banner 728x250

Sekolah Partai PDIP Buka Ruang Belajar Politik bagi Generasi Z

Sekolah Partai PDIP Buka Ruang Belajar Politik bagi Generasi Z
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | PDIP membuka program Muda-Mudi Sekolah Partai pada Rabu (21/10/2026) sebagai upaya memperluas ruang belajar politik bagi Generasi Z menjelang Pemilu 2029. Program ini dirancang untuk mendekatkan anak muda dengan proses dan gagasan politik, sekaligus memberi mereka kesempatan memahami peran politik dalam kehidupan publik. Langkah tersebut menjadi perhatian di tengah pentingnya keterlibatan pemilih muda dalam menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan pada masa mendatang.

Komarudin Watubun, Ketua DPP PDIP Bidang Kehormatan sekaligus Kepala Sekolah Partai, menjelaskan bahwa program ini memperluas jangkauan pendidikan politik yang selama ini tersedia melalui sekolah partai. Menurutnya, lembaga tersebut kerap dipersepsikan elitis dan hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu, terutama orang-orang yang telah berada di dalam partai. Muda-Mudi Sekolah Partai diharapkan membuka akses lebih luas sehingga generasi muda dapat mengenal ruang pembelajaran tersebut tanpa harus terlebih dahulu menjadi bagian dari lingkungan politik praktis.

banner 325x300

Perluasan akses ini juga menempatkan pendidikan politik sebagai ruang untuk bertanya, berdiskusi, dan membangun pemahaman. Anak muda dapat mempelajari bagaimana gagasan politik dibentuk serta bagaimana keputusan publik berkaitan dengan persoalan yang mereka hadapi. Dengan pendekatan yang lebih terbuka, sekolah partai tidak hanya dipandang sebagai tempat kaderisasi internal, tetapi juga sebagai wadah pengenalan politik bagi kelompok yang lebih beragam. Program tersebut sekaligus menjadi upaya partai untuk merespons kebutuhan akan komunikasi politik yang lebih dekat dengan generasi muda.

Komarudin menilai generasi muda memegang peran penting bagi masa depan Indonesia. Karena itu, ketidaktertarikan mereka terhadap politik merupakan masalah serius, bukan sekadar perbedaan minat antargenerasi. Jika anak muda merasa politik tidak berkaitan dengan kehidupan mereka, partisipasi dan perhatian terhadap keputusan publik berisiko melemah. Melalui program ini, PDIP berupaya menghadirkan kesempatan belajar yang dapat mendorong keterlibatan lebih bermakna. Menjelang Pemilu 2029, upaya tersebut menjadi bagian dari pendekatan untuk membangun pemahaman dan membuka dialog dengan pemilih muda, tanpa menganggap keterlibatan mereka cukup hanya pada saat pemungutan suara.

Komarudin menjelaskan bahwa kegiatan di Sekolah Partai PDIP dirancang sebagai ruang belajar yang mendorong peserta untuk hadir secara aktif, bukan sekadar menerima materi. Generasi muda diajak berkontribusi, berdiskusi, berkreasi, dan belajar bersama mengenai perjalanan bangsa Indonesia. Dengan pola tersebut, pembelajaran politik diharapkan berlangsung terbuka dan melibatkan pengalaman serta pemikiran peserta. Mereka dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangan, dan bertukar gagasan dalam suasana yang mendukung dialog. Kegiatan ini juga memberi kesempatan bagi peserta untuk memahami isu kebangsaan melalui percakapan dan proses belajar kolektif.

Salah satu pokok yang dibahas ialah perjuangan bangsa Indonesia, termasuk peran Presiden pertama, Soekarno, dalam perjalanan menuju kemerdekaan dan pembentukan negara. Peserta juga mempelajari konstitusi, dasar hukum yang mengatur kehidupan bernegara, serta pentingnya memahami bagaimana aturan tersebut berlaku. Materi mengenai Pancasila turut menjadi bagian pembelajaran, dengan penekanan pada kedudukannya sebagai dasar negara dan pedoman dalam kehidupan bersama. Komarudin menilai pemahaman atas nilai-nilai tersebut penting agar generasi muda mengenali landasan kehidupan politik dan bernegara, sekaligus dapat melihat hubungan sejarah, cita-cita kemerdekaan, dan tata aturan yang berlaku saat ini.

Pembahasan konstitusi tidak berhenti pada pengenalan isi atau istilah, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran agar peserta tidak melakukan pelanggaran terhadap konstitusi. Pengetahuan tersebut diharapkan membantu mereka memahami batas, tanggung jawab, dan prinsip yang perlu dihormati dalam kehidupan berbangsa. Komarudin juga mengingatkan bahwa proses dan perjalanan bangsa perlu dipahami secara utuh. Indonesia tidak terbentuk begitu saja; terdapat perjuangan, pemikiran, serta tahapan sejarah yang membentuk negara dan konstitusinya. Dengan mempelajari proses itu, peserta dapat melihat alasan di balik nilai dan aturan yang diwariskan. Ruang belajar ini, karena itu, menghubungkan pengetahuan sejarah dengan kesadaran berkonstitusi, sambil memberi tempat bagi generasi muda untuk mengolah pemahaman secara aktif dan bersama-sama.

