Kota Jakarta | Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan anggaran sebesar Rp5,07 triliun untuk mempercepat elektrifikasi armada Transjakarta. Kebijakan ini menjadi bagian penting dari upaya Jakarta mengalihkan layanan transportasi publik dari ketergantungan terhadap bahan bakar konvensional menuju penggunaan energi yang lebih bersih. Alokasi tersebut diharapkan dapat mendukung pengadaan, pengembangan, serta kesiapan operasional bus listrik secara bertahap hingga seluruh armada Transjakarta berbasis energi bersih pada 2029.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan rencana itu saat menghadiri penandatanganan 15 kerja sama badan usaha milik daerah, badan usaha milik negara, dan perangkat daerah di Balai Kota Jakarta pada Senin, 12 Oktober 2026. Forum tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi lintas institusi dalam menjalankan agenda transportasi rendah emisi. Kolaborasi diperlukan karena elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan pembelian kendaraan, tetapi juga mencakup penyediaan infrastruktur pengisian daya, penyesuaian depo, pemeliharaan, dan pengelolaan sistem kelistrikan.
Anggaran Rp5,07 triliun diarahkan untuk mempercepat proses peralihan bus Transjakarta dari teknologi berbahan bakar fosil ke kendaraan bertenaga listrik. Perubahan ini diharapkan mengurangi emisi gas buang dan meningkatkan kualitas udara di wilayah perkotaan, terutama pada koridor dengan intensitas perjalanan tinggi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga perlu memastikan proses tersebut berlangsung secara terukur agar keandalan layanan, keselamatan penumpang, dan keterjangkauan tarif tetap terjaga. Dengan dukungan kerja sama antarlembaga, elektrifikasi armada dapat dilaksanakan melalui tahapan yang jelas, sekaligus membangun ekosistem transportasi publik yang lebih efisien dan berkelanjutan bagi masyarakat Jakarta.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan seluruh bus yang beroperasi dalam layanan Transjakarta menggunakan energi bersih pada 2029. Target tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat transformasi transportasi publik sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Dengan beralih ke teknologi yang menghasilkan emisi lebih rendah, pemerintah berharap kualitas udara perkotaan membaik dan sistem mobilitas Jakarta menjadi lebih berkelanjutan.
Gubernur DKI Jakarta Pramono menyampaikan bahwa pada 2029 seluruh bus akan menggunakan salah satu dari tiga teknologi, yaitu listrik, hidrogen, atau hybrid. Pernyataan ini menunjukkan bahwa agenda pembaruan armada tidak semata-mata diarahkan pada bus listrik. Setiap teknologi memiliki karakteristik, kebutuhan infrastruktur, serta tingkat kesiapan yang berbeda, sehingga penerapannya dapat disesuaikan dengan kondisi operasional dan perkembangan industri.
Bus listrik tetap menjadi salah satu pilihan utama karena mampu beroperasi tanpa emisi langsung dan dapat mendukung penurunan polusi di kawasan padat. Namun, bus hidrogen juga dipertimbangkan sebagai alternatif, terutama ketika kebutuhan jarak tempuh, waktu pengisian energi, atau kapasitas layanan memerlukan solusi berbeda. Di sisi lain, bus hybrid dapat menjadi teknologi transisi yang menggabungkan mesin konvensional dengan sistem penggerak listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi selama masa peralihan.
Rencana tersebut menuntut persiapan menyeluruh, mulai dari pengadaan armada, pembangunan fasilitas pengisian atau pengisian ulang energi, hingga peningkatan kemampuan teknis pengelola dan awak kendaraan. Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan pasokan energi bersih, skema pembiayaan, serta standar keselamatan untuk setiap jenis bus. Dengan pendekatan yang beragam, target 2029 diharapkan dapat dicapai secara bertahap tanpa mengganggu keandalan layanan. Kebijakan ini sekaligus menegaskan arah Jakarta menuju transportasi publik rendah emisi yang lebih modern, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kondisi armada Transjakarta saat ini menunjukkan bahwa elektrifikasi telah berjalan, tetapi cakupannya masih terbatas dibandingkan keseluruhan jumlah bus yang melayani masyarakat. Sekitar 500 bus listrik telah beroperasi di Jakarta. Kehadiran bus-bus tersebut menjadi dasar penting bagi perubahan menuju sistem transportasi publik yang menggunakan energi lebih bersih, sekaligus menandai bahwa penggunaan kendaraan listrik sudah menjadi bagian dari layanan Transjakarta.
