banner 728x250

Perubahan tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga cara konsumen berbelanja

Perubahan tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga cara konsumen berbelanja
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Erajaya menjadi mitra dan distributor resmi Belkin di Indonesia, membawa GENTLEWOMAN ke pasar domestik, serta memperluas jaringan sejumlah brand seperti DJI, Shokz dan MST Golf ke berbagai kota. Perubahan tidak hanya terjadi pada produk, tetapi juga cara konsumen berbelanja. Tiga puluh tahun lalu, telepon rumah dan surat menjadi bagian dari keseharian, sementara handphone perlahan mulai hadir sebagai barang yang mengubah cara orang terhubung satu sama lain.

Data lain dalam laporan menunjukkan Perusahaan yang berdiri pada 1996 dengan fokus pada distribusi perangkat telekomunikasi tersebut berkembang. Pada 2026, setelah tiga dekade beroperasi, Erajaya telah berkembang jauh dari identitas awalnya sebagai distributor perangkat telekomunikasi. Erajaya lahir pada 1996 dengan nama nama PT Erajaya Swasembada. Cikal bakal bisnisnya dimulai pada 1992, sebelum PT Erajaya Swasembada resmi didirikan pada 1996 dengan fokus utama pada distribusi dan penjualan produk teknologi. Fungsinya sederhana, harganya mahal, dan kepemilikannya lebih dekat dengan simbol status dibanding kebutuhan sehari-hari.

banner 325x300

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Jakarta, Cara masyarakat berkomunikasi berubah drastis dalam tiga dekade. Dari sekadar menelepon dan mengirim SMS, masyarakat kemudian beralih ke ponsel dengan kamera, internet, BlackBerry, hingga smartphone. Perubahan itu ikut membentuk perjalanan Erajaya. Dalam perjalanannya, transformasi Erajaya tidak berhenti pada ponsel. Bisnisnya meluas ke perangkat digital, olahraga, makanan dan minuman, kendaraan listrik hingga berbagai produk gaya hidup.