Keikutsertaan dalam Sekolah Partai PDIP tidak berarti peserta otomatis harus menjadi kader atau bergabung dengan organisasi sayap partai setelah kegiatan selesai. Komarudin menegaskan bahwa ruang belajar tersebut terbuka bagi anak muda untuk mengenal politik dan kebangsaan, bukan sebagai jalur wajib menuju keanggotaan. Peserta dapat mengikuti materi, berdiskusi, dan memperoleh pengetahuan tanpa harus menyatakan pilihan politik tertentu. Dengan demikian, pendidikan yang diberikan tidak seharusnya dipahami sebagai kewajiban untuk masuk ke dalam struktur partai. Setiap peserta tetap memiliki kebebasan menentukan sikap dan arah keterlibatannya setelah menyelesaikan program belajar tersebut.

Menurut Komarudin, keputusan untuk tertarik kepada PDIP dan kemudian bergabung sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing peserta. Ketertarikan itu dapat tumbuh setelah seseorang memahami nilai, gagasan, dan kegiatan partai, tetapi tidak boleh dipaksakan oleh penyelenggara. Bila peserta memilih untuk menjadi kader atau bergabung dengan sayap partai, keputusan tersebut merupakan pilihan pribadi. Sebaliknya, mereka juga dapat membawa pengetahuan yang diperoleh ke ruang publik, pendidikan, atau kegiatan sosial tanpa menjadi anggota partai. Prinsip kebebasan ini penting agar sekolah partai menjadi kesempatan belajar yang inklusif, serta memberi ruang bagi generasi muda untuk menilai sendiri berbagai pandangan politik secara kritis.

Tujuan pendidikan kebangsaan yang disampaikan Komarudin ialah mendorong anak muda memahami sejarah bangsanya. Pemahaman terhadap perjalanan Indonesia, termasuk dinamika perjuangan dan pembentukan negara, dapat membantu peserta melihat politik dalam konteks yang lebih luas. Pengetahuan tersebut diharapkan menjadi bekal untuk berpartisipasi secara bertanggung jawab, bukan sekadar mengenali nama atau organisasi politik. Komarudin juga mengingatkan bahwa anak muda yang kelak ingin menjadi pejabat publik perlu mempersiapkan diri sejak dini. Keinginan menjadi presiden atau wakil presiden, misalnya, menuntut kesiapan, pengetahuan, dan proses yang tidak singkat. Cita-cita itu tidak dapat dipaksakan kepada siapa pun; setiap orang perlu memilih jalannya sendiri dan membangun kapasitas sesuai minat serta tanggung jawabnya.

Menurut Nida Zidny Paradhisa, Sekretaris Sekolah Partai PDIP, peserta yang hadir dalam kegiatan ini telah melalui proses seleksi yang ketat. Minat masyarakat terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai ribuan orang melalui formulir daring. Namun, tidak semua pendaftar dapat mengikuti kegiatan. Panitia terlebih dahulu memeriksa kelengkapan dan kesesuaian data sebelum menetapkan peserta yang akan hadir.

Pemeriksaan tersebut mencakup sejumlah dokumen dan informasi, lain kartu tanda mahasiswa, kartu tanda penduduk (KTP), serta rekam jejak di media sosial. Tahapan ini menjadi bagian dari upaya panitia untuk mengenali latar belakang pendaftar secara lebih menyeluruh. Setelah proses penyaringan selesai, ratusan orang ditetapkan sebagai peserta. Dengan demikian, mereka yang hadir merupakan bagian dari pendaftar yang telah memenuhi kriteria seleksi panitia.

Nida menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan PDIP kepada para peserta, sehingga mereka dapat mengenal partai tersebut dengan lebih baik. Ruang belajar yang disediakan diharapkan memberi kesempatan kepada generasi muda untuk memperoleh pemahaman mengenai partai dan kehidupan politik. Pengenalan tersebut disampaikan melalui kegiatan pembelajaran, bukan semata-mata melalui ajakan untuk mendukung kepentingan elektoral.

Menurut Nida, politik tidak seharusnya dipandang hanya sebagai upaya meraih kemenangan dalam pemilu. Politik juga memuat amanah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena itu, kegiatan ini menempatkan pembelajaran sebagai bagian penting dari hubungan partai dengan publik, terutama generasi muda. Nida turut menekankan pentingnya menjaga kewarasan demokrasi, yang memerlukan pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan politik.

Baca juga: OTT Polda Sumsel Ungkap Dugaan Pungutan Dana Revitalisasi Sekolah di Banyuasin | Inspektorat Rejang Lebong Periksa Aduan Suami soal Dugaan Hubungan Terlarang Kepala Sekolah | Transformasi Ragunan: Pusat Edukasi Antikorupsi untuk Generasi Muda

banner 325x300