banner 728x250

IPAL Losari dan Tantangan Memperluas Layanan Sanitasi di Indonesia

IPAL Losari dan Tantangan Memperluas Layanan Sanitasi di Indonesia
banner 120x600
banner 468x60

Makassar | Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari di Makassar merupakan salah satu infrastruktur sanitasi paling besar di Indonesia, sekaligus fasilitas pengolahan air limbah terbesar di kawasan timur Indonesia. Kehadirannya dirancang untuk memperkuat layanan sanitasi perkotaan, mengurangi pembuangan air limbah yang tidak terkelola, serta mendukung kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Pembangunannya dimulai pada 2019, sementara fasilitas tersebut diresmikan pada 2024, pada era Presiden Joko Widodo. Rentang waktu tersebut mencerminkan besarnya pekerjaan yang diperlukan untuk membangun sistem pengolahan terpusat beserta jaringan penghubungnya di wilayah perkotaan.

Proyek IPAL Losari memiliki nilai sekitar Rp1,2 triliun. Dari jumlah itu, sekitar Rp672 miliar berasal dari pendanaan pinjaman Asian Development Bank (ADB), sedangkan sisa pembiayaan berasal dari sumber lain dalam skema proyek. Investasi tersebut mencakup pembangunan fasilitas dan infrastruktur pendukung yang diperlukan agar air limbah dapat dikumpulkan, dialirkan, lalu diolah sebelum dibuang kembali secara lebih aman. Besarnya nilai proyek juga menunjukkan bahwa perluasan sanitasi membutuhkan komitmen pembiayaan jangka panjang, koordinasi antarlembaga, dan pengelolaan operasional yang berkelanjutan setelah pembangunan fisik selesai.

banner 325x300

Kapasitas rancangan fasilitas ini mencapai hingga 16.000 meter kubik air limbah per hari, yang ditujukan untuk melayani wilayah dari empat kecamatan di Makassar. Angka tersebut menggambarkan kemampuan desain ketika sistem beroperasi sesuai sasaran, bukan volume yang saat ini telah diproses. Pada kondisi sekarang, IPAL Losari mengolah sekitar 1.200 meter kubik per hari. Fasilitas ini juga telah terhubung dengan sekitar 14.000 jaringan sanitasi. Angka jaringan itu merujuk pada sambungan atau jaringan layanan yang terhubung, dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah rumah tangga. Perbedaan kapasitas rancangan dan volume aktual menjadi ukuran penting untuk melihat tahap pemanfaatan fasilitas, sekaligus tantangan memperluas sambungan, meningkatkan penggunaan layanan, dan memastikan kapasitas besar dapat memberi manfaat nyata bagi lebih banyak warga.

Kunjungan Direktur Asian Development Bank (ADB) untuk Indonesia, Bobur Alimov, ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Losari pada 21 Oktober 2026 menyoroti peluang untuk memperluas layanan sanitasi di kawasan tersebut. Menurut Bobur, kapasitas terpasang fasilitas itu masih menyediakan ruang pengembangan. Pemanfaatan harian saat ini sekitar 1.200 meter kubik, sehingga kemampuan pengolahan yang tersedia belum digunakan sepenuhnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perluasan layanan tidak hanya bergantung pada kapasitas instalasi, tetapi juga pada jumlah rumah tangga yang tersambung ke sistem. Bobur menyampaikan bahwa penambahan sambungan dapat membuka peluang bagi lebih banyak warga untuk mengelola air limbah melalui fasilitas terpusat. Dengan demikian, infrastruktur yang telah dibangun dapat dimanfaatkan lebih optimal sekaligus menjangkau kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Sambungan baru menjadi langkah penting agar kapasitas pengolahan dapat digunakan seiring meningkatnya cakupan pelayanan.

Pertumbuhan kota membuat kebutuhan sanitasi terus berkembang. Bertambahnya penduduk dan aktivitas perkotaan biasanya meningkatkan volume limbah cair yang perlu ditangani secara aman. Layanan yang tidak berkembang sejalan dengan pertumbuhan tersebut dapat membebani sistem yang ada dan meningkatkan risiko pembuangan air limbah tanpa pengolahan memadai. Bobur mengingatkan bahwa kekurangan fasilitas sanitasi dapat berdampak pada kesehatan masyarakat dan kondisi lingkungan. Karena itu, perluasan sambungan dan pengelolaan yang memadai perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari perencanaan kota, bukan hanya sebagai urusan teknis instalasi.

Pandangan Bobur juga menempatkan investasi sanitasi dalam cakupan yang lebih luas daripada pembangunan fasilitas fisik. Investasi tersebut berkaitan dengan upaya menjaga kesehatan warga, melindungi lingkungan dari pencemaran, serta mendukung kelayakan huni kota. IPAL Losari yang memiliki kapasitas tersisa dapat berperan lebih besar apabila jaringan layanan diperluas dan masyarakat memperoleh akses untuk tersambung. Pengembangan itu memerlukan perhatian terhadap kebutuhan warga, kesiapan jaringan, dan kemampuan pengelolaan jangka panjang. Dengan pemanfaatan kapasitas yang lebih baik, layanan sanitasi dapat mengikuti pertumbuhan kawasan sekaligus membantu mengurangi risiko kesehatan dan lingkungan yang berkaitan dengan limbah cair perkotaan.

