banner 728x250

Yili Indonesia Dairy Perkuat UMK Pangan Daerah melalui Kolaborasi Keamanan Pangan

Yili Indonesia Dairy Perkuat UMK Pangan Daerah melalui Kolaborasi Keamanan Pangan
banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 8 Oktober 2026, PT Yili Indonesia Dairy memperkuat dukungannya terhadap pengembangan sumber daya manusia dan usaha mikro serta kecil (UMK) pangan di berbagai wilayah Indonesia. Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk mendorong ekosistem pangan yang lebih aman, berdaya saing, dan mampu berkembang secara berkelanjutan. Dukungan ini tidak hanya berorientasi pada keberlangsungan usaha, tetapi juga pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang terlibat dalam rantai pangan.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Yili Indonesia menjalin kerja sama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) serta sejumlah perguruan tinggi melalui program KKN Tematik Keamanan Pangan. Kolaborasi ini mempertemukan pengalaman dunia usaha, kapasitas pengawasan pemerintah, dan peran akademik dalam mendukung penguatan kemampuan masyarakat. Sinergi antarpihak diharapkan dapat menghadirkan pendekatan yang relevan bagi kebutuhan pelaku UMK pangan.

banner 325x300

Program KKN Tematik Keamanan Pangan menjadi sarana untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penerapan keamanan pangan dalam kegiatan usaha. Melalui kerja sama tersebut, masyarakat dan pelaku UMK pangan didorong untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola usaha sesuai dengan prinsip keamanan pangan. Pengetahuan yang lebih baik dapat membantu pelaku usaha mengenali berbagai aspek penting dalam proses pengolahan, penanganan, dan pengelolaan produk pangan.

Bagi UMK pangan, penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan landasan penting untuk meningkatkan kualitas dan kepercayaan terhadap produk. Kemampuan menerapkan praktik yang tepat juga mendukung pelaku usaha dalam menghadapi kebutuhan konsumen serta tuntutan perkembangan sektor pangan. Karena itu, kolaborasi Yili, BPOM, dan perguruan tinggi menempatkan peningkatan kemampuan masyarakat sebagai fokus utama, sekaligus membuka ruang bagi penguatan usaha pangan lokal secara lebih terarah.

Kerja sama ini menunjukkan bahwa pengembangan UMK pangan memerlukan keterlibatan berbagai pihak secara konsisten. Dengan menggabungkan dukungan perusahaan, pengawasan regulator, dan kontribusi perguruan tinggi, program tersebut diharapkan dapat membantu membangun pemahaman yang lebih kuat mengenai keamanan pangan. Pada saat yang sama, kolaborasi ini memperkuat peran masyarakat dan pelaku UMK sebagai bagian penting dari pertumbuhan sektor pangan di Indonesia.

Keterlibatan PT Yili Indonesia Dairy dalam program penguatan usaha mikro dan kecil (UMK) pangan daerah berangkat dari keyakinan bahwa pembangunan tidak seharusnya hanya berpusat pada wilayah dengan aktivitas ekonomi paling besar. Sebagai bagian dari industri pangan, perusahaan melihat adanya tanggung jawab untuk ikut memperkuat ekosistem usaha yang menghasilkan, mengolah, dan menyediakan pangan bagi masyarakat. Dukungan terhadap pelaku usaha daerah menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata untuk mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif, sekaligus memperluas manfaat pembangunan agar dapat dirasakan oleh kelompok masyarakat di berbagai wilayah.

Penguatan kapasitas masyarakat, institusi pendidikan, dan pelaku usaha memiliki peran penting dalam membangun fondasi ekonomi yang berkelanjutan. Masyarakat memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang relevan, sementara lembaga pendidikan dapat menjadi pusat pengembangan kompetensi, inovasi, serta penerapan praktik keamanan pangan. Di sisi lain, UMK membutuhkan pendampingan agar mampu meningkatkan kualitas produk, memenuhi standar, mengelola usaha secara lebih baik, dan memperluas akses ke pasar. Kolaborasi antarpihak tersebut dapat membantu menciptakan rantai nilai pangan yang lebih kuat dan berdaya tahan.

