KABUPATEN BEKASI, JAWA BARAT — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Kementerian Sosial dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani nota kesepahaman sebagai langkah strategis untuk memperkuat penyelenggaraan Sekolah Rakyat. Kesepakatan ini menjadi dasar kolaborasi kedua lembaga dalam memanfaatkan pengetahuan, teknologi, serta hasil penelitian untuk mendukung program pendidikan yang dirancang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, bersama Kepala BRIN Arif Satria.
Kerja sama tersebut diarahkan pada pemanfaatan hasil riset dan inovasi BRIN dalam berbagai aspek Sekolah Rakyat. Dukungan itu tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran siswa, tetapi juga mencakup pengembangan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Temuan riset dapat menjadi rujukan untuk menyusun metode belajar, materi pendidikan, serta pendekatan pendampingan yang lebih efektif, kontekstual, dan selaras dengan perkembangan peserta didik.
Selain mendukung kegiatan akademik, inovasi dalam negeri diharapkan membantu memenuhi kebutuhan infrastruktur yang menunjang kehidupan siswa selama tinggal di asrama. Sekolah Rakyat menerapkan pola pendidikan berasrama, sehingga ketersediaan fasilitas yang layak, aman, sehat, dan efisien merupakan bagian penting dari keberhasilan program. Hasil kajian BRIN dapat digunakan untuk mengembangkan solusi terkait fasilitas hunian, sanitasi, pangan, energi, maupun sarana pendukung lain yang dibutuhkan dalam keseharian siswa.
Gus Ipul menegaskan bahwa Kemensos membutuhkan dukungan BRIN untuk menyempurnakan dan memperbaiki tata kelola Sekolah Rakyat. Menurutnya, pengelolaan program perlu terus dievaluasi agar pelaksanaannya berjalan lebih terukur, efektif, dan mampu menjawab kebutuhan siswa. Melalui kolaborasi berbasis riset, keputusan mengenai pembelajaran, pengasuhan, infrastruktur, serta pengelolaan asrama dapat disusun dengan landasan data dan bukti yang lebih kuat.
Nota kesepahaman ini sekaligus membuka ruang bagi koordinasi berkelanjutan Kemensos dan BRIN. Dengan menghubungkan kebijakan sosial dan kapasitas riset nasional, Sekolah Rakyat diharapkan berkembang sebagai model pendidikan yang tidak hanya memperluas akses, tetapi juga meningkatkan mutu layanan serta kualitas hidup peserta didik.
Kerja sama Kementerian Sosial dan BRIN membuka peluang pemanfaatan berbagai hasil riset untuk memperkuat pelaksanaan Sekolah Rakyat. Inovasi yang dihasilkan tidak hanya diarahkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, tetapi juga untuk membantu memenuhi kebutuhan siswa serta membangun lingkungan sekolah yang lebih layak. Pendekatan ini menempatkan penelitian dan pengembangan dalam negeri sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan pendidikan.
Salah satu inovasi yang disebut dapat dimanfaatkan adalah produk sepatu hasil pengembangan BRIN. Produk tersebut diharapkan dapat diberikan kepada siswa baru pada tahun ajaran berikutnya. Penyediaan sepatu melalui hasil inovasi nasional dipandang dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar peserta didik, terutama pada awal mereka mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Pemanfaatan produk ini juga menunjukkan bahwa hasil penelitian dapat diterapkan secara langsung untuk mendukung program sosial.
Gus Ipul menekankan bahwa penggunaan produk hasil inovasi BRIN akan lebih efisien. Pada saat yang sama, langkah tersebut menjadi bentuk pemanfaatan dan penguatan produk dalam negeri. Dengan demikian, dukungan untuk siswa tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan, tetapi juga mendorong penggunaan karya serta kemampuan yang dikembangkan oleh lembaga penelitian nasional.
Dukungan BRIN tidak berhenti pada kebutuhan pembelajaran dan perlengkapan siswa. BRIN juga berencana menghadirkan alat pengolahan sampah serta alat pengolahan air bersih untuk mendukung infrastruktur Sekolah Rakyat. Kehadiran perangkat tersebut diharapkan membantu sekolah menangani kebutuhan lingkungan secara lebih baik. Pengolahan sampah dan penyediaan air bersih menjadi bagian penting dari terciptanya fasilitas pendidikan yang sehat, tertata, dan mendukung aktivitas siswa sehari-hari.
