Jakarta | Harga emas dunia kembali berada di bawah tekanan dalam perdagangan global. Pada Selasa, 13 Oktober 2026, harga emas tercatat turun berdasarkan data Refinitiv. Penurunan tersebut membawa harga logam mulia itu ke level US.156,75 per troy ons, atau melemah 0,34% dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan harga emas berlanjut pada perdagangan Rabu pagi, 14 Oktober 2026. Berdasarkan data yang sama, harga emas melandai 0,02% menjadi US$4.155,76 per troy ons pada pukul 06.42 WIB. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa harga emas masih bergerak lebih rendah setelah penurunan yang terjadi sehari sebelumnya.
Dengan perkembangan itu, emas memperpanjang penurunan selama dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Selasa, penurunan berlangsung dengan persentase yang lebih besar, sedangkan pelemahan pada Rabu pagi tercatat lebih terbatas. Meski demikian, harga emas tetap berada di bawah level penutupan perdagangan sebelumnya pada saat data terakhir dihimpun.
Rangkaian pergerakan tersebut menjadi gambaran awal kondisi harga emas dunia pada perdagangan tengah pekan. Data Refinitiv memperlihatkan adanya kesinambungan pelemahan dari Selasa hingga Rabu pagi, dengan harga turun dari US$4.156,75 menjadi US$4.155,76 per troy ons. Selisih pergerakan pada kedua sesi tersebut mencerminkan perubahan yang tipis, tetapi tetap mempertahankan arah penurunan harga emas dalam dua hari perdagangan.
Investor cenderung bersikap hati-hati terhadap pasar logam mulia karena perhatian utama tertuju pada sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat pekan ini. Data inflasi dapat memengaruhi penilaian pasar terhadap langkah Federal Reserve, terutama mengenai kemungkinan perubahan suku bunga dalam pertemuan mendatang. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar menahan transaksi besar dan memilih menunggu sinyal yang lebih jelas sebelum menentukan arah investasi. Kondisi ini turut membatasi penguatan harga emas dan perak, meskipun keduanya masih dipandang sebagai aset pelindung nilai ketika risiko ekonomi meningkat.
Data Consumer Price Index (CPI) dijadwalkan terbit pada Rabu malam. Laporan tersebut akan menjadi perhatian karena menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa yang dibayarkan konsumen, sekaligus memberikan petunjuk mengenai tekanan inflasi terbaru. Sehari setelahnya, pasar akan menerima Producer Price Index (PPI), yang mengukur perubahan harga di tingkat produsen. Jika kedua indikator menunjukkan inflasi yang lebih kuat dari perkiraan, ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat akan bertahan tinggi dapat meningkat. Sebaliknya, angka yang lebih rendah berpotensi memperkuat harapan pelonggaran kebijakan dan mendukung permintaan terhadap logam mulia.
Senior market strategist di StoneX, Bob Haberkorn, mengatakan bahwa pasar masih menunggu hasil rangkaian data inflasi pada pekan tersebut. Menurutnya, investor belum memiliki alasan kuat untuk mengambil posisi agresif sebelum angka CPI dan PPI tersedia. Selain data ekonomi, pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Kamis juga akan dicermati secara saksama. Komentarnya diperkirakan dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga serta cara bank sentral menilai risiko inflasi. Kombinasi rilis data dan agenda pidato tersebut berpotensi membuat pergerakan harga emas sangat volatil, karena perubahan ekspektasi kebijakan dapat segera memengaruhi imbal hasil obligasi, nilai dolar AS, dan minat terhadap aset tanpa imbal hasil.
Prospek suku bunga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi daya tarik emas. Berbeda dari obligasi atau deposito, emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga. Karena itu, ketika suku bunga meningkat dan aset berbasis bunga menawarkan keuntungan lebih besar, biaya peluang memegang emas ikut naik. Kondisi tersebut dapat mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang menghasilkan pendapatan tetap, sehingga harga emas menghadapi tekanan.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober diperkirakan hanya sekitar 19%. Namun, probabilitas kenaikan pada Desember mencapai 88%, menunjukkan bahwa pasar masih bersiap menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat pada akhir tahun. Perbedaan ekspektasi tersebut membuat pergerakan emas tetap sensitif terhadap data ekonomi Amerika Serikat, terutama data inflasi yang dapat memengaruhi keputusan bank sentral.
Gubernur The Fed Christopher Waller menyatakan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS belakangan ini lebih mencerminkan penguatan pertumbuhan ekonomi daripada meningkatnya ekspektasi inflasi. Menurutnya, tekanan inflasi masih terkendali. Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun memang telah terkoreksi dari level tertingginya, tetapi keduanya masih berada pada tingkat yang relatif tinggi. Posisi tersebut tetap membatasi ruang penguatan emas, karena aset tersebut bersaing dengan instrumen berdenominasi dolar yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Analis Commerzbank menilai kenaikan suku bunga memiliki dua sisi bagi emas. Di satu sisi, kebijakan tersebut meningkatkan biaya peluang kepemilikan emas. Di sisi lain, suku bunga tinggi dapat memperbesar beban fiskal pemerintah dan memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan utang. IMF juga memperingatkan risiko yang ditimbulkan oleh tingginya utang pemerintah. Kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi semakin terdorong oleh tekanan inflasi akibat perang, sehingga ketidakpastian fiskal dan moneter dapat tetap menjadi penopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
Tekanan di pasar logam mulia juga terlihat pada pergerakan harga perak. Berdasarkan data Refinitiv, harga perak anjlok 1,45% menjadi US$59,44 per troy ons pada perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026. Penurunan ini menunjukkan bahwa perak turut berada dalam tekanan ketika pelaku pasar menanti perkembangan ekonomi Amerika Serikat, khususnya data inflasi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter dan pergerakan aset.
Pelemahan harga perak berlanjut pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Pada pukul 06.42 WIB, harga komoditas tersebut tercatat melemah 0,54% menjadi US$59,11 per troy ons. Dengan demikian, perak mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Pergerakan tersebut mencerminkan masih tingginya kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian pasar serta menunggu indikator ekonomi yang dapat memberikan petunjuk lebih jelas mengenai kondisi perekonomian global.
Selain logam mulia, harga minyak juga tercatat melemah dan berada di jalur penurunan pertama dalam hampir sepekan. Pergerakan sejumlah komoditas tersebut berlangsung menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, yang menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Investor memantau data itu bersama perkembangan harga komoditas lain untuk menilai dinamika perdagangan pada sesi-sesi berikutnya. Pada saat yang sama, harga perak masih mencatat pelemahan dua hari beruntun, dengan level US$59,11 per troy ons menjadi posisi terakhir berdasarkan data pada Rabu pagi.
Baca juga: Prediksi Kemacetan Lalu Lintas Menjelang Laga Persija vs Persib | Penurunan Harga Emas Perhiasan di Pasar Indonesia | Penurunan Harga Emas Perhiasan di Jakarta: Apa yang Terjadi?