IPAL Losari di Makassar perlu dipahami sebagai bagian dari upaya sanitasi perkotaan yang lebih luas, bukan proyek yang berdiri sendiri. Fasilitas ini termasuk dalam Metropolitan Sanitation Management Investment Program (MSMIP), program pengelolaan dan investasi sanitasi metropolitan yang didukung oleh Asian Development Bank (ADB). Cakupannya meliputi tiga kota, yakni Makassar, Jambi, dan Pekanbaru. Dengan pendekatan lintas kota, program tersebut diarahkan untuk membantu pemerintah daerah memperluas layanan air limbah perkotaan sekaligus meningkatkan mutu pengelolaannya. Posisi Losari dalam kerangka ini menghubungkan pembangunan infrastruktur setempat dengan agenda nasional untuk memperbaiki akses sanitasi yang aman dan berkelanjutan.

Skala pembiayaan MSMIP mencerminkan kebutuhan investasi yang besar dan keterlibatan beberapa mitra. Total pembiayaan program setara dengan US$301,81 juta. Dari jumlah tersebut, ADB menyediakan US$79,36 juta, sedangkan ASEAN Infrastructure Fund memberikan pembiayaan bersama sebesar US$35,45 juta. Pemerintah Australia turut mendukung program melalui hibah senilai US$47,65 juta. Sementara itu, kontribusi Pemerintah Indonesia mencapai US$139,35 juta. Komposisi sumber dana ini memperlihatkan bahwa pelaksanaan program mengandalkan kemitraan pemerintah dan lembaga pembiayaan pembangunan. Dana tersebut mendukung rangkaian investasi sanitasi di kota-kota sasaran, termasuk infrastruktur pengumpulan dan pengolahan air limbah yang berkaitan dengan layanan di Makassar.

Tujuan utama proyek adalah memperluas akses masyarakat terhadap pengumpulan dan pengolahan air limbah yang aman. Sasaran ini menanggapi rendahnya cakupan layanan pembuangan limbah perkotaan, yang dapat membatasi perlindungan kesehatan publik dan lingkungan. Namun, pembangunan fasilitas saja tidak cukup untuk memastikan layanan berjalan secara konsisten. Karena itu, MSMIP juga bertujuan memperkuat kapasitas kelembagaan agar pengelola mampu menjalankan operasi dan pemeliharaan dalam jangka panjang. Kesiapan organisasi, pembagian tanggung jawab, serta kemampuan menjaga aset menjadi bagian penting dari keberlanjutan investasi. Bagi IPAL Losari, kerangka program ini menegaskan bahwa keberhasilan sanitasi bergantung pada gabungan infrastruktur, pembiayaan, dan tata kelola. Pengalaman pelaksanaan di Makassar, Jambi, dan Pekanbaru juga menempatkan perluasan layanan sebagai pekerjaan lintas sektor yang memerlukan kesinambungan dukungan.

Tiga fasilitas pengolahan air limbah yang dibangun di Jambi, Makassar, dan Pekanbaru memiliki kapasitas rancangan gabungan sebesar 31,7 megaliter per hari. Untuk mendukung penyaluran air limbah menuju fasilitas tersebut, sebanyak 159,4 kilometer saluran telah terpasang. Infrastruktur ini menjadi bagian penting dari upaya memperluas layanan sanitasi perkotaan, karena manfaat fasilitas pengolahan bergantung pula pada tersedianya jaringan yang menghubungkan rumah dan tempat usaha dengan sistem. Dengan jaringan yang terus bertambah, lebih banyak warga dapat memperoleh layanan pengelolaan air limbah yang sebelumnya belum tersedia atau belum terjangkau secara memadai.

Jumlah sambungan yang telah dipasang saat ini mencakup 1.475 rumah tangga dan 147 properti komersial. Angka tersebut menggambarkan tahap awal pemanfaatan jaringan, bukan keseluruhan sasaran layanan. Seiring penambahan sambungan, sistem di ketiga kota diperkirakan akan melayani lebih dari 34.000 rumah tangga dan 10.400 properti komersial. Perbedaan jumlah sambungan yang sudah terpasang dan proyeksi pengguna menunjukkan besarnya pekerjaan yang masih diperlukan untuk memperluas akses. Pengembangan jaringan perlu berjalan bertahap agar kapasitas fasilitas dapat dimanfaatkan oleh semakin banyak pelanggan, baik rumah tangga maupun kegiatan usaha, tanpa mengabaikan kebutuhan warga yang menghadapi hambatan untuk tersambung.

Perluasan layanan juga perlu mempertimbangkan keterjangkauan.

Baca juga: Peningkatan Layanan KRL di Jakarta: Pengalihan Rangkaian dan Tambahan Perjalanan | Tantangan Kepastian Hukum Terhadap Iklim Investasi di Indonesia | Tantangan Petambak Udang Indonesia di Tengah Arus Impor

banner 325x300