banner 728x250

Program Makan Bergizi Gratis sebagai Ruang Pembentukan Karakter Siswa di Metro

Program Makan Bergizi Gratis sebagai Ruang Pembentukan Karakter Siswa di Metro
banner 120x600
banner 468x60

Kota Metro Ada | Perbincangan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Metro, Dr. Agus Muhammad Septiana, S.IP., M.H., dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, dalam kunjungan pelaksanaan revitalisasi sekolah pada 8 Oktober 2026 menegaskan pentingnya pendidikan yang menyentuh seluruh dimensi perkembangan peserta didik. Kunjungan tersebut berlangsung di SD Negeri 5 Metro Timur dan SMP Negeri 9 Metro, sekaligus menjadi ruang untuk melihat kembali arah pembinaan siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama.

Siswa SD dan SMP berada pada tahap penting dalam pembentukan kebiasaan, cara berpikir, serta sikap terhadap diri sendiri dan lingkungan. Mereka memerlukan bekal karakter yang kuat agar mampu menghadapi perubahan zaman yang semakin kompleks. Arus informasi global yang berlangsung tanpa filter dan tanpa batas membuat peserta didik mudah berhadapan dengan berbagai nilai, pandangan, dan perilaku yang belum tentu sesuai dengan norma sosial maupun tujuan pendidikan. Karena itu, sekolah perlu membantu siswa mengembangkan kemampuan memilih, menilai, dan menyikapi informasi secara bijaksana.

banner 325x300

Pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada capaian akademik atau transfer pengetahuan teknis. Nilai, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian, dan kemampuan bekerja sama merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Penguatan karakter juga mencakup pembentukan moral dan etika, sehingga siswa mampu memahami konsekuensi dari setiap tindakan serta menghargai hak orang lain. Pada saat yang sama, kematangan emosional dan sosial perlu dibangun melalui interaksi yang sehat, keteladanan pendidik, serta pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dalam kerangka tersebut, sekolah memiliki peran strategis sebagai lingkungan yang membentuk kebiasaan positif secara konsisten. Program dan kegiatan pendidikan perlu dirancang untuk menghubungkan pengetahuan dengan praktik, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri, empati, dan tanggung jawab. Dengan demikian, siswa tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh nilai yang baik, tetapi juga untuk menjadi pribadi yang mampu mengambil keputusan secara etis, beradaptasi terhadap perubahan, dan berkontribusi secara konstruktif di tengah masyarakat.

Prof. Abdul Mu’ti memandang Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo, bukan hanya sebagai kebijakan pemenuhan kebutuhan pangan peserta didik. Program ini juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan makan bersama, siswa memperoleh kesempatan untuk belajar menerapkan nilai-nilai positif dalam situasi yang nyata, teratur, dan berlangsung secara berulang. Dengan demikian, manfaat MBG tidak berhenti pada peningkatan asupan gizi dan kesehatan, tetapi turut mendukung pembentukan kebiasaan sosial yang baik.

Kegiatan tersebut dapat menanamkan tanggung jawab kepada siswa, misalnya dengan membiasakan mereka menjaga kebersihan tempat makan, menggunakan perlengkapan secara tepat, serta menghabiskan makanan sesuai kebutuhan. Disiplin juga dapat dilatih melalui kepatuhan terhadap jadwal makan, aturan antrean, dan tata tertib yang disepakati bersama. Kebiasaan sederhana ini membantu peserta didik memahami bahwa keteraturan dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kehidupan bersama. Nilai tanggung jawab tidak hanya diarahkan kepada diri sendiri, tetapi juga kepada teman, sekolah, dan sumber daya yang digunakan.

Ruang makan bersama juga membuka peluang bagi siswa untuk belajar toleransi dan sikap saling menghormati. Mereka dapat berinteraksi dengan teman yang memiliki latar belakang keluarga, kebiasaan, atau kondisi sosial yang berbeda. Dalam proses itu, siswa didorong untuk tidak mengejek pilihan makanan, tidak menyerobot hak orang lain, serta bersedia berbagi ruang dengan tertib. Guru dapat mengarahkan percakapan dan perilaku agar suasana makan berlangsung aman, inklusif, dan menyenangkan. Interaksi sosial semacam ini menjadikan MBG sebagai media pembiasaan karakter yang konkret, karena nilai-nilai moral dipelajari melalui pengalaman sehari-hari, bukan sekadar melalui penjelasan di dalam kelas.

Pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Metro dirancang secara sistematis agar tidak berhenti pada pencapaian indikator kecukupan gizi. Penyediaan makanan sehat dipadukan dengan pengelolaan kegiatan yang terarah, mulai dari persiapan, pembagian, hingga proses makan bersama di sekolah. Dengan demikian, program ini menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang menghubungkan pemenuhan kebutuhan fisik dengan pembentukan kebiasaan dan sikap positif dalam kehidupan sehari-hari.

Ruang makan dan momen makan bersama diposisikan sebagai laboratorium sosial bagi siswa. Dalam suasana tersebut, peserta didik belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, menjaga kebersihan, serta memperhatikan kebutuhan teman. Interaksi yang berlangsung secara rutin memberi kesempatan kepada guru untuk mendampingi, memberikan teladan, dan menguatkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai karakter. Proses pembiasaan ini diharapkan berlangsung alami melalui pengalaman berulang, bukan semata-mata melalui nasihat.

Nilai yang hendak dibentuk mencakup toleransi, kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghormati. Siswa dibiasakan menghargai perbedaan kebiasaan, selera, kondisi, maupun latar belakang teman. Mereka juga diarahkan untuk mengambil makanan secukupnya, menghabiskan makanan dengan bijak, menjaga peralatan, serta membantu mempertahankan kebersihan lingkungan setelah kegiatan selesai. Tanggung jawab personal dan kepedulian sosial tersebut menjadi bagian penting dari pelaksanaan program.

Pembiasaan komunikasi santun turut mendapat perhatian melalui penggunaan tiga kata ajaib, yaitu “terima kasih”, “silakan”, dan “mohon maaf”. Ungkapan sederhana ini dilatih dalam situasi nyata, misalnya ketika menerima makanan, mempersilakan teman, atau mengakui kesalahan. Pendekatan terpadu tersebut mendukung terbentuknya generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Keberhasilan MBG karenanya diukur melalui perubahan kebiasaan dan kualitas interaksi siswa, selain manfaat gizinya.

Pembahasan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ruang pembentukan karakter siswa memerlukan landasan pemikiran yang menghubungkan pendidikan, perkembangan peserta didik, dan proses pembelajaran perilaku. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mencakup pembentukan sikap, kebiasaan, serta nilai yang mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Dalam kerangka tersebut, kegiatan makan bersama di sekolah dapat dipahami sebagai bagian dari pengalaman pendidikan yang memiliki keterkaitan dengan pembentukan perilaku siswa.

Salah satu kerangka teoretis yang dapat digunakan ialah Teori Pembelajaran Sosial atau Social Learning Theory yang dikembangkan oleh Albert Bandura. Teori ini menjadi dasar untuk melihat pembentukan perilaku sebagai proses yang berkaitan dengan pembelajaran dalam lingkungan sosial. Penggunaan kerangka tersebut membantu menempatkan pelaksanaan MBG bukan semata-mata sebagai kegiatan pemenuhan kebutuhan gizi, melainkan juga sebagai konteks yang berhubungan dengan proses belajar dan pembiasaan karakter di lingkungan sekolah.

Melalui perspektif ini, kegiatan makan bersama diposisikan sebagai ruang yang dapat menghubungkan rutinitas sekolah dengan perkembangan perilaku peserta didik. Pembahasan tidak diarahkan untuk memisahkan aspek pemenuhan gizi dari aspek pendidikan, tetapi untuk melihat keterkaitan keduanya dalam pengalaman siswa sehari-hari. Dengan demikian, pelaksanaan MBG menjadi bagian dari pembicaraan mengenai bagaimana lingkungan pendidikan memberi tempat bagi proses pembelajaran perilaku dan pembiasaan karakter.

Landasan teoretis ini juga menegaskan bahwa pembentukan karakter perlu dipahami sebagai bagian dari proses pendidikan yang berkelanjutan. Karakter siswa tidak ditempatkan sebagai unsur tambahan, melainkan sebagai fondasi penting dalam pendidikan peserta didik. Penekanan tersebut semakin relevan di tengah dinamika zaman dan tantangan globalisasi, yang menuntut pendidikan tidak hanya menghasilkan siswa berpengetahuan, tetapi juga memiliki dasar perilaku dan karakter yang kuat.

banner 325x300