banner 728x250

Laysa Latifah Terima Bonus Pembinaan Usai Raih Gelar WGM di Uzbekistan

Laysa Latifah Terima Bonus Pembinaan Usai Raih Gelar WGM di Uzbekistan
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Laysa Latifah menerima bonus pembinaan senilai Rp50 juta setelah menorehkan prestasi penting dengan meraih gelar Woman Grandmaster (WGM) pada Olimpiade Catur 2026 di Uzbekistan. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan pencapaian atlet catur DKI Jakarta yang berhasil membawa nama daerahnya dalam ajang internasional.

Bonus pembinaan itu diserahkan oleh Ketua Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth. Penyerahan berlangsung dalam pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 yang digelar di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta, pada Sabtu, 3 Oktober 2026.

banner 325x300

Gelar WGM menjadi pencapaian yang berarti bagi Laysa karena menunjukkan perkembangan konsisten dalam kariernya sebagai pecatur. Gelar tersebut juga mencerminkan kapasitasnya untuk bersaing di tingkat dunia, sekaligus memperkuat posisi DKI Jakarta sebagai salah satu daerah yang berperan dalam pembinaan atlet catur nasional.

Melalui pemberian bonus ini, Percasi DKI Jakarta tidak hanya mengapresiasi hasil yang telah dicapai, tetapi juga memberikan dukungan bagi proses pengembangan Laysa pada masa mendatang. Bonus pembinaan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan persiapan latihan, mengikuti turnamen, serta meningkatkan kualitas performa dalam kompetisi berikutnya.

Apresiasi tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap atlet berprestasi yang terus berupaya mengharumkan nama Jakarta dan Indonesia. Keberhasilan Laysa meraih gelar Woman Grandmaster di Uzbekistan sekaligus menjadi dorongan bagi pembinaan pecatur muda di DKI Jakarta agar semakin terarah dan berkelanjutan.

Laysa Latifah menjadi salah satu sorotan dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda) Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 yang berlangsung pada 3–4 Oktober 2026. Kehadiran pecatur muda tersebut tidak hanya memperkaya rangkaian kegiatan, tetapi juga memberikan gambaran nyata mengenai proses panjang yang diperlukan untuk mencapai prestasi di tingkat internasional. Setelah mengikuti Olimpiade Catur di Uzbekistan dan meraih gelar Woman Grandmaster (WGM), Laysa tampil sebagai sosok yang relevan untuk dikenalkan kepada para peserta kejuaraan.

Bagi pecatur muda DKI Jakarta, pencapaian Laysa dapat menjadi sumber motivasi untuk mengembangkan kemampuan secara konsisten. Perjalanannya menunjukkan bahwa atlet daerah memiliki peluang untuk bersaing di panggung dunia apabila memperoleh pembinaan, pengalaman bertanding, serta dukungan yang berkelanjutan. Karena itu, Laysa diharapkan dapat menjadi contoh bagi peserta Kejurda, terutama mereka yang sedang membangun dasar karier dan memiliki cita-cita mengikuti jejaknya dalam mengejar gelar grandmaster.

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, menyampaikan bahwa dirinya merasa bahagia karena atlet dari DKI Jakarta berhasil mengikuti olimpiade catur di Uzbekistan dan langsung meraih gelar WGM. Menurutnya, prestasi tersebut merupakan kebanggaan bagi Jakarta sekaligus bukti bahwa pembinaan yang dilakukan dapat menghasilkan atlet berdaya saing. Ia menilai pemberian bonus kepada Laysa bukan sekadar penghargaan atas keberhasilan pribadi, melainkan bagian dari pembinaan atlet secara berkelanjutan.

Bonus tersebut juga dimaksudkan untuk memicu semangat atlet lain agar terus berlatih dan berani menetapkan target yang lebih tinggi. Apresiasi terhadap Laysa di tengah pelaksanaan Kejurda diharapkan membangun suasana kompetitif yang sehat, sekaligus memperlihatkan bahwa kerja keras memiliki peluang untuk mendapatkan pengakuan. Dengan demikian, para peserta dapat memandang kejuaraan ini sebagai ruang mengasah kemampuan sekaligus tahap awal menuju prestasi nasional dan internasional.

