banner 728x250

Usai Aksi Sumpah Pemuda, Kelompok Tak Dikenal Picu Kericuhan di Malioboro

Usai Aksi Sumpah Pemuda, Kelompok Tak Dikenal Picu Kericuhan di Malioboro
banner 120x600
banner 468x60

Serang | Kericuhan terjadi di kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Rabu, 28 Oktober 2026, setelah demonstrasi mahasiswa dan pemuda dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tersebut berlangsung setelah massa menyampaikan aspirasi di kawasan Titik Nol Kilometer. Meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, aksi demonstrasi dan kericuhan setelahnya perlu dipahami sebagai dua kejadian yang belum tentu melibatkan kelompok atau orang yang sama.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menyampaikan bahwa kegiatan penyampaian aspirasi di Titik Nol Kilometer berlangsung tertib dan damai. Para peserta aksi kemudian membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB. Keterangan itu menunjukkan bahwa demonstrasi peringatan Sumpah Pemuda telah berakhir tanpa kericuhan saat massa menyampaikan tuntutan mereka maupun ketika membubarkan diri.

banner 325x300

Adapun kelompok yang kemudian disebut terlibat dalam kericuhan di Malioboro belum diketahui identitasnya. Karena itu, belum ada dasar untuk memastikan bahwa kelompok tersebut merupakan bagian dari peserta demonstrasi. Penyebutan yang mengaitkan kericuhan secara langsung dengan mahasiswa atau pemuda yang mengikuti aksi dapat menimbulkan kesimpulan yang keliru sebelum fakta dan identitas pihak-pihak terkait dipastikan.

Pemisahan informasi ini penting agar pemberitaan tetap akurat dan tidak membangun anggapan bahwa kegiatan damai di Titik Nol Kilometer berujung pada kekacauan. Waktu kejadian yang berdekatan tidak dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan peserta aksi dan kelompok yang memicu kericuhan. Keterangan resmi mengenai jalannya demonstrasi menjadi konteks awal, sementara identitas serta keterlibatan pihak lain masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Dengan demikian, informasi yang dapat dipastikan pada tahap ini adalah aksi penyampaian aspirasi berlangsung tertib, massa membubarkan diri sekitar pukul 17.30 WIB, dan kericuhan terjadi kemudian di kawasan Malioboro. Identitas kelompok yang terlibat belum diketahui. Penjelasan lebih lanjut dari pihak berwenang diperlukan untuk memastikan kronologi dan pihak-pihak yang bertanggung jawab, tanpa lebih dahulu menghubungkan kericuhan itu dengan peserta demonstrasi peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Setelah aksi Sumpah Pemuda di kawasan Malioboro dinyatakan bubar, situasi yang semula berangsur tenang kembali berubah. Ihsan menuturkan, sekelompok orang datang dari arah barat kawasan tersebut dan kemudian masuk ke area Malioboro. Rombongan itu bergerak melintasi kawasan menuju Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) serta Jalan Perwakilan. Keterangan tersebut menggambarkan urutan pergerakan yang terjadi setelah aksi selesai, tetapi tidak menjelaskan identitas orang-orang yang datang. Karena itu, kelompok tersebut tidak dapat dipastikan sebagai bagian dari peserta demonstrasi ataupun pihak tertentu. Informasi yang disampaikan Ihsan menjadi dasar kronologi ini, sementara keterkaitan dengan kegiatan sebelumnya belum ditetapkan oleh sumber.

Menurut penuturan Ihsan, kelompok itu tidak lebih dahulu menyampaikan orasi sebelum kericuhan terjadi. Tidak ada uraian mengenai penyampaian tuntutan atau pidato di sepanjang pergerakan mereka. Sebaliknya, situasi mulai memanas ketika benda-benda dilemparkan ke arah petugas parkir dan personel kepolisian yang berjaga di sekitar gedung. Ihsan menyebut petasan, kembang api, dan batu sebagai benda yang dilempar. Peristiwa tersebut berlangsung setelah rombongan bergerak menuju Gedung DPRD DIY dan Jalan Perwakilan. Dengan urutan itu, keterangan yang tersedia menempatkan aksi pelemparan sebagai pemicu awal kericuhan, bukan sebagai bagian dari orasi yang mendahuluinya.

Petugas parkir dan polisi berada di area sekitar gedung saat lemparan itu terjadi. Keterangan Ihsan tidak merinci jumlah orang dalam kelompok, apakah mereka bergerak bersama sejak awal, atau berapa lama pelemparan berlangsung. Informasi yang ada juga tidak memastikan siapa yang melempar setiap benda maupun apakah ada orang yang terluka atau mengalami kerugian. Oleh sebab itu, kronologi perlu dibatasi pada hal-hal yang disampaikan: kedatangan dari arah barat, pergerakan menuju gedung dan Jalan Perwakilan, tidak adanya orasi terlebih dahulu, serta lemparan petasan, kembang api, dan batu. Identitas, motif, dan hubungan kelompok tersebut dengan aksi Sumpah Pemuda tidak dapat disimpulkan dari keterangan itu.

