Probolinggo – Penerapan pembelajaran kelas rangkap (multigrade teaching) di SDN Wonokerto 2 Kecamatan Sukapura menjadi salah satu solusi efektif untuk menjawab keterbatasan jumlah siswa dan guru di Sekolah Dasar (SD) kawasan pegunungan.
Sejak diterapkan pada tahun 2018, model pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, tetapi juga memperkuat kolaborasi siswa, efisiensi pengelolaan sekolah hingga pemanfaatan sarana pendidikan.
Kepala SDN Wonokerto 2 Ahmad Samhaji mengatakan sekolahnya merupakan salah satu dari delapan sekolah dasar di Kecamatan Sukapura yang ditunjuk sebagai pilot project pembelajaran kelas rangkap melalui program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), Kemitraan Indonesia-Australia di bidang pendidikan sebelum ditetapkan secara resmi melalui SK Bupati Probolinggo Nomor 19 Tahun 2018.
Sebelum program dijalankan, para guru terlebih dahulu mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari fasilitator daerah agar siap menerapkan model pembelajaran yang menggabungkan dua jenjang kelas dalam satu ruang belajar.
“Pembelajaran kelas rangkap di SDN Wonokerto 2 mulai kami laksanakan pada tahun 2018 setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari fasilitator daerah. Saat itu kami menjadi salah satu dari delapan sekolah dasar di Kecamatan Sukapura yang ditunjuk untuk menerapkan multigrade teaching,” katanya.
Menurut Samhaji, penerapan pembelajaran kelas rangkap didasarkan pada kondisi nyata sekolah yang memiliki jumlah siswa dan guru terbatas. Pada saat program mulai diterapkan, jumlah siswa SDN Wonokerto 2 kurang dari 50 orang, sehingga pembelajaran reguler dinilai kurang efektif.
“Jumlah murid kami saat itu sangat terbatas. Ada kelas yang hanya berisi empat hingga lima siswa. Dengan kondisi seperti itu, pembelajaran kelas rangkap menjadi pilihan yang paling tepat agar proses belajar tetap efektif dan siswa bisa belajar secara kolaboratif,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, siswa dari dua jenjang kelas digabung dalam satu ruang pembelajaran. Pengelompokan belajar dilakukan berdasarkan tingkat kemampuan siswa, bukan berdasarkan kelasnya.
“Kalau kelas 1 hanya lima siswa dan kelas 2 ada empat siswa, ketika digabung menjadi sembilan siswa kami bisa membentuk beberapa kelompok belajar. Pengelompokan dilakukan berdasarkan kemampuan, sehingga siswa dari kelas yang berbeda bisa berada dalam kelompok yang sama,” terangnya.
Samhaji menilai model pembelajaran tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan sosial siswa. Interaksi yang sebelumnya terbatas hanya pada teman sekelas kini menjadi lebih luas karena mereka belajar bersama dengan siswa dari tingkat yang berbeda.
“Interaksi sosial siswa meningkat karena mereka terbiasa berkolaborasi dengan kakak maupun adik kelas. Anak-anak menjadi lebih terbuka untuk berdiskusi, bekerja sama dan saling membantu dalam proses pembelajaran,” lanjutnya.
Selain itu, pembelajaran kelas rangkap juga dinilai mampu meminimalkan budaya senioritas dan perundungan di lingkungan sekolah. “Dengan belajar bersama dalam satu kelas, rasa senioritas dan junioritas hampir tidak ada. Anak-anak lebih sering berinteraksi dan saling mengenal sehingga potensi bullying sangat minim,” ungkapnya.
Dari sisi akademik, Samhaji menyebut kemampuan literasi dan numerasi siswa juga mengalami peningkatan berkat penerapan tutor sebaya yang berlangsung secara alami. “Ketika ada siswa yang lebih cepat memahami materi, dia membantu temannya yang masih kesulitan. Tutor sebaya seperti ini sangat efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak,” urainya.
Bagi sekolah, penerapan multigrade teaching juga mempermudah pengelolaan sumber daya manusia. Dengan jumlah guru yang terbatas, proses pembelajaran tetap dapat berjalan optimal.
