini, pergerakan mata uang di negara berkembang dapat dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap suku bunga dan perkembangan inflasi global. Karena itu, tantangan menjaga kestabilan rupiah perlu dipahami dalam konteks tekanan internasional, bukan semata-mata berdasarkan kondisi domestik. Bank Indonesia terus mencermati perkembangan tersebut dan menilai dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar.

Amerika Serikat, menurut penjelasan Destry, sedang menghadapi kondisi higher for longer, yaitu suku bunga yang berpotensi bertahan pada tingkat tinggi dalam waktu lebih lama. Inflasi di negara tersebut juga masih jauh di atas target, sehingga kebijakan moneter yang ketat tetap menjadi pertimbangan. Perkiraan kenaikan Fed Funds Rate menjadi salah satu tantangan bagi rupiah karena dapat menambah tekanan pada mata uang negara berkembang. Meski demikian, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober saat ini disebut lebih kecil. Perkiraan tersebut bukan berarti tekanan eksternal telah hilang, melainkan menunjukkan bahwa prospek kebijakan masih perlu dipantau seiring perubahan data dan kondisi ekonomi.

Di tengah dinamika itu, Destry menyampaikan bahwa selama dua hari terakhir Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas rupiah. Perlambatan yang terjadi pada rupiah disebut sejalan dengan kondisi di sejumlah negara emerging market. Penjelasan ini menempatkan pergerakan mata uang domestik dalam gambaran yang lebih luas, ketika berbagai negara berkembang sama-sama merasakan pengaruh volatilitas global dan prospek suku bunga Amerika Serikat. BI tetap memperhatikan perkembangan eksternal tersebut sembari menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan demikian, pengelolaan rupiah berlangsung di tengah keseimbangan tekanan internasional dan upaya mempertahankan kestabilan, tanpa mengabaikan dinamika yang juga dialami negara-negara sejenis. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa respons terhadap tekanan perlu berlandaskan pemantauan berkelanjutan atas kondisi global dan domestik.

Destry menyampaikan bahwa Prabowo meminta Bank Indonesia (BI) terus mencermati perkembangan nilai tukar dan mengupayakan kebijakan yang berada dalam kewenangan bank sentral untuk menjaga rupiah di pasar. Pesan tersebut menekankan perlunya pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi pasar valuta asing, sekaligus kesiapan BI menggunakan instrumen yang tersedia. Upaya menjaga rupiah ini disampaikan sebagai bagian dari respons kebijakan BI terhadap dinamika pasar, tanpa mengesampingkan pengamatan atas perkembangan yang berlangsung. Destry menjelaskan pesan itu ketika memaparkan langkah-langkah BI kepada Prabowo.

Instrumen yang disebut mencakup intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF. Pasar spot merupakan ruang transaksi valuta asing untuk penyerahan langsung, sedangkan NDF dan DNDF adalah instrumen transaksi berjangka yang turut digunakan dalam pengelolaan nilai tukar. Melalui pilihan tersebut, BI dapat melakukan langkah di beberapa segmen pasar sesuai kebutuhan. Destry juga menyebut insentif biaya hedging yang telah diberikan sejak akhir Juli. Insentif ini berkaitan dengan upaya mendorong pelaku pasar memanfaatkan transaksi lindung nilai, sehingga kebutuhan pengelolaan risiko valuta asing dapat difasilitasi melalui instrumen yang tersedia. Kebijakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari langkah BI menjaga rupiah, bersama intervensi pada pasar valuta asing.

Menurut Destry, kebijakan yang ditempuh telah mendatangkan arus masuk melalui FX swap maupun DNDF. Nilainya diperkirakan sekitar US$8 miliar hingga US$9 miliar. Angka tersebut merupakan perkiraan yang dilaporkan Destry mengenai arus masuk melalui kedua instrumen itu. Penyebutan capaian tersebut melengkapi penjelasan mengenai opsi kebijakan yang diminta terus dicermati dan diupayakan BI, termasuk intervensi di pasar spot, NDF, dan DNDF serta insentif biaya hedging sejak akhir Juli. Dengan demikian, paparan Destry memuat pesan Prabowo, daftar instrumen yang disebut, dan perkiraan arus masuk valuta asing yang dilaporkan melalui FX swap maupun DNDF, tanpa menyatakan ukuran lain di luar perkiraan tersebut.

Baca juga: Dugaan Mafia Tanah Riau Disorot, GMPB Dukung Langkah Agrinas | Prabowo Tegaskan Kritis terhadap Pakar Bermasalah | Ucapan Selamat Prabowo untuk Peringatan PAN ke-28

banner 325x300