Personel Polda DIY yang bersiaga di Gedung DPRD DIY sempat keluar untuk berupaya melerai keributan kelompok tak dikenal dan petugas parkir. Ihsan menyebut langkah tersebut dilakukan ketika perselisihan berlangsung di sekitar lokasi. Petugas kepolisian mendatangi keributan dengan maksud meredakan keadaan dan menghentikan pertikaian kedua pihak. Namun, upaya untuk melerai itu tidak membuat situasi segera tenang. Kelompok tersebut kemudian kembali melakukan perlawanan. Peristiwa ini menjadi bagian dari kericuhan di Malioboro yang terjadi usai aksi Sumpah Pemuda. Keterangan Ihsan menggambarkan bahwa upaya personel untuk mengendalikan keadaan di lokasi diikuti oleh tindakan perlawanan dari kelompok itu.

Menurut Ihsan, perlawanan tersebut dilakukan dengan kembali melempar batu, petasan, dan kembang api. Aksi itu terjadi setelah personel kepolisian berusaha melerai keributan dengan petugas parkir. Lemparan tersebut membuat upaya meredakan situasi semakin sulit, sementara kondisi di sekitar lokasi kian memanas. Sejumlah barang di sekitar lokasi juga dibakar oleh kelompok tersebut. Pembakaran itu menambah ketegangan dalam rangkaian kejadian dan membuat suasana semakin tidak kondusif. Informasi yang disampaikan hanya menyebut adanya pembakaran sejumlah barang, tanpa merinci jenis maupun jumlahnya. Tidak ada keterangan tambahan mengenai barang yang dibakar. Dengan demikian, yang dapat dipastikan dari keterangan Ihsan adalah adanya lemparan batu, petasan, dan kembang api, serta pembakaran barang di sekitar lokasi.

Di tengah keadaan yang semakin memanas tersebut, personel kepolisian akhirnya mundur ke dalam Gedung DPRD DIY. Mundurnya personel terjadi setelah kelompok itu kembali melakukan perlawanan dan membakar sejumlah barang di sekitar lokasi. Keterangan Ihsan menempatkan langkah tersebut sebagai bagian dari perkembangan situasi setelah upaya melerai keributan. Personel yang sebelumnya keluar untuk meredakan perselisihan kemudian kembali masuk ke gedung. Rangkaian ini menunjukkan bahwa upaya kepolisian untuk menghentikan keributan tidak langsung mengakhiri ketegangan. Kelompok itu tetap melakukan perlawanan, sementara aksi lemparan dan pembakaran membuat keadaan semakin panas. Tidak ada rincian lain mengenai proses mundur tersebut dalam keterangan yang tersedia. Peristiwa yang dapat disampaikan terbatas pada upaya melerai, perlawanan kelompok, pembakaran sejumlah barang, dan kembalinya personel ke dalam gedung.

Menurut Ihsan, kelompok tak dikenal diduga memanfaatkan situasi setelah aksi mahasiswa berakhir untuk memicu kericuhan di kawasan Malioboro. Penilaian tersebut menempatkan waktu munculnya kelompok itu sebagai hal yang perlu diperhatikan: aksi mahasiswa telah selesai, lalu kelompok lain bergerak dan menimbulkan gangguan. Ihsan menyampaikan dugaan itu sebagai penjelasan atas perkembangan situasi setelah demonstrasi, bukan sebagai kepastian mengenai identitas atau keterkaitan para pelaku. Kelompok yang dimaksud belum diketahui asal-usulnya, sehingga belum dapat dipastikan apakah mereka datang secara terorganisasi atau memiliki hubungan dengan pihak tertentu. Pemisahan aksi mahasiswa dan kemunculan kelompok tak dikenal juga penting agar peristiwa tidak serta-merta dianggap sebagai satu rangkaian tindakan oleh massa yang sama.

Ihsan tidak menutup kemungkinan bahwa ada pihak yang menyusup di tengah massa mahasiswa. Namun, kemungkinan tersebut tidak mengubah keterangannya mengenai arah kedatangan sebagian besar kelompok yang memicu kericuhan. Menurut dia, kelompok itu datang dari arah barat dan langsung menuju gedung DPRD. Dengan demikian, dugaan penyusupan disampaikan sebagai salah satu kemungkinan, sementara arah pergerakan yang disebut Ihsan menjadi bagian dari pengamatan aparat terhadap situasi saat itu. Keterangan tersebut belum menetapkan siapa anggota kelompok itu maupun alasan mereka bergerak menuju gedung DPRD. Ihsan juga tidak menyatakan bahwa seluruh orang yang terlibat datang melalui jalur yang sama.

Baca juga: Panggilan Polisi kepada Siswa Usai Aksi Konvoi Viral | Kebakaran Melanda Hamzah Batik di Malioboro, Ini Kronologinya

banner 325x300