“Pengelolaan guru menjadi lebih efektif. Di sekolah multigrade cukup ada tiga guru kelas yang menangani fase A, fase B dan fase C. Ini tentu lebih mudah dibandingkan harus mengelola banyak guru dengan jumlah siswa yang relatif sedikit,” tegasnya.
Samhaji menerangkan, guru yang mengajar di sekolah multigrade justru dituntut lebih kreatif dan inovatif karena harus mengelola dua tingkat kelas sekaligus dalam satu waktu. “Guru harus mampu merancang pembelajaran diferensiasi, menyiapkan media belajar untuk dua tingkat kelas yang berbeda serta mengelola proses pembelajaran dalam satu ruangan. Ini tantangan yang membuat guru menjadi lebih kreatif dan profesional,” ujarnya.
Selain berdampak pada proses pembelajaran, sistem kelas rangkap juga memberikan manfaat terhadap pemanfaatan fasilitas sekolah. Penggabungan kelas membuat sejumlah ruang belajar menjadi kosong dan dapat dialihkan untuk kebutuhan lain.
“Karena cukup menggunakan tiga ruang kelas untuk fase A, fase B dan fase C, ada tiga ruang yang tidak terpakai. Ruangan tersebut kemudian kami manfaatkan untuk mendukung kebutuhan sekolah,” tambahnya.
Samhaji menjelaskan ruang kosong tersebut kini dimanfaatkan sebagai ruang guru, ruang kegiatan Pramuka dan ruang serbaguna yang digunakan untuk pembelajaran kreatif berbasis digital.
“Selama ini kami belum memiliki ruang guru, ruang kepala sekolah maupun ruang serbaguna yang memadai. Setelah menerapkan multigrade teaching, ruang kosong itu bisa kami manfaatkan sebagai ruang guru, ruang Pramuka dan ruang kreatif berbasis digital,” tuturnya.
Kondisi tersebut sejalan dengan semangat efisiensi yang saat ini diterapkan pemerintah dalam pengelolaan anggaran pendidikan. “Pembelajaran kelas rangkap sangat selaras dengan konsep efisiensi. Sekolah tidak perlu membangun ruang baru karena ruang yang ada bisa dimanfaatkan secara maksimal sesuai kebutuhan,” akunya.
Keberhasilan penerapan multigrade teaching di SDN Wonokerto 2 juga mendapat dukungan dari orang tua siswa, komite sekolah dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Awalnya ada keraguan, tetapi setelah ada pembuktian bahwa sekolah multigrade mampu menghasilkan kualitas pendidikan yang baik, dukungan dari masyarakat dan stakeholder semakin kuat.
“Kami berharap pemerintah dapat menjaga keberlangsungan sumber daya manusia yang telah memahami sistem pembelajaran kelas rangkap agar program tersebut tetap berjalan optimal. Guru dan tenaga kependidikan yang sudah memahami serta menikmati pembelajaran kelas rangkap tidak mudah dimutasi. Jika ada pergantian personel, maka harus memulai proses pembelajaran dan adaptasi lagi dari awal,” harapnya.
Samhaji juga mengajak seluruh stakeholder pendidikan untuk terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pembelajaran kelas rangkap sebagai salah satu model pendidikan yang efektif bagi sekolah dengan jumlah siswa terbatas.
“Kami akan terus belajar, beradaptasi dan meningkatkan kompetensi agar dapat mengantarkan generasi yang dititipkan kepada kami menjadi generasi yang unggul sesuai harapan orang tua, masyarakat dan negara,” pungkasnya.(Bambang)
- Pemuda Asal Paguyangan Dilaporkan atas Dugaan Kekerasan Seksual, Mediasi Keluarga Belum Temui Titik Terang
- Wapimpred Media Patrolihukum. net Jalin Silahturahmi Bersama Kasubsektor Toili Barat, Wujud Sinergitas Mitra Kerja.
- Terdakwa yang Diduga Pemasok Sabu Divonis Bebas, Publik Pertanyakan Konsistensi Proses Hukum di Pekalongan














Respon (1)