banner 728x250

Gerakan Pangan Murah Jateng untuk Menahan Kenaikan Harga Bahan Pokok

Gerakan Pangan Murah Jateng untuk Menahan Kenaikan Harga Bahan Pokok
banner 120x600
banner 468x60

Kabupaten Semarang | Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Bank Indonesia perwakilan setempat menggelar Gerakan Pangan Murah serta sejumlah penyaluran bantuan untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok dan mengendalikan inflasi. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 12 Oktober, di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah. Langkah ini menjadi bagian dari intervensi pemerintah untuk memastikan ketersediaan pangan sekaligus membantu masyarakat memperoleh kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih terjangkau.

Program tersebut menyasar berbagai kelompok yang berkaitan langsung dengan rantai pasok dan konsumsi pangan, lain pedagang warung, pelaku usaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Melalui kegiatan ini, warga dapat mengakses sejumlah komoditas pokok dengan harga yang lebih terkendali. Di sisi lain, petani dan pelaku usaha pangan memperoleh dukungan agar distribusi produk tetap berjalan, terutama ketika terjadi tekanan terhadap harga di tingkat konsumen.

banner 325x300

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pengendalian harga memerlukan kerja sama lintas pihak. Pemprov Jateng berkolaborasi dengan Bank Indonesia, Bulog, para petani, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk menjaga harga tetap stabil dan menekan laju inflasi. Kolaborasi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kelancaran pasokan dari sentra produksi hingga pasar, sehingga gejolak harga dapat diantisipasi lebih cepat.

Menurutnya, keterjangkauan bahan pokok merupakan bagian penting dari perlindungan masyarakat, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah dan pelaku usaha kecil. Karena itu, Gerakan Pangan Murah tidak hanya dipandang sebagai kegiatan penjualan komoditas, tetapi juga sebagai upaya bersama membangun ketahanan pangan daerah. Sinergi pemerintah, lembaga keuangan, distributor, dan produsen diharapkan mampu menjaga keseimbangan pasokan serta permintaan di Jawa Tengah.

Intervensi melalui Gerakan Pangan Murah dilakukan karena harga sejumlah bahan pokok penting mengalami kenaikan. Perhatian utama diarahkan pada cabai merah dan beras, yang berpengaruh terhadap kebutuhan masyarakat. Harga cabai merah terpantau mencapai Rp80-90 ribu. Kondisi tersebut mendorong perlunya langkah pengendalian agar perkembangan harga bahan pokok tetap berada dalam jangkauan masyarakat.

Kenaikan harga cabai merah menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan kegiatan ini. Dengan menyediakan bahan pangan pada harga yang lebih terjangkau, gerakan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga kestabilan harga. Beras juga menjadi bagian penting dari intervensi karena merupakan bahan pokok yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Penanganan terhadap kedua komoditas ini menjadi bagian dari respons atas perubahan harga yang terpantau.

Ahmad Luthfi menyatakan bahwa kerja kolaboratif dalam pengendalian harga tersebut dijadikan model agar inflasi Jawa Tengah tetap terkendali. Model ini tidak hanya ditujukan untuk Semarang, tetapi juga untuk daerah lain. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengendalian harga memerlukan kerja bersama dan dapat diterapkan secara lebih luas. Dengan demikian, Gerakan Pangan Murah tidak berhenti sebagai kegiatan di satu wilayah, melainkan menjadi bagian dari pola kolaborasi untuk menjaga kestabilan pangan dan inflasi di Jawa Tengah.

Kegiatan ini juga menjadi langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan dan fenomena El Nino. Kedua kondisi tersebut perlu dihadapi melalui kesiapan dalam menjaga ketersediaan serta keterjangkauan bahan pokok. Intervensi pada cabai merah dan beras menjadi bentuk kesiapan menghadapi tekanan terhadap pangan, terutama ketika perubahan kondisi dapat memengaruhi harga. Pelaksanaan kegiatan secara kolaboratif memungkinkan pengendalian dilakukan dengan lebih terarah, sekaligus memberikan dukungan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan bahan pokok dengan harga terjangkau. Langkah tersebut memperkuat upaya menjaga inflasi tetap terkendali di Jawa Tengah.

