banner 728x250

Perselisihan Pembakaran Sampah Berujung Akses Perumahan Ditutup di Depok

Perselisihan Pembakaran Sampah Berujung Akses Perumahan Ditutup di Depok
banner 120x600
banner 468x60

Kota Depok | Keributan antarwarga terjadi di kawasan Cimanggis, Tapos, Kota Depok, setelah perselisihan mengenai pembakaran sampah berkembang menjadi persoalan penutupan sebagian akses jalan menuju Perumahan Zenitparc. Perselisihan tersebut melibatkan warga setempat berinisial S dan warga Perumahan Zenitparc berinisial A. Perbedaan pendapat yang semula berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah kemudian berujung pada tindakan pemagaran akses menggunakan material konblok.

Pemagaran itu berdampak langsung terhadap kelancaran kendaraan penghuni perumahan. Sebagian jalan yang biasa digunakan untuk keluar-masuk menjadi lebih sempit atau terhalang, sehingga mobilitas warga terganggu. Kondisi tersebut memicu ketegangan di pihak-pihak yang berkepentingan atas penggunaan akses jalan di lingkungan tersebut.

banner 325x300

Peristiwa ini menjadi perhatian karena persoalan lingkungan sehari-hari dapat berkembang menjadi konflik antarwarga ketika tidak segera diselesaikan melalui komunikasi dan kesepakatan. Pembakaran sampah yang dipersoalkan disebut menjadi awal perselisihan, sedangkan penutupan jalan memperluas dampak persoalan hingga menyentuh kepentingan penghuni Perumahan Zenitparc.

Warga setempat dan penghuni perumahan memiliki kepentingan terhadap lingkungan yang tertib, aman, serta memiliki akses yang dapat digunakan secara wajar. Karena itu, pemasangan konblok di sebagian jalur menuju perumahan menimbulkan keberatan, khususnya dari pihak yang membutuhkan jalan tersebut untuk aktivitas harian. Penutupan akses juga berpotensi menghambat kendaraan pribadi maupun kebutuhan mobilitas lain apabila tidak segera ditangani.

Perselisihan S dan A kini menggambarkan bagaimana masalah pembakaran sampah dapat merembet menjadi sengketa akses lingkungan. Penanganan yang hati-hati diperlukan agar ketegangan tidak semakin meluas. Dialog antarwarga, klarifikasi mengenai penggunaan jalan, serta pembahasan penyelesaian terkait pembakaran sampah menjadi hal penting untuk memulihkan kelancaran akses menuju Perumahan Zenitparc di kawasan Cimanggis, Tapos, Kota Depok.

Perselisihan yang kemudian berujung pada penutupan akses perumahan di Depok bermula pada Selasa, 29 September 2026. Berdasarkan penjelasan Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Hendra, persoalan tersebut diawali ketika A menegur S yang sedang membakar sampah. Teguran itu disampaikan karena asap dari pembakaran disebut membumbung hingga ke area perumahan.

Pada tahap awal, peristiwa tersebut berangkat dari keberatan A terhadap dampak asap yang mencapai lingkungan perumahan. Keterangan mengenai teguran itu menjadi bagian penting untuk memahami rangkaian kejadian, karena perselisihan tidak langsung muncul dalam bentuk konflik yang lebih luas. Peristiwa bermula dari adanya pembakaran sampah dan teguran terkait asap yang ditimbulkannya.

Persoalan kemudian berkembang setelah A merekam aksi pembakaran sampah tersebut. Rekaman itu selanjutnya diunggah A ke media sosial tanpa sepengetahuan S. Tindakan perekaman dan pengunggahan tersebut membuat masalah yang semula berkaitan dengan teguran atas asap pembakaran sampah berlanjut ke persoalan lain. Berdasarkan keterangan yang disampaikan AKP Hendra, rangkaian inilah yang menjadi awal berkembangnya perselisihan A dan S. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai isi teguran maupun rincian lain di luar peristiwa tersebut. Dengan demikian, titik awal perkara dapat ditelusuri dari keberatan terhadap asap yang membumbung ke area perumahan, kemudian diikuti perekaman aksi pembakaran dan penyebaran rekaman melalui media sosial tanpa sepengetahuan pihak yang direkam.

