banner 728x250

Telkom: Infrastruktur dan Kepercayaan Menopang Peluang Industri AI

Telkom: Infrastruktur dan Kepercayaan Menopang Peluang Industri AI
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Nanang Hendarno, memandang kecerdasan buatan sebagai teknologi yang berpotensi melahirkan industri baru, bukan sekadar alat untuk meningkatkan efisiensi. Perkembangannya dapat mengubah cara perusahaan merancang produk, menjalankan proses kerja, dan melayani pelanggan. Pada saat yang sama, teknologi ini membuka ruang bagi model bisnis serta jenis layanan yang sebelumnya sulit diwujudkan.

Dampaknya juga dapat terasa pada layanan publik. Pemanfaatan AI berpeluang membantu lembaga memahami kebutuhan masyarakat, mengolah informasi dalam skala besar, dan merancang layanan yang lebih responsif. Namun, peluang tersebut tidak muncul hanya karena teknologi tersedia. Penerapan yang bernilai harus berangkat dari persoalan nyata dan menghasilkan manfaat yang bisa dirasakan oleh pengguna.

banner 325x300

Karena itu, adopsi teknologi saja belum cukup untuk membangun industri yang berkelanjutan. Inovasi membutuhkan ekosistem yang menghubungkan kemampuan teknologi dengan kebutuhan pengguna dan dukungan investasi. Ketiganya saling terkait: solusi yang canggih perlu menjawab kebutuhan yang jelas, sementara investasi diperlukan untuk mengembangkan, menguji, dan memperluas penerapannya. Tanpa hubungan tersebut, berbagai inisiatif berisiko berhenti sebagai percobaan atau penggunaan terbatas.

Ekosistem yang kuat juga memerlukan kolaborasi perusahaan, penyedia teknologi, pemerintah, dan pihak lain yang berperan dalam rantai nilai. Kolaborasi dapat membantu membangun infrastruktur, menyiapkan talenta, serta menciptakan tata kelola yang mendukung pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pengembangan kecerdasan buatan tidak hanya berfokus pada kemampuan sistem, tetapi juga pada keandalan, keamanan, dan kepercayaan pengguna.

Pandangan tersebut menempatkan peluang industri AI dalam konteks yang lebih luas daripada pengadaan teknologi. Infrastruktur digital menjadi fondasi agar solusi dapat beroperasi dan berkembang, sedangkan kepercayaan menentukan kesediaan masyarakat dan organisasi untuk menggunakannya. Ketika teknologi, kebutuhan, investasi, dan kepercayaan bergerak selaras, inovasi memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh menjadi kegiatan ekonomi yang berkelanjutan. Bagi bisnis maupun layanan publik, tantangannya adalah memastikan penerapan AI memberi nilai nyata sekaligus membuka ruang bagi lahirnya industri dan layanan baru.

Nanang menyampaikan pandangannya dalam sesi pleno bertajuk “The Next Industrial Wave: Which Technologies Will Create New Global Industries?” pada hari kedua Danantara Indonesia Technology and Innovation Forum (DTIIF) 2026, Selasa (27/10). Sesi ini menjadi ruang untuk membahas teknologi yang berpotensi melahirkan industri global baru, sekaligus melihat bagaimana perubahan teknologi berhubungan dengan kebutuhan dunia usaha dan pembangunan infrastruktur.

Dalam diskusi tersebut, Nanang hadir bersama Teddy Liu, Executive Director sekaligus Chief Executive Officer Jingdong Coinlink Technology Hong Kong Limited, serta Sara Supaamornkul, Senior Director of International Business Development AtkinsRéalis. Percakapan dipandu Irwan Rei, Managing Director of Strategic Technology Initiatives Danantara Indonesia. Beragam latar belakang para pembicara menghadirkan perspektif yang saling melengkapi mengenai peluang, kebutuhan, dan tantangan dalam perkembangan industri berbasis teknologi.

Pembahasan mencakup teknologi yang berpotensi membentuk gelombang industri berikutnya dari sisi digital, bisnis, dan infrastruktur. Ketiga dimensi tersebut saling terkait: inovasi digital dapat membuka model layanan dan cara kerja baru, sementara dunia usaha perlu menilai bagaimana teknologi dapat diterapkan secara relevan. Pada saat yang sama, infrastruktur menjadi landasan yang memungkinkan solusi digital dikembangkan, dihubungkan, dan digunakan dalam skala yang lebih luas.

Forum ini juga memberi kesempatan untuk mempertimbangkan bagaimana perkembangan teknologi dapat diterjemahkan menjadi peluang industri, bukan hanya sebagai tren. Pertukaran pandangan pelaku teknologi, bisnis, dan infrastruktur membantu memperluas pemahaman mengenai faktor yang dapat mendorong terbentuknya sektor-sektor baru. Perspektif tersebut relevan bagi perusahaan yang perlu merencanakan investasi, membangun kemampuan, dan menyiapkan kolaborasi seiring perubahan kebutuhan pasar.