Dukungan pemerintah terhadap produktivitas pangan di Jawa Tengah dilakukan melalui sejumlah bantuan yang menyentuh kebutuhan kelompok tani secara langsung. Bentuk dukungan tersebut mencakup penyaluran beras, penyediaan sarana perpipaan air, serta pembangunan rumah burung hantu. Beras membantu menjaga ketersediaan pangan masyarakat, sedangkan perpipaan air mendukung kelancaran pengairan lahan. Rumah burung hantu digunakan sebagai bagian dari upaya pengendalian hama secara lebih alami di area pertanian.

Dukungan itu berjalan beriringan dengan capaian produksi sejumlah komoditas utama. Pada periode Januari hingga Oktober 2026, produksi padi Jawa Tengah diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,9 juta ton beras. Pada periode yang sama, produksi cabai tercatat sekitar 404,91 ribu ton, sementara produksi bawang merah mencapai 408,76 ribu ton. Data tersebut menunjukkan pentingnya kesinambungan intervensi pemerintah untuk menjaga kapasitas produksi sekaligus ketersediaan bahan pangan di daerah.

Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa pola tanam petani disesuaikan dengan program Dinas Pertanian dan Peternakan. Penyesuaian ini menjadi dasar dalam mengatur waktu tanam serta mengarahkan dukungan agar lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan pola tanam yang terkoordinasi, produksi padi, cabai, dan bawang merah dapat dikembangkan secara lebih terencana, termasuk untuk mengantisipasi perubahan kebutuhan dan kondisi produksi antarmusim.

Kondisi El Nino menuntut kreativitas dalam mengendalikan bahan pokok penting dari sisi hulu hingga hilir. Pada sisi hulu, perhatian diarahkan pada dukungan air, sarana produksi, perlindungan tanaman, dan pengaturan pola tanam. Pada sisi hilir, pengendalian berkaitan dengan ketersediaan serta penyaluran komoditas. Langkah yang saling terhubung diperlukan agar hasil produksi dapat mendukung kestabilan pasokan bahan pokok.

Manfaat Gerakan Pangan Murah Jateng turut dirasakan langsung oleh pelaku usaha yang bergantung pada kestabilan harga bahan pokok. Salah satunya Joko, pedagang nasi goreng, yang menyebut kegiatan tersebut membantu menjaga keberlangsungan usahanya di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas. Menurutnya, peningkatan harga bahan pokok berpengaruh terhadap omzet, terutama karena harga cabai dalam dua minggu terakhir mengalami kenaikan cukup tinggi.

Melalui kegiatan tersebut, Joko dapat membeli tiga kilogram cabai dengan harga Rp45 ribu. Harga itu lebih rendah dibandingkan harga pasar terakhir yang mencapai Rp65 ribu. Penghematan tersebut menjadi berarti karena kebutuhan sambal untuk usahanya mencapai sekitar lima kilogram setiap minggu. Dengan memperoleh bahan baku pada harga yang lebih terjangkau, beban biaya usaha dapat ditekan tanpa harus segera menaikkan harga makanan yang dijual kepada pelanggan.

Manfaat serupa juga dirasakan seorang pengusaha katering yang memperoleh beras dengan harga mulai Rp11 ribu. Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan pokok, khususnya ayam dan beras, memengaruhi kegiatan usahanya karena kedua komoditas tersebut menjadi bagian penting dalam penyediaan makanan. Ketika biaya bahan baku meningkat, pengusaha perlu menyesuaikan pengeluaran agar usaha tetap berjalan.

Namun, menaikkan harga jual bukan pilihan yang mudah. Penyesuaian harga berisiko membuat pelanggan beralih, sehingga ruang untuk menanggung kenaikan biaya menjadi terbatas. Ketersediaan pangan dengan harga yang lebih murah melalui kegiatan tersebut membantu pelaku usaha menjaga keseimbangan biaya produksi dan harga yang dapat diterima pelanggan. Kesaksian Joko dan pengusaha katering itu menunjukkan bahwa program pangan murah tidak hanya membantu rumah tangga, tetapi juga memberikan dukungan bagi usaha kecil yang terdampak perubahan harga komoditas.

Baca juga: Kenaikan Drastis Harga Cabai di Jakarta | Kenaikan Harga Cabai Rawit: Dampak Musim Kemarau dan Biaya Distribusi | Kenaikan Drastis Harga Cabai di Jakarta

banner 325x300