PROBOLINGGO — Momentum perayaan Yadya Kasada 1948 Saka kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi, persaudaraan, serta kelestarian budaya masyarakat Suku Tengger di kawasan lereng Gunung Bromo.
Dalam momentum sakral tersebut, Humas Pusat LSM LIBAS88 Nusantara, Roni Dirgantara, bersama ketua dan seluruh jajaran organisasi menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat Suku Tengger yang tengah melaksanakan rangkaian adat Yadya Kasada.
“Selamat Perayaan Yadya Kasada 1948 Saka bagi masyarakat Suku Tengger. Semoga Yadya Kasada membawa berkah, keselamatan, kesejahteraan, dan kelestarian alam bagi kita semua,” ujar Roni Dirgantara dalam keterangannya, Jumat (29/5/2026).
Ia menegaskan, tradisi Yadya Kasada bukan sekadar ritual adat tahunan, melainkan warisan budaya leluhur yang memiliki nilai spiritual, sosial, dan kebersamaan yang tinggi. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan ikut menjaga dan melestarikan tradisi tersebut agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, semangat toleransi, guyub, dan kerukunan yang selama ini dijaga masyarakat Tengger menjadi contoh nyata kehidupan sosial yang harmonis di tengah keberagaman.
“Mari kita jaga tradisi luhur, mempererat persaudaraan, dan bersama melestarikan warisan budaya nenek moyang untuk generasi mendatang,” tambahnya.
LSM LIBAS88 Nusantara juga menilai perayaan Yadya Kasada memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya lokal sekaligus memperkuat sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di kawasan Bromo-Tengger-Semeru.
Dalam pernyataannya, organisasi tersebut turut mengangkat semangat kebersamaan melalui slogan “Toleransi, Guyub, Rukun, Lestari” sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan masyarakat yang maju tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal.
Perayaan Yadya Kasada sendiri merupakan tradisi sakral masyarakat Tengger yang rutin digelar setiap tahun di kawasan Gunung Bromo. Ritual ini menjadi simbol ungkapan syukur sekaligus doa keselamatan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur, yang telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap lestari hingga saat ini.
(Bambang/Red/**)














Respon (2)