Setelah mengetahui bahwa peristiwa tersebut direkam dan diunggah ke media sosial, keluarga S menyampaikan kekecewaan atas tindakan itu. Perekaman dan penyebaran rekaman tersebut menjadi hal yang memicu reaksi keluarga S. Mereka merasa tidak nyaman karena persoalan pembakaran sampah yang semula berlangsung di lingkungan sekitar kemudian diketahui lebih luas melalui unggahan di media sosial. Kekecewaan itu selanjutnya diluapkan melalui tindakan yang memengaruhi akses jalan menuju kawasan perumahan.

Dalam keadaan kecewa, keluarga S memasang pagar menggunakan konblok di sebagian badan jalan yang menjadi akses menuju Perumahan Zenitparc. Pagar tersebut tidak menutup seluruh ruas jalan, tetapi menempati sebagian area yang biasa digunakan untuk keluar-masuk penghuni perumahan. Pemasangan konblok itu dilakukan sebagai bentuk luapan kekesalan keluarga S setelah mengetahui adanya perekaman dan pengunggahan ke media sosial. Hubungan tindakan tersebut dan penutupan sebagian akses menjadi bagian penting dari rangkaian perselisihan yang terjadi.

Akibat pemasangan pagar di sebagian badan jalan, kendaraan penghuni Perumahan Zenitparc mengalami kesulitan untuk melintas. Ruang yang tersedia bagi kendaraan menjadi lebih terbatas karena sebagian badan jalan terhalang oleh susunan konblok. Kondisi itu membuat akses menuju perumahan tidak lagi dapat digunakan dengan keleluasaan seperti sebelumnya, terutama ketika kendaraan hendak melewati bagian jalan yang dipasangi pagar. Dampak langsung yang terlihat adalah terganggunya kelancaran kendaraan penghuni dalam menggunakan akses tersebut. Peristiwa ini menunjukkan bahwa reaksi keluarga S terhadap perekaman dan unggahan di media sosial kemudian berujung pada perubahan akses jalan bagi penghuni Perumahan Zenitparc.

Pada Minggu sore, perselisihan di lingkungan perumahan tersebut kembali memanas ketika A memarkir mobilnya di tengah jalan lingkungan. Tindakan itu dilakukan karena A tidak dapat melintas melalui akses yang tersedia. Kendaraan tersebut kemudian berada pada posisi yang menghalangi jalur warga, sehingga aktivitas keluar-masuk lingkungan menjadi terganggu. Situasi itu berlangsung setelah rangkaian persoalan sebelumnya mengenai pembakaran sampah dan penutupan akses perumahan.

Mobil yang berhenti di tengah jalan membuat warga lain kesulitan menjalankan aktivitas mereka. Kendaraan yang hendak melintas harus menghadapi hambatan karena sebagian jalur tertutup oleh mobil A. Kondisi tersebut memicu reaksi dari warga dan meningkatkan ketegangan di lokasi. Perselisihan yang semula berkaitan dengan akses melintas kemudian berkembang menjadi adu emosi pihak-pihak yang berada di lingkungan tersebut.

Emosi massa semakin meningkat setelah kendaraan itu dinilai menghambat kepentingan warga lain. Keadaan yang memanas tersebut menjadi bagian dari rangkaian kejadian pada Minggu sore, ketika persoalan akses jalan kembali menimbulkan ketegangan. Keterangan mengenai urutan peristiwa itu disampaikan oleh AKP Hendra, termasuk saat A memarkir mobilnya di tengah jalan karena tidak dapat melintas dan kendaraan tersebut kemudian menghambat aktivitas warga lainnya.

Baca juga: Heboh! Dugaan Fitnah dan Pencemaran Nama Baik di TikTok Berujung Laporan Polisi, YARA Langsa Turun Tangan

banner 325x300