banner 728x250
Budaya  

Sorong Selatan: Ketika Hutan, Pangan, dan Tradisi Menjadi Satu Kehidupan

Sorong Selatan: Ketika Hutan, Pangan, dan Tradisi Menjadi Satu Kehidupan
banner 120x600
banner 468x60

SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, memiliki bentang alam yang tersusun seperti satu rangkaian kehidupan. Hutan, sungai, rawa gambut, mangrove, dan pesisir saling terhubung, membentuk ruang ekologis yang luas sekaligus menjadi dasar kehidupan masyarakat. Keterhubungan tersebut terlihat di kawasan Konda, Bariat, dan Klaogin, yang masing-masing memperlihatkan karakter lingkungan berbeda, tetapi tetap bergantung pada aliran air, keberadaan hutan, serta kekayaan hayati di sekitarnya.

Di Bariat, perjalanan bentang alam dapat dilihat dari perubahan hutan menuju rawa gambut, kemudian berlanjut ke kawasan mangrove. Peralihan ekosistem ini menyediakan habitat bagi beragam jenis tumbuhan dan satwa, sekaligus mendukung kebutuhan masyarakat setempat. Warga memanfaatkan flora dan fauna untuk pangan, bahan keperluan sehari-hari, serta sumber penghidupan, namun pemanfaatan tersebut berjalan berdampingan dengan upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Hutan dan rawa tidak dipandang semata sebagai kawasan alami, melainkan sebagai ruang hidup yang memiliki nilai sosial, budaya, dan ekonomi.

banner 325x300

Di Klaogin, aliran sungai berperan penting dalam menghubungkan daratan, kawasan mangrove, hingga pesisir. Sungai menjadi jalur ekologis bagi pergerakan air, unsur hara, dan berbagai organisme, sekaligus mendukung aktivitas masyarakat. Hubungan erat warga dan lingkungan tercermin dalam pengetahuan lokal mengenai musim, sumber pangan, serta cara memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab. Dalam jumpa pers di Jakarta pada Jumat, 2 Oktober 2026, Meizani Irma Dianni, Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, menyampaikan bahwa sebanyak 416 tumbuhan dan 372 satwa telah teridentifikasi di Sorong Selatan. Data tersebut menunjukkan kekayaan hayati kawasan ini sekaligus menegaskan pentingnya perlindungan terhadap ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Hutan adat Konda dan lingkungan sekitarnya memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di Sorong Selatan. Kawasan ini tidak hanya dipandang sebagai ruang yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, pengetahuan lokal, dan kehidupan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalam hutan, masyarakat mengenali tempat, jenis tumbuhan, jalur pemanfaatan, serta tanda-tanda alam yang dipelajari melalui pengalaman bersama.

Hutan dimanfaatkan untuk memperoleh berbagai bahan pangan dan hasil alam. Warga mengambil sayuran, kayu bakar, serta bahan-bahan lain yang diperlukan dalam kehidupan rumah tangga. Lingkungan sekitar juga menyediakan sumber pangan yang diperoleh sesuai kebutuhan dan kebiasaan masyarakat. Sungai memiliki peran penting sebagai sumber ikan, sehingga kehidupan warga berkaitan erat dengan keberadaan hutan, aliran air, dan kawasan alam di sekitarnya.

Pengetahuan mengenai sumber daya alam diperkenalkan sejak usia dini. Keluarga mengenalkan anak-anak pada nama tumbuhan, tempat mencari bahan pangan, cara memanfaatkan hasil hutan, serta waktu dan kebiasaan yang berkaitan dengan kegiatan tersebut. Pembelajaran berlangsung melalui kegiatan sehari-hari, ketika anak mengikuti orang tua atau anggota keluarga lain ke hutan, sungai, maupun lingkungan kampung. Dengan cara itu, pengetahuan tidak hanya disampaikan melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman langsung.

Berdasarkan penjelasan Kepala Kampung Klaogin, Martinus Sawen, masyarakat Klaogin memaknai hutan sebagai mama. Hutan dipahami sebagai sumber yang menyediakan berbagai kebutuhan, seperti kayu bakar, sayuran, ikan, dan daging. Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang memengaruhi cara warga berhubungan dengan hutan, termasuk cara menggunakan sumber daya yang tersedia dan merawat kawasan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Hubungan itu terbentuk melalui sejarah, kebiasaan, serta pengetahuan yang terus dikenalkan dalam keluarga dan diwariskan antargenerasi.