Di sisi lain, jumlah keseluruhan armada Transjakarta mencapai sekitar 3.782 bus. Perbandingan sekitar 500 bus listrik dan total armada itu memperlihatkan adanya selisih yang masih besar jumlah kendaraan yang sudah berbasis listrik dan seluruh bus yang beroperasi. Secara proporsional, bus listrik yang tersedia saat ini setara dengan sekitar 13 persen dari total armada. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai skala perubahan yang perlu dicapai agar seluruh layanan Transjakarta menggunakan energi bersih.
Pemerintah daerah menargetkan seluruh armada Transjakarta telah berbasis energi bersih pada 2029. Target ini mencakup seluruh jumlah bus, bukan hanya kendaraan listrik yang telah beroperasi saat ini. Dengan demikian, sekitar 500 bus listrik menjadi bagian awal dari upaya menuju cakupan penuh, sementara sekitar 3.782 bus merupakan ukuran keseluruhan armada yang menjadi sasaran kebijakan tersebut. Perbandingan ini penting untuk memahami bahwa target 2029 berkaitan dengan perubahan pada seluruh sistem armada Transjakarta. Data yang ada menunjukkan posisi awal kebijakan secara jelas: sebagian bus telah menggunakan listrik, sedangkan target pemerintah daerah mengarah pada penerapan energi bersih untuk seluruh armada.
Pengembangan armada berbasis energi bersih menjadi salah satu langkah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk membangun transportasi umum yang lebih ramah lingkungan. Upaya ini mencakup penggunaan bus listrik, bus berbahan bakar hidrogen, serta bus hybrid yang memadukan mesin konvensional dengan tenaga listrik. Peralihan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembaruan kendaraan, tetapi juga mencerminkan perubahan arah kebijakan transportasi perkotaan agar lebih mendukung keberlanjutan.
Selama ini, sebagian armada bus masih mengandalkan bahan bakar konvensional yang menghasilkan emisi karbon dan polutan udara. Dengan memperluas penggunaan teknologi rendah emisi, Jakarta berupaya mengurangi ketergantungan pada solar dan bahan bakar fosil lainnya. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan pelepasan gas buang, terutama di koridor dengan kepadatan lalu lintas tinggi dan aktivitas kendaraan yang berlangsung sepanjang hari.
Gubernur DKI Jakarta Pramono menyampaikan bahwa dalam waktu dekat Jakarta akan memiliki bus hidrogen dan bus hybrid. Kehadiran kedua jenis armada ini akan melengkapi pengembangan bus listrik yang telah berjalan secara bertahap. Setiap teknologi memiliki karakteristik dan kebutuhan operasional yang berbeda, sehingga penerapannya dapat disesuaikan dengan rute, jarak tempuh, kapasitas penumpang, serta kesiapan infrastruktur pengisian atau pengisian ulang energi.
Selain meningkatkan kualitas layanan, diversifikasi armada energi bersih dapat memperkuat peran Transjakarta dalam mengurangi pencemaran udara. Bus dengan emisi lebih rendah berpotensi menghasilkan lingkungan perjalanan yang lebih sehat bagi penumpang, pengemudi, dan masyarakat di sekitar jalur layanan. Elektrifikasi transportasi, bersama pemanfaatan hidrogen dan teknologi hybrid, menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta secara bertahap sekaligus mendorong sistem mobilitas yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Baca juga: Pengalaman Berinteraksi dengan Robot Cerdas di Jakarta | Rekomendasi Kafe Terjangkau di Jakarta Selatan untuk Bersantai | Destinasi Liburan Keluarga di Jakarta: Menemukan Tempat Ramah Anak







