Kalimantan Timur saat ini mengalami kondisi kemarau panjang yang telah memberikan dampak signifikan terhadap lingkungan. Fenomena cuaca ini tidak hanya mengurangi tingkat kelembapan di tanah, tetapi juga menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan. Dengan semakin sedikitnya curah hujan yang turun, banyak lahan pertanian yang terdampak, sehingga memengaruhi hasil pertanian dan ketahanan pangan masyarakat.
Selain itu, musim kemarau yang berkepanjangan ini meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hutan dan lahan yang kering menjadi sangat rentan terhadap api, yang selanjutnya dapat menyebabkan kerusakan ekosistem secara luas. Karhutla tidak hanya membahayakan flora dan fauna, tetapi juga berkontribusi pada polusi udara yang membahayakan kesehatan masyarakat.
Penyebab utama dari kemarau panjang ini bisa dikaitkan dengan beberapa faktor, termasuk perubahan iklim global dan pola cuaca yang tidak terduga. Perubahan iklim menyebabkan ketidakstabilan dalam siklus hujan, sehingga curah hujan menjadi tidak menentu. Fenomena El Niño, misalnya, juga dapat menyebabkan kekeringan di wilayah-wilayah tertentu, termasuk Kalimantan Timur.
Dalam konteks inilah masyarakat merasa perlu untuk melakukan salat istisqa, yakni sebuah ritual syukur dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk meminta hujan. Melalui salat ini, diharapkan lingkungan dapat dipulihkan, dan hasil pertanian kembali produktif. Ritual ini menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk bersatu dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kemarau panjang yang kian mengancam.
Salat Istisqa merupakan salah satu ibadah yang dilakukan umat Muslim untuk memohon hujan dari Allah SWT ketika mengalami kekeringan atau kemarau panjang. Pada tanggal 15 September 2023, salat ini diadakan di Lapangan Makorem 091/Aji Surya Natakesuma, Samarinda. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai elemen penting termasuk personel TNI, Polri, dan masyarakat setempat, menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
Dalam pelaksanaan salat ini, tampak suasana yang khidmat dan penuh harapan. Para jamaah datang dengan membawa doa dan harapan agar hujan segera turun untuk mengatasi masalah kekeringan yang telah berlangsung cukup lama. Momen ini juga mencerminkan kekuatan spiritual masyarakat dalam menghadapi situasi sulit, seperti kemarau berkepanjangan yang berdampak pada sektor pertanian dan kehidupan sehari-hari.
Salat Istisqa diadakan secara berjamaah, diawali dengan khutbah yang disampaikan oleh pemimpin di lokasi. Dalam khutbah tersebut, dijelaskan pentingnya memohon kepada Allah SWT sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaan-Nya. Selain itu, juga disampaikan pesan moral untuk selalu bersyukur dan menjaga keseimbangan lingkungan. Selama kegiatan berlangsung, jamaah tampak khusyuk dalam melaksanakan ibadah, menciptakan suasana yang damai dan penuh pengharapan.
Kegiatan ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sebagai ikhtiar spiritual bersama untuk memohon hujan demi kebaikan bersama. Adanya partisipasi yang luas dari masyarakat dan pihak-pihak terkait menunjukkan sinergi yang baik dalam menghadapi tantangan cuaca. Pelaksanaan salat Istisqa ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk persatuan dan kerjasama dalam mengatasi keadaan yang sulit, serta sebagai pengingat akan pentingnya berdoa dan bergantung pada Tuhan dalam segala aspek kehidupan.
Brigjen TNI Anggara Sitompul, sebagai Komandan Korem 091, mengungkapkan bahwa pelaksanaan salat istisqa menjadi langkah penting dalam usaha menghadapi kemarau panjang yang melanda wilayah kita. Dalam konteks ini, salat istisqa tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan juga wujud nyata dari upaya kolektif untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar mengirimkan hujan untuk kebutuhan pertanian dan kehidupan sehari-hari. Brigjen Sitompul menegaskan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari respons terhadap tantangan kekeringan yang dapat berdampak pada ketahanan pangan.
Dalam pernyataannya, beliau menjelaskan, "Salat istisqa adalah suatu bentuk pengharapan dan permohonan kepada Allah untuk menurunkan hujan. Kita semua, tanpa melihat latar belakang agama, diajak untuk turut serta dalam kegiatan ini. Doa bersama ini diharapkan bisa menyatukan kita dalam semangat kebersamaan dan saling peduli terhadap sesama dalam menghadapi bencana alam." Ini menunjukkan sikap inklusif yang mengajak masyarakat dari berbagai kalangan untuk saling mendukung dalam masa sulit. Kegiatan ini pun tidak hanya berhenti di area spiritual, namun diharapkan bisa ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan, seperti dalam bentuk bantuan bagi masyarakat yang terdampak oleh kekeringan.
Brigjen Sitompul juga menyoroti pentingnya kombinasi doa dan tindakan konkret, dengan menyatakan bahwa "kita harus melakukannya secara bersamaan; berdoa untuk hujan sambil membantu mereka yang membutuhkan." Upaya ini diharapkan tidak hanya membawa perubahan langsung, tapi juga membangun kesadaran kolektif akan potensi bahaya yang diakibatkan oleh kondisi cuaca ekstrem. Oleh karena itu, masyarakat diajak untuk tidak hanya berpartisipasi dalam salat istisqa, tetapi juga dalam berbagai aktivitas sosial yang dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak. Dengan ajakan ini, Brigjen Sitompul ingin menguatkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam menghadapi tantangan alam.Tanggapan dan Upaya Pemkot SamarindaDalam rangka menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memberikan tanggapan yang tegas terkait pelaksanaan salat Istisqa sebagai salah satu usaha untuk memohon hujan. Ia menekankan bahwa salat istisqa merupakan sebuah bentuk refleksi spiritual dan sosial yang tidak hanya melibatkan aspek religius, tetapi juga upaya bersatu dalam menghadapi krisis lingkungan. Dalam pidatonya, Andi Harun mengatakan, “Kita perlu bersatu dan berdoa agar Tuhan YME memberi kita keberkahan berupa hujan yang cukup.”
Selaras dengan pelaksanaan salat, pemerintah kota telah memutuskan untuk menetapkan status darurat kekeringan yang akan berlangsung selama 14 hari. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya air yang bijaksana di tengah tantangan kemarau yang ekstrem. Pemkot Samarinda berkomitmen untuk memantau dan menilai kondisi penyaluran air bersih, serta melakukan langkah-langkah tepat guna untuk mitigasi dampak kekeringan.
Pemerintah kota juga sudah mulai melaksanakan sejumlah program untuk menangani krisis air bersih akibat kemarau panjang. Salah satu langkah yang diambil adalah penyediaan titik-titik air bersih di kawasan yang terdampak parah. Selain itu, edukasi kepada masyarakat tentang konservasi air menjadi fokus utama. Andi Harun menambahkan, “Kami berharap masyarakat dapat berperan aktif dalam menjaga lingkungan dan tidak menyia-nyiakan sumber daya air yang ada.” Melalui inisiatif ini, diharapkan kesadaran kolektif dapat tumbuh, sehingga berdampak positif terhadap pengelolaan sumber daya alam di wilayah Samarinda.