Keberhasilan Laysa Latifah meraih gelar Woman Grandmaster (WGM) di Uzbekistan diharapkan menjadi pemantik semangat bagi atlet-atlet catur Jakarta lainnya. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa pembinaan yang berkelanjutan, dukungan organisasi, serta kerja keras atlet dapat mengantarkan pecatur daerah mencapai level internasional. Karena itu, pencapaian Laysa tidak hanya dipandang sebagai keberhasilan pribadi, tetapi juga sebagai dorongan bagi lahirnya prestasi-prestasi baru dari ibu kota.

Harapan itu disampaikan Hardiyanto Kenneth, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan. Ia menginginkan capaian Laysa memotivasi para pecatur Jakarta untuk mengejar gelar grandmaster, baik pada kategori putra maupun putri. Menurutnya, keberhasilan seorang atlet dapat menjadi contoh nyata bagi atlet lain bahwa target besar dapat dicapai melalui proses panjang, disiplin, dan pembinaan yang konsisten.

Kenneth juga mengingat kembali janji yang disampaikannya kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung saat pelantikan pengurus Percasi DKI Jakarta. Pada kesempatan tersebut, ia berkomitmen untuk membantu melahirkan empat atlet bergelar Grandmaster (GM) dari Jakarta. Target itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan catur sekaligus meningkatkan kontribusi Jakarta terhadap prestasi catur nasional.

Dengan diraihnya gelar WGM oleh Laysa, satu target penting telah tercapai. Meski gelar WGM berbeda dari titel GM, pencapaian tersebut menjadi fondasi kuat bagi realisasi komitmen Percasi DKI Jakarta dalam melahirkan pecatur bertitel internasional. Laysa telah membuka jalan dan membuktikan potensi atlet Jakarta di panggung dunia.

Selanjutnya, atlet-atlet lain diharapkan tidak berhenti pada rasa bangga atas prestasi tersebut. Mereka perlu menjadikannya sebagai sumber motivasi untuk berlatih lebih serius, mengikuti kompetisi, dan memenuhi persyaratan gelar internasional. Dengan sinergi pemerintah daerah, Percasi, pelatih, keluarga, serta para atlet, target melahirkan empat grandmaster dari Jakarta diharapkan dapat diwujudkan secara bertahap.

Kejurda Piala Gubernur DKI Jakarta 2026 menjadi salah satu agenda penting dalam pembinaan olahraga catur di ibu kota. Ajang ini diikuti 420 pecatur yang berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari kategori anak-anak hingga dewasa. Keberagaman peserta tersebut menunjukkan bahwa kejuaraan daerah ini tidak hanya ditujukan bagi atlet senior, tetapi juga menjadi ruang bagi pecatur muda untuk memperoleh pengalaman bertanding serta mengembangkan kemampuan mereka secara kompetitif.

Selain menjadi wadah pertandingan, kejurda ini menyediakan total hadiah senilai Rp100 juta. Penyediaan hadiah tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya tarik kompetisi sekaligus memberikan apresiasi kepada para atlet yang berpartisipasi. Kejurda Piala Gubernur DKI Jakarta juga merupakan agenda rutin Percasi DKI Jakarta. Pelaksanaannya mencerminkan kesinambungan program pembinaan dan kompetisi catur di tingkat daerah, termasuk upaya menjaring atlet potensial dari berbagai kelompok usia.

Fungsi lain yang tidak kalah penting ialah kejurda ini menjadi ajang seleksi atlet untuk mewakili DKI Jakarta pada Kejurnas Catur ke-51 tahun 2026. Kejuaraan nasional tersebut dijadwalkan berlangsung di Banten pada 23–29 Oktober 2026. Kenneth menjelaskan bahwa para pemenang kejurda akan memperoleh tiket untuk tampil di kejurnas. Ia berharap atlet yang lolos benar-benar memiliki KTP DKI Jakarta atau berdomisili di Jakarta, sehingga wakil yang dikirim dapat merepresentasikan pembinaan catur ibu kota. Dengan demikian, kejurda tidak berhenti sebagai kompetisi daerah, tetapi juga menjadi tahap penentuan bagi pengiriman atlet DKI Jakarta ke tingkat nasional.

banner 325x300