Perhatian terhadap pengembangan wilayah di luar Jawa juga menjadi bagian penting dari perspektif ini. Daerah memiliki potensi bahan baku, tenaga kerja, dan keragaman produk pangan yang dapat dikembangkan melalui dukungan yang tepat. Dengan memperkuat kapasitas lokal, peluang ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi dapat berkembang sesuai karakter dan kebutuhan masing-masing wilayah. Pendekatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi lahirnya inovasi serta peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Presiden Direktur PT Yili Indonesia Dairy, Yu Miao, memandang bahwa kemajuan Indonesia perlu dibangun secara bersama dan merata. Pandangan tersebut tercermin dalam upaya perusahaan untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan, bukan sekadar menjalankan kegiatan bisnis. Melalui kolaborasi yang berkesinambungan, Yili Indonesia Dairy berupaya mendukung terciptanya pembangunan yang melibatkan lebih banyak pihak dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Dalam inisiatif penguatan keamanan pangan, perguruan tinggi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMK) memiliki peran yang saling melengkapi. Mengacu pada pernyataan Yu Miao, perguruan tinggi diposisikan sebagai pusat pengetahuan sekaligus tempat pengembangan sumber daya manusia di daerah. Kapasitas akademik yang dimiliki perguruan tinggi dapat mendukung peningkatan pemahaman dan keterampilan, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan keamanan pangan serta pengelolaan usaha. Peran ini penting karena penguatan UMK tidak hanya memerlukan dukungan program, tetapi juga pengetahuan dan sumber daya manusia yang mampu menerapkannya secara berkelanjutan.

Di sisi lain, UMK merupakan bagian penting dari penggerak ekonomi masyarakat. Keberadaan pelaku usaha skala kecil dan menengah berhubungan langsung dengan aktivitas ekonomi di daerah, termasuk produksi dan penyediaan pangan. Karena itu, peningkatan kapasitas UMK dapat memberi pengaruh terhadap penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendorong praktik pangan yang lebih aman. Kolaborasi menjadi sarana untuk mempertemukan pengetahuan dari perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata yang dihadapi para pelaku UMK.

Kerja sama Yili Indonesia dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta perguruan tinggi diarahkan agar manfaat program dapat dirasakan langsung oleh masyarakat daerah. Dalam kerangka tersebut, perguruan tinggi berperan sebagai penghubung pengetahuan dan pengembangan kapasitas, sementara UMK menjadi bagian yang menjalankan serta merasakan dampak penguatan tersebut dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Keterlibatan BPOM dan perguruan tinggi menunjukkan bahwa keamanan pangan ditempatkan sebagai upaya bersama, bukan tanggung jawab satu pihak saja. Menurut Yu Miao, kolaborasi ini diharapkan memperkuat UMK pangan daerah melalui dukungan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat, sehingga program tidak berhenti pada tingkat kelembagaan, tetapi memiliki manfaat yang lebih dekat dan nyata bagi daerah.

Program KKN Tematik Keamanan Pangan merupakan salah satu inisiatif Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memperluas edukasi dan pendampingan keamanan pangan di tingkat masyarakat. Melalui program ini, perguruan tinggi dilibatkan dalam penguatan kapasitas masyarakat desa, khususnya kelompok yang berkaitan dengan pangan olahan. Mahasiswa tidak hanya menjalankan kegiatan pengabdian, tetapi juga dipersiapkan untuk berperan sebagai fasilitator keamanan pangan dan kader keamanan pangan di wilayah penugasan.

Sebelum diterjunkan ke desa, mahasiswa memperoleh pembekalan teknis mengenai prinsip dan praktik keamanan pangan. Pembekalan tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa dalam memahami aspek yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan pangan, sekaligus membekali mereka dengan kemampuan menyampaikan informasi secara tepat kepada masyarakat. Dengan persiapan tersebut, mahasiswa dapat menjalankan fungsi pendampingan berdasarkan materi dan arahan yang diberikan dalam kerangka program BPOM.

Setelah berada di lokasi, mahasiswa memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerapan keamanan pangan dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam proses usaha. Edukasi juga diarahkan kepada pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang bergerak di bidang pangan olahan. Selain menyampaikan pengetahuan, mahasiswa melakukan pendampingan agar masyarakat dan pelaku UMK dapat memahami serta menerapkan praktik keamanan pangan sesuai kebutuhan kegiatan mereka. Interaksi langsung di desa memungkinkan penyampaian informasi berlangsung lebih kontekstual, dengan memperhatikan kondisi dan aktivitas pangan setempat.

Rangkaian pembekalan, edukasi, dan pendampingan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus penguatan keamanan pangan. Keterlibatan mahasiswa sebagai fasilitator dan kader mempertemukan peran perguruan tinggi, BPOM, masyarakat, serta UMK dalam upaya membangun pemahaman dan praktik pangan yang lebih aman.

banner 325x300