Pada tanggal 5 September 2026, Letjen TNI Gabriel Lema, selaku Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, memberikan sambutan yang menandai dimulainya kegiatan penguatan nasionalisme bagi peserta Korps Kader Republik Indonesia (KKRI). Acara ini berlangsung di Universitas Pertahanan RI yang terletak di Sentul, Bogor. Pembukaan ini merupakan langkah penting dalam usaha meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai bela negara di kalangan generasi muda kita.
Kegiatan ini dirancang untuk tidak hanya sekadar memberikan teori, tetapi juga pengamalan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Melalui program ini, diharapkan peserta KKRI dapat memahami lebih dalam tentang arti penting nasionalisme serta bagaimana cara untuk mengaplikasikannya dalam berbagai aspek kehidupan. Letjen TNI Gabriel Lema menggarisbawahi pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kedaulatan dan integritas bangsa.
Dalam sambutannya, Kabacadnas Kemhan menekankan bahwa penguatan nasionalisme bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga adalah tanggung jawab semua elemen masyarakat, termasuk para pemuda. Dengan melalui kegiatan ini, diharapkan akan terjalin rasa cinta tanah air yang lebih kuat di generasi muda. Kegiatan ini juga mencerminkan upaya untuk membangun karakter pemuda yang berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara.
Peserta kegiatan ini tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga meliputi berbagai latar belakang yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan nasionalisme merupakan agenda yang universal, yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama berkontribusi. Kegiatan ini diharapkan dapat berjalan dengan sukses, memberikan dampak positif bagi para peserta dan menciptakan generasi yang tidak hanya paham, tetapi juga siap menjalankan nilai-nilai bela negara dengan sepenuh hati.
Dalam upaya mengakar dan memperkuat nasionalisme di kalangan peserta Kursus Kader Bela Negara (KKRI), Letjen Gabriel Lema, Kabacadnas Kemhan, menjelaskan berbagai tujuan penting dari kegiatan ini. Kegiatan tersebut bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Nasionalisme yang kuat diharapkan mampu menciptakan individu yang tidak hanya cinta tanah air, tetapi juga memiliki komitmen yang tinggi terhadap keutuhan dan kedaulatan negara.
Lebih lanjut, Letjen Lema berharap agar seluruh peserta dapat memahami dan mengamalkan lima nilai dasar bela negara. Lima nilai tersebut meliputi cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, percaya pada kemampuan sendiri, menghargai jasa pahlawan, serta bersikap siap berkorban untuk bangsa dan negara. Pemahaman serta pengamalan nilai-nilai ini diharapkan dapat membentuk karakter individu yang tangguh, berdisiplin, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan sosial dan bangsa.
Letjen Lema juga menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara formal, melainkan bagian dari upaya strategis untuk membangkitkan semangat nasionalisme yang telah tergerus oleh berbagai tantangan global. Dalam situasi yang semakin kompleks, penting bagi setiap warga negara untuk memahami posisinya dan berkontribusi dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, yang merupakan fondasi dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dengan demikian, diharapkan setiap peserta KKRI dapat membawa nilai-nilai ini ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membangun masyarakat yang rukun, damai, dan saling menghormati. Langkah ini merupakan upaya kolektif untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh bangsa, serta menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Penguatan nasionalisme dalam konteks program KKRI sangat bergantung pada pengajaran dan penanaman nilai-nilai dasar bela negara. Lima nilai tersebut merupakan pondasi penting yang diharapkan dapat membentuk karakter peserta sebagai generasi penerus. Pertama, cinta tanah air merupakan nilai yang paling fundamental, di mana peserta diajarkan untuk mencintai dan merawat lingkungan serta budaya yang ada. Rasa cinta ini diharapkan tidak hanya sekadar menempel pada kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kedua, sadar berbangsa dan bernegara menjadi penguat identitas peserta. Dengan kesadaran ini, individu diharapkan dapat menghargai keragaman yang ada serta turut aktif dalam proses pembangunan bangsa. Nilai ini mendorong peserta untuk memahami peran masing-masing dalam konteks kebangsaan, dan bagaimana kontribusi mereka dapat memberikan dampak bagi masyarakat luas.
Selanjutnya, percaya pada Pancasila sebagai ideologi negara adalah sebuah nilai yang harus ditanamkan. Pancasila, sebagai dasar negara Indonesia, bukan hanya sekadar simbol, tetapi juga pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai Pancasila akan membekali peserta dengan perspektif yang tepat dalam menghadapi tantangan zaman.
Menghargai jasa pahlawan juga merupakan hal yang tak kalah penting. Dengan mengenali dan menghormati pengorbanan para pahlawan, peserta diharapkan bisa lebih menghargai kemerdekaan yang telah diperjuangkan. Penghargaan ini bertujuan agar peserta memiliki rasa tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita para pahlawan.
Akhirnya, bersedia berkontribusi terhadap pertahanan negara menjadi nilai terakhir yang ditanamkan. Partisipasi aktif dalam kegiatan pembelaan, baik secara langsung maupun tidak langsung, menjadi salah satu bentuk cinta tanah air yang utuh. Dengan menginternalisasi lima nilai dasar bela negara ini, diharapkan peserta KKRI dapat menjadi individu yang siap menjalankan peran mereka dalam membangun dan mempertahankan Indonesia.
Pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya di lingkungan Universitas Pertahanan, memiliki peran penting dalam mengembangkan nasionalisme di kalangan mahasiswa. Sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam membina generasi muda, institusi ini perlu mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat memperkuat semangat kebangsaan dan integrasi sosial. Kegiatan tersebut dapat mencakup seminar, workshop, dan diskusi yang mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, sehingga dapat memfasilitasi pertukaran ide dan perspektif mengenai nilai-nilai kebangsaan.
Dengan menyelenggarakan berbagai aktivitas pendukung nasionalisme, diharapkan mahasiswa dapat lebih memahami arti penting dari rasa cinta tanah air dan tanggung jawab sosial. Selain itu, kegiatan seperti lomba debat, festival budaya, dan pengabdian masyarakat juga dapat diimplementasikan untuk memupuk rasa kepemilikan terhadap negara. Melalui pendekatan ini, mahasiswa akan lebih terinternalisasi dengan konsep wawasan kebangsaan, yang sangat diperlukan dalam konteks globalisasi saat ini.
Program-program ini bukan hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai identitas nasional, tetapi juga menciptakan kolaborasi instansi pendidikan dan institusi pertahanan. Dialog peserta dan pengajar harus diperkuat untuk menciptakan sinergi yang lebih baik, di mana kedua pihak bisa saling memberi masukan dan berkontribusi dalam pemikiran strategis tentang pertahanan nasional. Dengan demikian, penguatan wawasan kebangsaan dapat direalisasikan lebih efektif, sejalan dengan upaya hilirisasi dan penataan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sesuai arahan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Sumber informasi: faktualid.com











