Jakarta | Di tengah kehidupan yang semakin terhubung, sebagian kalangan Gen Z mulai mempertimbangkan perangkat komunikasi di luar smartphone. Ponsel dengan fungsi lebih terbatas, termasuk feature phone, kembali menarik perhatian karena menawarkan pengalaman yang berbeda dari perangkat serbaguna yang umum digunakan sehari-hari. Perubahan minat ini tidak berarti generasi muda secara keseluruhan meninggalkan smartphone. Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan adanya kelompok yang ingin mencoba pilihan lain untuk berkomunikasi dan menggunakan ponsel dengan cara yang lebih sederhana.
Kecenderungan untuk melirik ponsel sederhana terlihat di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir. Di sana, sebagian anak muda mulai mencari perangkat yang tidak menyediakan sebanyak mungkin aplikasi dan fitur seperti smartphone modern. Feature phone umumnya memiliki fungsi utama seperti menelepon dan mengirim pesan, sementara kemampuan lain yang tersedia lebih terbatas. Perbedaan itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna yang ingin merasakan pengalaman memakai ponsel tanpa terus berhadapan dengan beragam layanan digital dalam satu perangkat.
Influencer Jose Briones menilai bahwa sebagian anak muda merasa bosan dengan layar smartphone. Pernyataan tersebut menggambarkan kejenuhan yang dirasakan sebagian pengguna, bukan pandangan seluruh Gen Z. Bagi kelompok ini, ponsel sederhana dapat menjadi alternatif ketika mereka menginginkan perangkat dengan fungsi yang lebih terbatas. Minat tersebut juga memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu membuat setiap orang menginginkan lebih banyak fitur. Sebagian pengguna justru tertarik pada perangkat yang lebih sederhana, dengan kegunaan yang jelas dan pengalaman yang berbeda dari smartphone. Meski demikian, feature phone tidak serta-merta menggantikan smartphone dalam aktivitas semua anak muda. Pilihan perangkat tetap bergantung pada kebutuhan masing-masing, sementara tren ini memberi gambaran tentang beragam cara Gen Z memandang teknologi komunikasi.
Di Amerika Serikat, ponsel sederhana atau feature phone kembali menarik perhatian sebagian konsumen, termasuk generasi muda yang ingin mengurangi waktu menatap layar. Perangkat ini umumnya menawarkan fungsi dasar seperti panggilan dan pesan singkat, dengan akses internet serta aplikasi yang lebih terbatas dibandingkan smartphone. Bagi sebagian pengguna, keterbatasan tersebut justru menjadi daya tarik: ponsel dapat digunakan untuk berkomunikasi tanpa terus-menerus memicu notifikasi atau menyediakan akses ke berbagai layanan digital. Tren ini turut membuka peluang bagi HMD Global, perusahaan yang memasarkan perangkat dengan merek Nokia melalui lisensi. Nokia telah lama dikenal luas, terutama berkat popularitas ponselnya pada awal 2000-an.
Data pasar menunjukkan bahwa penjualan feature phone di Amerika Serikat mencapai puluhan ribu unit per bulan pada 2022. Angka tersebut menggambarkan adanya permintaan yang tetap nyata di pasar itu, meskipun perangkat sederhana bukan pilihan utama bagi mayoritas konsumen. Sebagian pembeli mencari ponsel kedua untuk perjalanan, kegiatan luar ruang, atau situasi ketika mereka ingin membatasi penggunaan smartphone. Ada pula konsumen yang tertarik pada desain klasik dan daya tahan baterai yang sering menjadi keunggulan ponsel dengan fitur dasar. Ragam alasan tersebut membantu menjelaskan mengapa produk Nokia berfitur sederhana masih memiliki ruang untuk dipasarkan di tengah dominasi smartphone.
Namun, perkembangan di Amerika Serikat tidak serta-merta mencerminkan keadaan pasar dunia. Secara global, kategori feature phone sedang mengalami penurunan penjualan dalam jangka panjang, seiring semakin luasnya akses internet seluler dan meningkatnya ketersediaan smartphone dengan harga terjangkau. Di banyak negara, konsumen beralih ke perangkat yang menggabungkan telepon, kamera, aplikasi, dan layanan daring dalam satu produk. Karena itu, minat baru di kalangan pengguna tertentu di Amerika Serikat lebih tepat dipahami sebagai tren khusus, bukan bukti bahwa feature phone kembali tumbuh secara merata di seluruh dunia. Bagi HMD Global, ceruk tersebut tetap penting: permintaan yang terukur dapat mendukung penjualan, sementara pengenalan merek Nokia memberi produk sederhana itu nilai nostalgia dan daya tarik tersendiri.