Dari sebuah toko di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Erajaya menjelma menjadi salah satu kelompok distribusi dan ritel terbesar di Indonesia. Tiga dekade kemudian, bisnis berkode saham ERAA itu tidak lagi hanya identik dengan telepon seluler. Erajaya telah membangun ekosistem yang mencakup perangkat digital, elektronik konsumen, aksesori dan Internet of Things (IoT), fesyen, perlengkapan olahraga, kendaraan listrik, hingga makanan dan minuman. Perubahan tersebut menunjukkan cara Erajaya menjaga relevansinya. Ketika kebutuhan konsumen bergeser dari sekadar membeli perangkat komunikasi menjadi mencari pengalaman dan produk gaya hidup, perusahaan ikut memperluas portofolio bisnisnya. Saat Erajaya lahir, telepon genggam masih menjadi barang mewah. Saat itu, fungsi ponsel juga masih sangat sederhana. Konsumsi teknologi berpusat pada perangkat telepon, kartu SIM, pulsa, dan aksesori dasar. Belum ada ekosistem aplikasi, kamera canggih, atau berbagai layanan digital seperti yang dikenal sekarang. Data Bank Dunia menunjukkan kepemilikan telepon seluler per 100 orang Indonesia di pertengahan 1990an masih nol tetapi kemudian melonjak sejak era 2000 atau bertepatan dengan berkembangnya Erajaya. Perusahaan dengan fokus awal pada distribusi perangkat telekomunikasi tersebut berkembang seiring perubahan cara masyarakat Indonesia mengonsumsi teknologi. Memasuki awal 2000-an, ponsel perlahan keluar dari citra sebagai barang mewah. Memasuki era 2000-an, komputer pribadi dan handphone semakin mudah dijangkau masyarakat. Perangkat yang sebelumnya identik dengan kalangan tertentu perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perubahan besar terjadi ketika smartphone berbasis Android mulai masuk ke Indonesia sekitar 2009. Internet tidak lagi harus diakses dari komputer di rumah atau kantor, tetapi mulai berpindah ke genggaman. Memasuki 2010-an, pertumbuhan internet mobile melahirkan ekosistem digital baru. Gojek dan Tokopedia menjadi contoh perusahaan teknologi lokal yang mengubah kebiasaan masyarakat, mulai dari transportasi, pengiriman barang hingga belanja online. Indonesia pun memasuki era baru. Internet bukan lagi sekadar alat untuk mencari informasi, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi dan gaya hidup sehari-hari. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejak 2006 hingga 2010, jumlah pelanggan telepon seluler di Indonesia melonjak lebih dari tiga kali lipat. Pelanggan telekomunikasi tanpa kabel secara keseluruhan tumbuh rata-rata 62,21% per tahun, berbanding terbalik dengan pelanggan telekomunikasi kabel yang justru menyusut 1,11% per tahun. Perubahan ini mencerminkan pergeseran pola komunikasi masyarakat Indonesia dari telepon kabel ke teknologi nirkabel. Pada 2010, jumlah pelanggan seluler telah menembus lebih dari 200 juta, sementara jumlah penduduk Indonesia mencapai 237,6 juta jiwa. Artinya, secara jumlah, pelanggan seluler telah mendekati total populasi Indonesia. Cara konsumen memilih ponsel pun mulai berubah. Fungsi dasar seperti menelepon dan mengirim pesan tetap penting, tetapi merek, desain, fitur hingga gengsi mulai ikut menentukan keputusan pembelian. Perubahan tersebut ikut menggeser cara perangkat dijual. Konsumen semakin membutuhkan tempat untuk melihat, membandingkan, dan memilih produk secara langsung. Pada fase inilah Erajaya mulai memperkuat sisi ritelnya, salah satunya melalui pembukaan gerai erafone pertama pada 2007. Dari sini, perjalanan Erajaya mulai bergerak dari sekadar distribusi menuju hubungan yang lebih dekat dengan konsumen atau tepat ketika ponsel berubah dari produk premium menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari. Memasuki dekade 2010-an, fungsi ponsel berkembang pesat. Smartphone tidak lagi sekedar alat komunikasi, tetapi mulai menggantikan kamera, pemutar musik, navigasi, hiburan hingga sebagian fungsi komputer. Seiring itu, kebutuhan konsumen ikut meluas ke aplikasi, aksesori dan berbagai perangkat pendukung. Erajaya tumbuh mengikuti perubahan tersebut. Perusahaan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2011, kemudian mengakuisisi iBox pada 2012 untuk memperkuat jaringan ritel produk Apple di Indonesia. Ekspansi berlanjut ke Malaysia melalui akuisisi CG Computers yang mengoperasikan Switch pada 2014. Memasuki pertengahan dekade, ekosistem gadget semakin luas dengan hadirnya smartwatch, perangkat Internet of Things (IoT), audio hingga perangkat penunjang produktivitas. Erajaya merespons tren tersebut dengan meluncurkan Urban Republic pada 2016, memperluas portofolio dari perangkat komunikasi ke teknologi dan gaya hidup. Pada 2018, Erajaya mulai menghubungkan jaringan gerai fisiknya dengan kanal daring melalui model omnichannel, mengikuti konsumen yang semakin terbiasa berpindah pengalaman belanja offline dan online. Dalam satu dekade, ponsel telah berkembang menjadi bagian dari ekosistem digital yang jauh lebih besar. Erajaya pun bergerak bersamanya, dari distribusi dan ritel smartphone menuju jaringan teknologi dan gaya hidup yang semakin luas. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2025, tingkat penetrasi internet pada 2025 sudah menembus 77,63%. Penetrasi internet juga sampai ke pelosok. Semakin besarnya peran telepon dan internet dalam kehidupan sehari-hari tercermin dari porsi pengeluaran penduduk. Data BPS menunjukkan pengeluaran per kapita tercatat Rp15.925 pada 2010, kemudian Rp13.995 pada 2020 dan turun lagi menjadi Rp13.452 pada 2025. Artinya, pengeluaran untuk pulsa cenderung menurun. Sebaliknya, pengeluaran internet meningkat sangat tajam, dari Rp978 per kapita pada 2010 menjadi Rp20.440 pada 2020 dan mencapai Rp33.667 pada 2025. Dengan demikian, internet semakin mengambil porsi lebih besar dalam pengeluaran komunikasi masyarakat, sementara ketergantungan pada pulsa semakin berkurang. Memasuki 2020, pandemi Covid-19 mengubah cara masyarakat bekerja, belajar dan beraktivitas. Ponsel, laptop dan perangkat elektronik yang sebelumnya banyak digunakan untuk komunikasi dan hiburan berubah menjadi penopang utama aktivitas sehari-hari.Lonjakan kebutuhan terhadap perangkat digital ikut mengangkat kinerja Erajaya, dengan laba yang meningkat tajam sepanjang 2020 hingga 2021. Pada saat yang sama, perubahan pola hidup selama pandemi membuka ruang bagi kategori konsumsi yang lebih luas.Erajaya kemudian mulai memperluas bisnis ke olahraga, athleisure, aktivitas luar ruang, elektronik konsumen hingga peralatan rumah tangga.

Baca juga: Perubahan Posisi Desil DTSEN dan Cara Cek Status Bansos | Kebakaran Menyapu TPA Galuga Bogor: Apa yang Terjadi? | Wuling Berkomitmen Atasi Masalah Konsumen di Surabaya

banner 325x300