Suasana kegiatan di SRT 1 Kabupaten Bekasi berlangsung semarak melalui berbagai penampilan siswa. Para peserta didik menyampaikan pidato dalam beberapa bahasa, memperlihatkan kemampuan berkomunikasi sekaligus keberanian tampil di hadapan tamu dan undangan. Paduan suara turut menghidupkan acara dengan harmonisasi yang tertata, sementara pembacaan puisi menghadirkan ekspresi emosional dan kreativitas para siswa. Rangkaian penampilan tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan di Sekolah Rakyat tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan bakat dan karakter.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul berdialog dengan sejumlah siswa untuk mengetahui pengalaman mereka selama mengikuti pendidikan. Salah satu siswa yang mendapat perhatian ialah Dani Dwi Maulana, siswa jenjang SMA SRT 1 Kabupaten Bekasi yang dipercaya menjadi ketua OSIS. Kepercayaan tersebut mencerminkan kemampuan Dani dalam memimpin, berkomunikasi, dan mengambil tanggung jawab di lingkungan sekolah. Percakapan itu juga memperlihatkan perubahan yang dialaminya setelah menjalani pendidikan selama satu tahun.
Dani mengungkapkan bahwa pengalaman belajar di Sekolah Rakyat membantunya menemukan jati diri. Ia mengakui, sebelum bersekolah di sana, dirinya cenderung pemalu dan tidak banyak berbicara di hadapan orang lain. Berbagai kegiatan pembelajaran, organisasi, serta kesempatan tampil di depan publik secara bertahap mendorongnya menjadi lebih percaya diri. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari keberaniannya menyampaikan pendapat, tetapi juga dari kesediaannya memimpin teman-teman sebagai ketua OSIS.
Pengalaman Dani sejalan dengan pandangan Arif Satria bahwa Sekolah Rakyat berupaya menemukan kekuatan dan potensi setiap siswa. Lembaga ini memberi kesempatan kepada anak-anak yang sebelumnya mungkin belum memperoleh ruang pendidikan dan pengembangan yang memadai. Melalui pendampingan, kegiatan kolaboratif, dan pengalaman praktis, siswa didorong mengenali kemampuan dirinya serta membangun kepercayaan diri. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur melalui nilai, melainkan juga melalui tumbuhnya karakter, kepemimpinan, kreativitas, dan kesiapan anak untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
BRIN menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan Kementerian Sosial dalam memperkuat pelaksanaan Sekolah Rakyat. Kolaborasi tersebut akan diarahkan pada pemanfaatan riset dan inovasi dalam negeri agar program dapat berjalan sesuai kebutuhan peserta didik, tenaga pendidik, serta lingkungan sekolah. Dengan dukungan berbasis data, pengembangan Sekolah Rakyat diharapkan tidak hanya berfokus pada penyediaan akses pendidikan, tetapi juga menghasilkan model pembelajaran yang relevan dan berkelanjutan.
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa pihaknya akan terlebih dahulu mendata berbagai kebutuhan Sekolah Rakyat. Pendataan itu menjadi dasar untuk menentukan jenis riset yang diperlukan guna mendukung keberhasilan program. Kebutuhan tersebut dapat mencakup aspek pembelajaran, pengembangan potensi anak, pengelolaan sekolah, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan ekosistem pendidikan di wilayah penyelenggaraannya.
Menurut Arif, langkah tersebut penting agar kebijakan dan inovasi yang dihasilkan benar-benar menjawab persoalan di lapangan. BRIN akan mengidentifikasi bidang-bidang yang membutuhkan kajian, kemudian menyiapkan dukungan keilmuan melalui penelitian, pengembangan teknologi, serta rekomendasi berbasis bukti. Pendekatan ini diharapkan membantu Kemensos menyusun strategi Sekolah Rakyat secara lebih terukur dan adaptif.
Arif juga berpandangan bahwa Presiden Prabowo Subianto berupaya menjalankan amanat konstitusi dengan memberikan kesempatan kepada anak-anak terlantar untuk memperoleh pendidikan. Kesempatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi mereka untuk mengembangkan potensi, membangun kemandirian, dan memperoleh masa depan yang lebih baik. Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat memerlukan dukungan lintas lembaga yang konsisten.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Rektor Universitas Pertahanan Anton Nugroho, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN Nunung Nuryartono, Sekretaris Daerah Kabupaten Bekasi Endin Samsudin, staf khusus dan tenaga ahli Menteri Sosial, serta jajaran pejabat tinggi madya Kemensos. Kehadiran para pemangku kepentingan itu mencerminkan dukungan bersama terhadap penguatan Sekolah Rakyat melalui riset, inovasi, dan kerja sama antarlembaga.