Pembicaraan tentang kembalinya minat terhadap ponsel sederhana perlu ditempatkan dalam konteks pasar global yang lebih luas. Feature phone masih memiliki basis pasar yang kuat, tetapi permintaannya tidak tersebar merata di seluruh dunia. Timur Tengah, Afrika, dan India merupakan kawasan yang mendominasi pasar perangkat jenis ini. Karena itu, perkembangan penjualan feature phone secara global banyak berkaitan dengan kondisi dan besarnya pasar di wilayah-wilayah tersebut, bukan semata-mata dengan perubahan preferensi konsumen di negara Barat.
Data Counterpoint Research menunjukkan bahwa negara-negara di Timur Tengah, Afrika, dan India secara bersama-sama menyumbang sekitar 80% dari pasar feature phone pada tahun lalu. Angka itu menggambarkan konsentrasi pasar yang tinggi di kawasan tersebut. Dengan porsi sebesar itu, perubahan permintaan di negara-negara tersebut dapat berpengaruh besar pada gambaran pasar feature phone secara keseluruhan. Namun, angka tersebut menjelaskan komposisi pasar berdasarkan wilayah; data itu tidak dengan sendirinya menerangkan alasan konsumen memilih ponsel sederhana, ataupun menunjukkan bahwa perilaku pembeli di semua negara sama.
Dominasi kawasan tersebut juga perlu dibedakan dari kabar mengenai Gen Z di Amerika Serikat yang kembali melirik ponsel sederhana. Kedua hal itu merujuk pada konteks pasar dan kelompok konsumen yang berbeda. Pangsa besar di Timur Tengah, Afrika, dan India tidak membuktikan bahwa tren Gen Z di Amerika Serikat menjadi penyebab utama kuatnya pasar global, sebagaimana tren di Amerika Serikat tidak serta-merta menggambarkan perilaku konsumen di kawasan lain. Tanpa data tambahan, hubungan sebab-akibat kedua perkembangan itu tidak dapat dipastikan. Memisahkan temuan regional dari tren demografis membantu pembaca memahami ukuran pasar secara lebih akurat, tanpa menggeneralisasi perilaku lintas negara atau mengasumsikan motif yang tidak dijelaskan oleh sumber data. Dengan demikian, angka 80% paling tepat dibaca sebagai penanda bahwa pusat pasar feature phone saat ini berada di kawasan tertentu, sementara dinamika Gen Z di Amerika Serikat merupakan cerita tersendiri yang perlu dinilai berdasarkan bukti khusus mengenai negara dan kelompok tersebut.
Di Indonesia, kondisi pasar ponsel perlu dibaca dalam konteks tekanan ekonomi rumah tangga dan perubahan kemampuan belanja masyarakat. Daya beli yang melemah dalam beberapa tahun terakhir membuat sebagian konsumen lebih berhati-hati saat mengganti perangkat. Smartphone baru, terutama model dengan harga menengah dan tinggi, dapat menjadi pengeluaran yang ditunda ketika kebutuhan pokok dan biaya lain lebih diprioritaskan. Dampaknya bukan hanya terasa pada keputusan membeli merek tertentu, tetapi juga pada frekuensi konsumen memperbarui ponsel. Karena itu, perlambatan penjualan tidak serta-merta menunjukkan bahwa masyarakat kehilangan minat terhadap smartphone atau sedang beralih ke jenis perangkat lain.
Data IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker memperlihatkan besarnya tekanan tersebut. Pasar smartphone Indonesia menyusut 14,3% sepanjang 2023, dengan pengiriman mencapai 35 juta unit. Angka pengiriman mengukur perangkat yang dikirim ke pasar, bukan secara langsung jumlah konsumen yang membeli ponsel ataupun tingkat penggunaan setiap jenis perangkat. Meski demikian, penurunan itu memberi gambaran bahwa industri menghadapi tantangan dalam mempertahankan volume. Produsen dan penjual perlu menyesuaikan strategi, lain melalui pilihan harga yang lebih beragam, promosi, serta perangkat yang menawarkan manfaat jelas sesuai kebutuhan. Bagi konsumen, masa pakai perangkat yang lebih panjang juga dapat menjadi cara mengendalikan pengeluaran.
Gambaran Indonesia ini berbeda dari pembahasan mengenai meningkatnya perhatian anak muda Amerika Serikat terhadap feature phone atau ponsel sederhana.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kembali Hadirkan Setetes Kepedulian di Tengah Kekeringan
22 kunjungan









