Probolinggo (investigasi88.com) – Upaya mendorong praktik pertanian ramah lingkungan terus digalakkan di Kabupaten Probolinggo. Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Karang Makmur, Desa Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan, mendapat pelatihan pembuatan pestisida nabati sebagai langkah preventif menghadapi serangan hama dan penyakit tanaman.
Pelatihan tersebut dilaksanakan dalam pertemuan rutin bulanan Gapoktan pada Rabu (24/12/2025). Kegiatan ini menghadirkan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Balai Besar Peramalan dan Pengembangan Teknologi Perlindungan Tanaman (BBPPTP) Surabaya, Ika Ratmawati, serta diikuti Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) BPP Pajarakan dan seluruh anggota Gapoktan Karang Makmur.
Dalam pemaparannya, Ika Ratmawati menjelaskan bahwa pestisida nabati merupakan alternatif pengendalian hama yang aman, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Bahan-bahannya berasal dari sumber alami yang mudah diperoleh, berbiaya murah, serta tidak meninggalkan residu berbahaya bagi lingkungan maupun manusia.
“Pestisida nabati menjadi pilihan tepat bagi petani yang ingin menjaga kelestarian lingkungan. Selain mudah terurai, bahan-bahannya tidak membahayakan manusia dan organisme lain di sekitar lahan pertanian,” ujar Ika.
Ia menambahkan, penggunaan pestisida kimia secara berlebihan justru dapat mengganggu keseimbangan agroekosistem. Dampaknya, musuh alami hama yang seharusnya membantu pengendalian secara alami ikut terancam.
“Musuh alami merupakan indikator agroekosistem yang sehat dan seimbang. Jika pestisida kimia digunakan berlebihan, maka keseimbangan itu akan rusak. Karena itu, diperlukan kebijakan petani dalam memilih metode pengendalian yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Dalam sesi praktik, Ika memandu langsung pembuatan pestisida nabati dengan kapasitas 20 liter. Bahan yang digunakan antara lain daun mimba 500 gram, daun sirsak 500 gram, batang serai 500 gram, daun tembakau 500 gram, serta bawang putih sebanyak empat dompol. Seluruh bahan ditumbuk halus, direbus hingga mendidih, lalu didiamkan semalaman sebelum siap diaplikasikan keesokan harinya dengan dosis sekitar 500 mililiter per tangki semprot.
Ketua Gapoktan Karang Makmur, Ahmad Safari, mengapresiasi pelatihan tersebut. Menurutnya, materi yang diberikan sangat aplikatif dan relevan dengan kondisi petani di lapangan.
“Pelatihan ini sangat membantu. Selain mudah dibuat, bahan-bahannya tersedia di sekitar kita. Selama ini, ketergantungan terhadap pestisida sintetis cukup tinggi, sementara biaya sarana produksi semakin mahal,” ungkap Ahmad.
Ia berharap, melalui pelatihan ini, para petani mulai mengurangi penggunaan pestisida kimia dan beralih ke metode pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sementara itu, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pajarakan, Priyo Basuki, menilai penggunaan pestisida nabati tidak hanya berdampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan keuntungan secara ekonomi bagi petani.
“Pestisida nabati adalah solusi ekologis sekaligus ekonomis. Ini momentum yang tepat bagi petani untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Praktik ini layak diperluas ke wilayah lain,” ujarnya.
Hal senada disampaikan PPL Desa Pajarakan Kulon, Zulaichah Kusumawardhani. Ia berharap pengetahuan yang diperoleh petani tidak berhenti pada pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan budidaya sehari-hari.
“Kami berharap petani menerapkan pestisida nabati ini secara konsisten. Selain menekan biaya produksi, lingkungan pertanian juga tetap terjaga. Ini langkah preventif menuju pertanian yang lestari dan selaras dengan alam,” pungkasnya.
(Bambang)