Kekayaan alam Sorong Selatan hadir secara nyata dalam makanan sehari-hari masyarakat. Hutan, sungai, pesisir, dan lahan sagu menyediakan bahan pangan yang kemudian diolah di rumah dengan cara yang dikenal dari generasi ke generasi. Penggunaan bahan-bahan tersebut bukan sekadar pilihan kuliner, melainkan bagian dari pola hidup yang menyesuaikan kebutuhan keluarga dengan lingkungan sekitar. Karena itu, makanan lokal dapat memperlihatkan hubungan sumber daya alam, keterampilan mengolah bahan, dan kebiasaan makan masyarakat.

Papeda menjadi salah satu contoh utama. Makanan ini dibuat dari sagu yang diolah hingga menghasilkan tekstur kenyal, kemudian disantap bersama kuah kuning berbahan ikan. Kuah tersebut memberi rasa sekaligus melengkapi kandungan pangan dari hidangan yang berbasis sagu. Dalam keluarga, cara menyiapkan papeda biasanya dipelajari melalui kebiasaan sehari-hari. Anak-anak mengamati aktivitas para mama di dapur, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah sagu, membersihkan ikan, hingga menyajikan makanan. Pengetahuan memasak juga diperkenalkan melalui arahan orangtua dan keterlibatan dalam pekerjaan rumah.

Pemanfaatan pangan lokal lainnya dapat dilihat pada ulat sagu. Bahan ini diolah dengan menusukkan ulat yang masih hidup satu per satu, menyerupai sate, kemudian membakarnya hingga siap disantap. Proses tersebut merupakan cara pengolahan yang dikenal dalam tradisi pangan setempat dan dilakukan berdasarkan kebiasaan yang diwariskan. Bagi masyarakat yang mengonsumsinya, ulat sagu merupakan salah satu sumber pangan yang tersedia dari lingkungan sekitar, bukan sekadar hidangan yang muncul pada kesempatan tertentu.

Ragam kuliner tersebut menunjukkan bahwa keterikatan masyarakat dengan alam terbentuk melalui praktik yang berlangsung setiap hari. Bahan pangan diperoleh dari lingkungan, sementara pengetahuan untuk mengolahnya dipelajari dalam keluarga dan diteruskan kepada anak-anak. Dengan demikian, makanan seperti papeda, kuah ikan, dan ulat sagu mempertemukan kebutuhan pangan dengan tradisi, tanpa memisahkan kehidupan rumah tangga dari sumber daya yang menopangnya.

Di Sorong Selatan, potensi ekowisata tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan kehidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Salah satu jejak penting itu terlihat di Hutan Adat Konda, tempat tumbuh pohon-pohon damar tua dengan batang berukuran besar. Keberadaan pohon tersebut menyimpan cerita panjang tentang pemanfaatan hutan, bahkan hingga masa kolonial. Usianya, ukuran batangnya, serta hubungan yang terbentuk masyarakat dan lingkungan menjadikannya daya tarik bagi wisatawan yang ingin memahami alam sekaligus sejarah setempat.

Getah damar sejak lama dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat menggunakannya sebagai bahan bakar pelita dan penunjuk arah, sehingga damar memiliki fungsi praktis yang melampaui nilai hasil hutan biasa. Pada saat yang sama, komoditas ini menyimpan potensi ekonomi lebih luas. Kandungannya dapat dimanfaatkan dalam industri parfum, kosmetik, dan farmasi. Pengembangan nilai tersebut perlu berjalan secara hati-hati agar tidak mendorong pengambilan berlebihan dan tetap menghormati aturan adat yang mengatur keberlanjutan hutan.

Hubungan spiritual dengan pepohonan juga tampak dalam kehidupan masyarakat subsuku Nakna di Kampung Nakna. Pohon-pohon tertentu dipandang keramat dan menjadi milik keluarga, dengan ikatan yang tidak hanya bersifat kepemilikan, tetapi juga berkaitan dengan sejarah, penghormatan, dan keyakinan. Pandangan itu membentuk kearifan lokal dalam menjaga hutan adat. Larangan, tata cara pemanfaatan, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi membantu mempertahankan pohon dan ruang hidup di sekitarnya.

Karena itu, kunjungan ke Sorong Selatan semestinya ditempatkan dalam kerangka penghormatan terhadap alam dan masyarakat pemilik pengetahuan tersebut. Didi Kaspi Kasim, Editor in Chief National Geographic Indonesia, menyampaikan bahwa destinasi yang baik semestinya membuat pengunjung merasa perlu ikut menjaga tempat yang didatangi. Pandangan itu menegaskan bahwa ekowisata bukan sekadar pengalaman menikmati pemandangan, melainkan kesempatan untuk memahami sejarah, menghargai tradisi, dan mendukung upaya perlindungan hutan adat.

banner 325x300