Kabupaten Pasuruan | Sebanyak 27 personel gabungan dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Ringgit, Jawa Timur. Petugas melakukan upaya pemadaman secara langsung di lapangan, dengan mengandalkan tenaga personel darat untuk menjangkau serta menangani titik-titik api. Langkah ini ditempuh di tengah keterbatasan peralatan yang tersedia bagi tim penanganan.
Salah satu kendala utama adalah belum tersedianya pompa air berkapasitas besar yang dapat digunakan dalam operasi tersebut. Tanpa dukungan pompa besar, petugas belum dapat mengandalkan metode pemadaman yang memerlukan suplai air berkapasitas tinggi. Karena itu, pekerjaan personel di lapangan menjadi tumpuan utama untuk mengendalikan kebakaran, sementara kondisi dan kebutuhan penanganan terus diperhatikan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan, Sugeng Hariyadi, menyampaikan bahwa upaya saat ini bertumpu pada tenaga personel darat karena pompa besar belum memungkinkan digunakan. Keterangan tersebut disampaikan pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Pernyataan itu menggambarkan kondisi operasi yang harus menyesuaikan kemampuan peralatan yang tersedia, sekaligus menegaskan peran langsung petugas dalam penanganan karhutla di kawasan pegunungan tersebut.
Pengerahan 27 personel gabungan menjadi langkah yang dilakukan untuk merespons kebakaran dan mendukung pengendalian di area terdampak. Dalam kondisi ketika sarana pompa berkapasitas besar belum dapat dimanfaatkan, personel perlu bekerja dengan mengandalkan kemampuan serta peralatan yang tersedia di lapangan. Upaya pemadaman secara langsung ini menjadi bagian penting dari respons saat ini, meski keterbatasan sarana tetap menjadi tantangan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan di Arjuno-Ringgit.
Kebakaran di kawasan Arjuno-Ringgit pertama kali diketahui pada Jumat, 16 Oktober 2026. Informasi awal tersebut menjadi penanda dimulainya perhatian terhadap titik-titik api yang berada di wilayah Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Lokasi yang dilaporkan mencakup kawasan Desa Jatiarjo dan Desa Dayurejo. Dengan demikian, penanganan diarahkan pada dua wilayah desa yang berada dalam kecamatan yang sama, tanpa mengabaikan kebutuhan untuk memantau perkembangan keadaan di masing-masing lokasi.
Keberadaan api di dua desa tersebut membuat upaya personel darat berfokus pada pengendalian kebakaran. Sasaran utamanya adalah menjaga agar api tidak meluas ke permukiman warga maupun kawasan konservasi. Kedua sasaran ini menjadi perhatian penting dalam penanganan, karena pergerakan api perlu dikendalikan supaya tidak menjangkau area yang hendak dilindungi. Upaya tersebut dilakukan dengan memperhatikan lokasi kebakaran yang telah teridentifikasi di Jatiarjo dan Dayurejo.
Dalam situasi seperti ini, informasi mengenai titik api membantu menentukan fokus kerja petugas di lapangan. Petugas berupaya mengendalikan api di kawasan yang dilaporkan terbakar, sekaligus mengarahkan penanganan agar potensi perluasan menuju permukiman dan kawasan konservasi dapat dicegah. Keterangan yang tersedia menempatkan pengendalian sebagai sasaran utama, bukan memberikan rincian mengenai ukuran kebakaran, penyebab kemunculan api, atau akibat yang ditimbulkan.
Waktu pertama kali kebakaran diketahui, yaitu Jumat, 16 Oktober 2026, dan lokasinya di Desa Jatiarjo serta Desa Dayurejo, menjadi informasi pokok untuk memahami perkembangan awal kejadian. Fokus penanganan tetap pada membatasi api agar tidak merambat ke area lain yang menjadi perhatian. Karena itu, upaya personel darat di Kecamatan Prigen diarahkan untuk mengendalikan kebakaran di dua desa tersebut dan menjaga agar permukiman maupun kawasan konservasi tidak terdampak perluasan api. Informasi ini menggambarkan lokasi awal yang teridentifikasi serta tujuan pengendalian yang hendak dicapai, tanpa menyimpulkan hal lain yang belum diketahui.
Penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Arjuno-Ringgit melibatkan unsur lintas lembaga agar upaya di lapangan dapat berjalan secara terkoordinasi. BPBD Kabupaten Pasuruan, BPBD Jawa Timur, pengelola Tahura Raden Soerjo, polisi hutan, serta Manggala Agni menjadi bagian dari dukungan operasi. Keterlibatan berbagai unsur ini menggambarkan perlunya kerja bersama dalam menghadapi kondisi kebakaran di kawasan yang memiliki medan dan karakteristik lingkungan tersendiri. Setiap pihak hadir dalam susunan penanganan sesuai peran dan kapasitasnya, sehingga kebutuhan koordinasi dapat dibahas bersama. Informasi tersebut menunjukkan pengerahan gabungan, bukan hanya tindakan oleh satu instansi. Kolaborasi juga menjadi landasan untuk menyatukan dukungan dan menjaga komunikasi selama operasi berlangsung.
