banner 728x250

Jejak Dakwah KH Syukron Ma’mun, dari Madura hingga Daarul Rahman

Jejak Dakwah KH Syukron Ma’mun, dari Madura hingga Daarul Rahman
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | KH Syukron Ma’mun wafat pada Minggu, 18 Oktober 2026. Kabar meninggalnya ulama tersebut menjadi berita duka bagi keluarga, para santri, dan masyarakat yang mengenal perjalanan dakwahnya. Sebelum wafat, beliau menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Informasi mengenai kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang ulama yang namanya lekat dengan kegiatan pendidikan dan dakwah, khususnya melalui Pondok Pesantren Daarul Rahman.

KH Syukron Ma’mun mengalami gangguan jantung sejak pekan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat beliau mendapatkan perawatan di rumah sakit di kawasan Jakarta Selatan. Beliau kemudian meninggal dunia setelah menjalani perawatan tersebut. Keterangan mengenai gangguan jantung dan masa perawatan itu menjadi bagian dari kabar wafat yang disampaikan, tanpa rincian medis lain. Dengan demikian, berita duka ini berfokus pada waktu kepergian beliau, perawatan yang dijalani, serta tempat yang menjadi tujuan pemakaman.

banner 325x300

Setelah salat zuhur, salat jenazah dilaksanakan sebelum jenazah dimakamkan. Pemakaman berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa. Lokasi tersebut merupakan tempat yang terkait erat dengan kiprah KH Syukron Ma’mun dalam dunia pesantren. Jenazah beliau dimakamkan di kompleks itu setelah rangkaian salat jenazah seusai zuhur. Keterangan tersebut memberikan informasi mengenai waktu dan lokasi pemakaman, tanpa menambahkan rincian lain tentang jalannya prosesi.

Kepergian KH Syukron Ma’mun pada 18 Oktober 2026 mengakhiri perjalanan hidupnya, sementara kabar tentang wafat dan pemakamannya menjadi perhatian masyarakat. Beliau meninggal setelah memperoleh perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah akibat gangguan jantung yang dialami sejak pekan sebelumnya. Selanjutnya, jenazah dibawa untuk dimakamkan di lingkungan Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jagakarsa, setelah salat jenazah seusai zuhur. Fakta-fakta tersebut merangkum kabar utama mengenai wafatnya ulama itu di Jakarta Selatan dan pemakamannya di kompleks pesantren.KH Syukron Ma’mun lahir di Sampang, Madura, pada 21 Desember 1941. Ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki kedekatan kuat dengan pendidikan dan kehidupan keislaman. Lingkungan keluarga tersebut menjadi bagian penting dari latar awal perjalanan hidupnya, sebelum ia menempuh pendidikan agama secara lebih terarah di pesantren. Tradisi belajar dan mengajarkan agama hadir di rumah melalui beberapa anggota keluarga, sehingga pendidikan Islam bukan hal yang jauh dari kesehariannya sejak kecil.

Kakeknya dikenal sebagai seorang kiai, sementara ayahnya, KH Makmun Nawawi, juga merupakan kiai. Ibunya, Hj Masturoh, berperan sebagai guru mengaji. Kehadiran figur-figur tersebut memperlihatkan bahwa Syukron berasal dari keluarga yang akrab dengan pengajaran agama, baik melalui pendidikan formal maupun pembelajaran di lingkungan rumah. Meski demikian, perjalanan dakwahnya tidak hanya bertumpu pada latar keluarga. Ia juga memperoleh bekal melalui pendidikan pesantren dan pengalaman yang dijalani sejak muda.

Syukron mulai berdakwah ketika menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren Gontor, pada jenjang Kulliyatus Mu’allimin. Masa belajar itu menjadi salah satu tahap awal dalam pengembangan dirinya sebagai pendidik dan penyampai ajaran Islam. Di lingkungan pesantren, pendidikan agama berjalan beriringan dengan pembentukan kemampuan mengajar. Pengalaman tersebut memberi ruang baginya untuk mulai menyampaikan dakwah, sekaligus memperdalam pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan keagamaan.

Setelah menyelesaikan jenjang tersebut, ia melanjutkan pendidikan di Institut Pendidikan Darussalam Gontor pada 1966. Dari lembaga itu, Syukron meraih gelar Bachelor of Arts (BA). Kelanjutan studi ini menunjukkan bahwa proses pendidikannya berlangsung bertahap, dari pembelajaran pesantren hingga pendidikan lanjutan di lingkungan Darussalam Gontor. Latar keluarga dan pendidikan agama sejak muda menjadi dua unsur yang saling melengkapi dalam kisah awal kehidupannya. Dari Sampang hingga Gontor, ia memperoleh dasar keilmuan serta pengalaman awal berdakwah yang kemudian menjadi bagian dari jejak pengabdiannya di bidang pendidikan Islam.

Sebelum berusia 30 tahun, KH Syukron Ma’mun telah menjalani dakwah di sejumlah daerah di Jawa Timur, lain Madiun, Ponorogo, Ngawi, Pacitan, dan Magetan. Perjalanan lintas daerah tersebut memperlihatkan bahwa kiprahnya sebagai pendakwah telah berkembang sejak usia muda. Ia menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat di tengah keadaan yang tidak selalu mudah, dengan keteguhan sebagai bekal dalam menjalankan tugas dakwah.

Salah satu tantangan pada masa itu datang dari penentangan kelompok pemuda komunis. Situasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman dakwahnya di daerah-daerah yang ia kunjungi. Tanpa mengabaikan tantangan itu, Syukron tetap dikenal menyampaikan ceramah secara tegas dan lugas. Gaya penyampaiannya bersemangat, disertai argumentasi yang kuat, sehingga pesan yang dibawanya dapat disampaikan secara jelas kepada para pendengar.

Isi dakwahnya berlandaskan prinsip Ahlussunnah wal Jamaah. Ketegasan dalam berbicara tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan bersama penguasaan materi dan kemampuan menyusun argumentasi. Perpaduan keberanian menyampaikan pandangan, kelugasan bahasa, dan semangat di mimbar kemudian berkaitan erat dengan julukan “Singa Podium” yang melekat kepadanya. Julukan itu menggambarkan sosok yang tampil penuh tenaga ketika menyampaikan dakwah, sekaligus menunjukkan ciri khasnya sebagai penceramah.

Bekal keilmuan Syukron juga terbentuk melalui proses belajar kepada sejumlah ulama. Ia belajar kepada Habib Ali bin Husein di Bungur dan Habib Abdurrahman al-Habsyi di Kwitang. Di pelajaran yang dipelajarinya ialah kitab Bukhari. Pengalaman menimba ilmu tersebut menjadi bagian penting dari latar keagamaannya, sementara kegiatan dakwah di berbagai daerah memberinya ruang untuk menyampaikan pengetahuan kepada masyarakat. Dengan demikian, perjalanan dakwahnya sejak muda berpadu dengan pendidikan agama, prinsip yang teguh, dan cara bertutur yang khas. Ciri-ciri inilah yang membantu menjelaskan mengapa namanya dikenal melalui dakwah yang tegas, lugas, serta kuat dalam argumentasi.Pada 1971, Syukron Ma’mun mulai mengajar di sejumlah perguruan tinggi. Aktivitas tersebut memperluas perannya dari pendakwah menjadi pendidik yang membagikan pengetahuan agama kepada mahasiswa. Di ruang kuliah, ia menyampaikan materi keislaman sekaligus membimbing generasi muda agar memahami ajaran agama secara lebih mendalam. Selain mengajar, ia juga menyelenggarakan kajian rutin di Islamic Center. Pertemuan berkala itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar, bertanya, dan berdiskusi mengenai persoalan keagamaan. Kehadiran Syukron dalam kegiatan pendidikan dan pengajian menunjukkan bahwa dakwahnya dijalankan melalui beragam jalur, tidak hanya di lingkungan pesantren atau mimbar.

Jangkauan dakwah Syukron meluas melampaui Jakarta dan Pulau Jawa. Ia berdakwah ke berbagai daerah di Sumatra, Kalimantan, dan Maluku, serta memenuhi undangan untuk menyampaikan pengajian di Malaysia dan Singapura. Perjalanan tersebut mempertemukannya dengan masyarakat yang beragam, sekaligus memperluas penyebaran pesan keislaman yang ia sampaikan. Kegiatan lintas daerah dan negara itu menjadi bagian penting dari kiprahnya sebagai ulama. Dalam setiap kesempatan, dakwah dan pengajaran berjalan beriringan: ia menyampaikan ajaran agama sekaligus mendorong masyarakat untuk mempelajarinya. Pengalaman berkeliling tersebut melengkapi pengabdiannya di lembaga pendidikan dan forum kajian, sebelum ia memusatkan perhatian pada pembangunan lembaga pesantren di Jakarta.

Perjalanan itu berlanjut dengan berdirinya Pondok Pesantren Daarul Rahman di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pesantren tersebut resmi beroperasi pada 11 Januari 1975, didirikan bersama KH Antung Ghozali BA, KH Masyhuri Baedlowi, dan KH Abdul Kadir Rahman. Kehadirannya menyediakan tempat bagi pendidikan agama dan pembinaan santri secara berkelanjutan. Syukron turut menjadi pengasuh, sehingga keterlibatannya tidak berhenti pada tahap pendirian. Ia mengabdikan diri di Daarul Rahman hingga wafat. Peran tersebut menyatukan pengalaman mengajar, berdakwah, dan membina masyarakat dalam sebuah lembaga yang menjadi pusat pengabdiannya. Dari kegiatan akademik hingga pesantren, kiprah Syukron memperlihatkan kesinambungan penyampaian ilmu, pelayanan kepada masyarakat, dan pendidikan generasi berikutnya.

banner 325x300