Melalui partisipasi dalam sesi pleno ini, Telkom turut berada dalam percakapan tentang arah teknologi dan dampaknya terhadap industri global. Diskusi lintas bidang menekankan pentingnya melihat inovasi secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan kesiapan digital, kelayakan bisnis, serta dukungan infrastruktur. Pertemuan para pembicara di DTIIF 2026 menjadi bagian dari upaya memahami peluang yang muncul dari gelombang industri berikutnya dan faktor-faktor yang diperlukan agar teknologi dapat mendukung perkembangan sektor baru.

Nanang melihat kecerdasan buatan (AI) berpeluang berkembang menjadi layanan yang digunakan secara luas, bukan sekadar teknologi yang dimanfaatkan oleh perusahaan atau kelompok pengguna tertentu. Seiring akses yang semakin mudah dan biaya pemrosesan yang menurun, AI dapat hadir dalam beragam aktivitas sehari-hari maupun kebutuhan bisnis. Perubahan ini membuka ruang bagi lebih banyak orang dan organisasi untuk mencoba, mengadopsi, serta mengintegrasikan AI ke dalam pekerjaan mereka.

Skala peluang tersebut tercermin dari perubahan biaya dan pola penggunaan. Sejak 2022, biaya untuk setiap kueri AI turun sekitar 280 kali. Pada periode satu tahun, penggunaan AI di Google juga meningkat hingga tujuh kali lipat. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kemajuan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan model, tetapi juga dengan semakin terjangkaunya layanan dan meningkatnya frekuensi pemakaian. Ketika biaya untuk mengakses teknologi turun, hambatan bagi pengguna baru ikut berkurang.

Menurut penjelasan Nanang, perkembangan itu dapat mendorong lingkaran pertumbuhan: biaya yang lebih rendah memungkinkan konsumsi meningkat, sementara penggunaan yang meluas menciptakan kebutuhan lebih besar terhadap kapasitas dan layanan pendukung. Perusahaan, misalnya, dapat menjalankan lebih banyak kueri, menerapkan AI pada lebih banyak proses, atau menawarkan fitur berbasis AI kepada pelanggan. Semua aktivitas tersebut menambah permintaan atas komputasi, konektivitas, penyimpanan data, dan infrastruktur digital lain yang diperlukan agar layanan tetap tersedia.

Karena itu, peluang bisnis AI tidak terbatas pada menjual perangkat lunak, model, atau teknologi kecerdasan buatan secara langsung. Nilai ekonomi juga dapat muncul dari penyediaan pusat data, jaringan, komputasi awan, integrasi sistem, keamanan, serta layanan operasional yang membantu penggunaan AI berjalan andal. Semakin luas pemanfaatannya, semakin penting pula ketersediaan infrastruktur yang mampu menopang beban kerja dengan latensi, kapasitas, dan ketahanan yang sesuai.

Penurunan biaya dengan demikian berpotensi memperluas pasar sekaligus memperbesar kebutuhan ekosistem pendukung. Bagi pelaku industri, hal ini membuka kesempatan untuk mengambil peran di berbagai lapisan rantai nilai. Keberhasilan menangkap peluang tersebut akan bergantung pada kemampuan menyediakan layanan yang mudah diakses, dapat diskalakan, dan dipercaya oleh pengguna, bukan hanya pada kepemilikan teknologi AI itu sendiri.

Nanang menekankan bahwa peluang terbesar dalam industri kecerdasan buatan tidak semata-mata terletak pada penjualan produk AI secara terpisah atau per unit. Nilai yang lebih luas justru muncul ketika perusahaan mampu menyediakan infrastruktur yang membuat teknologi tersebut dapat digunakan oleh banyak pihak, dalam beragam kebutuhan, dan pada skala yang terus berkembang. Infrastruktur menjadi fondasi bagi pemrosesan data, pengembangan model, serta akses layanan yang andal. Tanpa fondasi itu, potensi AI sulit diterjemahkan menjadi pemanfaatan nyata di berbagai sektor. Karena itu, pembahasan peluang industri perlu mencakup kapasitas dan kesiapan ekosistem, bukan hanya kemampuan menawarkan aplikasi atau perangkat tertentu.

Penekanan tersebut juga berkaitan dengan hubungan biaya dan konsumsi. Ketika biaya penggunaan AI semakin terjangkau, hambatan bagi organisasi maupun pengguna untuk mencoba dan mengadopsi teknologi dapat berkurang. Pemanfaatan yang sebelumnya terbatas pada proyek tertentu berpeluang meluas ke proses kerja sehari-hari, layanan pelanggan, analisis, dan beragam aktivitas lainnya. Dalam kondisi seperti itu, permintaan dapat tumbuh lebih cepat seiring makin banyaknya kasus penggunaan. Artinya, penyedia infrastruktur yang sanggup mendukung peningkatan kebutuhan dengan kinerja, kapasitas, dan efisiensi yang memadai berpotensi memainkan peran penting dalam pertumbuhan pasar.

Namun.

Baca juga: Tantangan dalam Kepercayaan dan Kepatuhan Aset Digital | Transformasi Infrastruktur Kabel di Jakarta | Infrastruktur Kecerdasan Buatan untuk Kedaulatan Data Nasional

banner 325x300