BPBD Kabupaten Pasuruan dan BPBD Jawa Timur berada dalam susunan penanganan kebencanaan, berdampingan dengan Tahura Raden Soerjo sebagai pengelola kawasan. Polisi hutan turut menjadi unsur yang mendukung penanganan di wilayah hutan, sementara Manggala Agni melengkapi tim dengan keterlibatan dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Penyebutan unsur-unsur tersebut memberi gambaran tentang cakupan koordinasi, mulai dari dukungan pemerintah daerah dan provinsi hingga pihak yang berkaitan langsung dengan kawasan serta penanganan kebakaran. Susunan ini memungkinkan informasi dan dukungan operasi dihimpun lintas pihak. Tidak ada rincian jumlah personel masing-masing unsur yang perlu dicantumkan; yang ditekankan ialah kehadiran dan kerja sama mereka dalam respons terhadap karhutla.
Untuk mendukung koordinasi penanganan, posko darurat disiagakan di Desa Dayurejo. Keberadaan posko menjadi titik dukungan bagi komunikasi dan pengaturan operasi unsur yang terlibat. Dengan adanya tempat koordinasi, perkembangan penanganan dapat dibicarakan bersama dan dukungan lapangan dapat diselaraskan sesuai kebutuhan. Posko tersebut juga mempertegas bahwa respons tidak hanya bertumpu pada kegiatan di area terdampak, tetapi mencakup pengaturan kerja antarlembaga. Dalam situasi kebakaran yang dapat berubah, koordinasi menjadi bagian penting agar informasi mengenai kondisi dan langkah penanganan dapat tersampaikan kepada pihak terkait. Pengerahan BPBD Kabupaten Pasuruan, BPBD Jawa Timur, Tahura Raden Soerjo, polisi hutan, dan Manggala Agni, dengan dukungan posko di Dayurejo, menunjukkan upaya bersama untuk mengelola operasi secara terarah.Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Arjuno-Ringgit menghadapi sejumlah hambatan di lapangan. Selain keterbatasan sarana dan prasarana, kondisi medan yang terjal serta sulit dijangkau membuat pergerakan personel menjadi terbatas. Petugas harus menyesuaikan langkah dengan kontur kawasan, sehingga penanganan titik api tidak dapat dilakukan secara mudah maupun cepat. Situasi tersebut menuntut kewaspadaan dan koordinasi selama proses pemadaman berlangsung.
Dengan dukungan peralatan yang tersedia, personel menyisir kawasan secara manual untuk memantau kondisi dan menjangkau area yang terdampak. Penyisiran dilakukan guna mengetahui arah pergerakan api serta mengidentifikasi bagian yang perlu ditangani. Petugas juga membuat sekat bakar sebagai upaya membatasi rambatan api agar tidak meluas ke kawasan lain. Langkah ini menjadi bagian dari penanganan di tengah keterbatasan akses dan sarana pendukung. Medan yang berat turut memengaruhi distribusi perlengkapan, sementara kondisi lapangan dapat berubah selama api masih bergerak. Karena itu, personel perlu bekerja dengan cermat dalam menentukan jalur penyisiran dan lokasi pembuatan sekat. Upaya manual tersebut menjadi penting ketika dukungan peralatan tidak memadai untuk menjangkau seluruh titik secara langsung.
Sugeng menyampaikan bahwa pemadaman akan terus dilakukan sampai kebakaran benar-benar terkendali atau padam. Pernyataan itu menegaskan bahwa penanganan masih berlangsung dan petugas tetap berupaya mengantisipasi pergerakan api. Ia juga menyebut keterbatasan peralatan sebagai kendala utama dalam proses pemadaman. Ketersediaan sarana yang memadai dibutuhkan untuk mendukung jangkauan personel, mempercepat penanganan, serta membantu mereka bekerja dengan lebih aman di medan sulit. Hingga upaya tersebut berlanjut, personel tetap melakukan penyisiran dan membuat sekat bakar sesuai kondisi lapangan. Belum ada keterangan bahwa kebakaran telah padam, sehingga pengendalian api masih menjadi fokus pekerjaan petugas di kawasan Arjuno-Ringgit.
Baca juga: Musim Kemarau, Polres Jember Perkuat Patroli Kawasan Hutan Cegah Karhutla | Sinergi Polres Ngawi dan Tim Gabungan Berhasil Padamkan Karhutla Lawu Utara | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel











