banner 728x250
Budaya  

Perempuan ‘Aisyiyah Makassar Kembangkan Batik Bermotif Pinisi dan Lontara

Perempuan ‘Aisyiyah Makassar Kembangkan Batik Bermotif Pinisi dan Lontara
banner 120x600
banner 468x60

Kota Makassar | Tim Universitas Negeri Makassar (UNM) melaksanakan pelatihan dan pendampingan pembuatan batik bagi anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Makassar. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat, 9 Oktober 2026, sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, tim UNM mendorong peserta untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mengolah kekayaan budaya lokal menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan manfaat praktis.

Pelatihan ini berangkat dari potensi budaya Makassar yang kaya akan simbol, sejarah, dan identitas masyarakat. Peserta diajak mengenali berbagai unsur budaya yang dapat diterjemahkan ke dalam rancangan motif, terutama bentuk kapal pinisi dan aksara Lontara. Keduanya dipilih karena memiliki keterkaitan kuat dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Pinisi merepresentasikan tradisi maritim dan ketangguhan, sedangkan Lontara menjadi bagian penting dari warisan literasi serta pengetahuan budaya Bugis-Makassar.

banner 325x300

Dalam proses pendampingan, peserta memperoleh arahan mengenai penyusunan desain, pemindahan pola ke kain, penggunaan malam, pewarnaan, hingga tahap penyelesaian batik tulis. Pendekatan praktik memungkinkan anggota Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga PD ‘Aisyiyah Kota Makassar memahami setiap tahapan secara langsung. Selain meningkatkan kemampuan teknis, kegiatan tersebut juga membuka ruang bagi peserta untuk berdiskusi mengenai cara menjaga karakter budaya lokal dalam karya kreatif.

Hasil pelatihan diarahkan untuk menghasilkan batik tulis bermotif pinisi dan Lontara. Karya itu akan dimanfaatkan sebagai taplak meja dan hiasan dinding, sehingga tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga elemen dekorasi yang memperkenalkan identitas Makassar di ruang keluarga maupun ruang publik. Pemanfaatan tersebut diharapkan mendorong peserta untuk terus berkreasi dan melihat peluang pengembangan produk berbasis budaya.

Kolaborasi UNM dan ‘Aisyiyah ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui kegiatan pemberdayaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan membatik berpotensi berkembang menjadi aktivitas produktif sekaligus sarana memperkuat apresiasi terhadap warisan budaya Makassar.

Pendampingan dalam program pengembangan batik bermotif Pinisi dan Lontara melibatkan empat anggota tim Universitas Negeri Makassar (UNM), yaitu Baetal Mukaddas, Andi Sahtiani Jahrir, Yati Bt. Samsuddin, dan Muhammad Zia Ulhaq. Keempat anggota tersebut menjalankan peran sebagai tim pendamping bagi para peserta selama proses kegiatan. Pendampingan dilakukan untuk memberikan arahan yang berkaitan dengan perancangan motif serta pengenalan teknik dasar membatik.

Sasaran utama program ini adalah meningkatkan keterampilan perempuan dalam mengembangkan gagasan visual yang bersumber dari unsur budaya daerah. Peserta diarahkan untuk mengenali Pinisi dan Lontara sebagai rujukan motif, kemudian mengolahnya ke dalam rancangan batik. Selain merancang motif, peserta juga memperoleh pendampingan dalam menguasai tahapan dasar membatik. Materi dan praktik tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran agar peserta dapat memahami hubungan rancangan motif dan penerapannya pada kain.

Melalui keterlibatan Baetal Mukaddas, Andi Sahtiani Jahrir, Yati Bt. Samsuddin, dan Muhammad Zia Ulhaq, kegiatan pendampingan menempatkan keterampilan membatik dan pengenalan simbol budaya dalam satu rangkaian. Pinisi dan Lontara digunakan sebagai sumber gagasan yang memperkenalkan kekayaan budaya daerah melalui karya batik. Tujuan program tersebut berkaitan dengan upaya memperkuat pelestarian budaya daerah, terutama melalui peningkatan kemampuan perempuan dalam merancang motif dan mempraktikkan teknik dasar membatik. Dengan demikian, pendampingan berfokus pada proses belajar, pengembangan keterampilan, serta pemanfaatan unsur budaya daerah sebagai bagian dari rancangan batik.

Pelatihan batik bagi perempuan ‘Aisyiyah Makassar disusun secara bertahap agar peserta dapat mengikuti setiap proses dengan lebih mudah. Penyusunan materi ini mempertimbangkan kondisi awal peserta yang sebagian besar belum memiliki pemahaman memadai mengenai filosofi motif, penyusunan desain, teknik mencanting, serta pewarnaan kain. Dengan tahapan yang terstruktur, peserta tidak hanya belajar menghasilkan kain batik, tetapi juga memahami makna budaya yang menjadi dasar penciptaannya.

Pembelajaran diawali dengan pengenalan batik sebagai warisan budaya sekaligus bentuk karya seni yang memiliki nilai ekonomi. Pada tahap ini, peserta diperkenalkan pada kekayaan budaya lokal Makassar, termasuk simbol perahu Pinisi dan aksara Lontara. Penjelasan mengenai sejarah, filosofi, dan karakter visual kedua unsur tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan motif yang relevan dengan identitas daerah. Peserta kemudian diarahkan untuk mengamati bentuk, garis, serta pola yang dapat diterapkan pada permukaan kain.

Setelah memperoleh pemahaman dasar, peserta memasuki tahap pembuatan sketsa. Mereka belajar menuangkan gagasan ke dalam rancangan sederhana, mengatur komposisi motif, dan menyesuaikan ukuran gambar dengan bidang kain. Sketsa yang telah dibuat menjadi panduan dalam proses mencanting. Melalui praktik langsung, peserta berlatih menggunakan canting untuk menorehkan malam mengikuti garis desain. Tahap ini membutuhkan ketelitian, kestabilan tangan, dan kesabaran karena kualitas garis akan memengaruhi hasil akhir batik.

Materi berikutnya adalah pewarnaan kain. Peserta diperkenalkan pada pemilihan warna, pencampuran bahan, serta cara mengaplikasikannya agar motif tetap terlihat jelas. Setelah proses pewarnaan selesai, kain dikeringkan dan melalui tahap penyelesaian, seperti pelepasan malam serta pemeriksaan hasil karya. Tingginya minat peserta terhadap seni dan kerajinan menjadi salah satu latar belakang utama pelaksanaan kegiatan. Antusiasme tersebut mendorong peserta untuk aktif berlatih, mengeksplorasi motif Pinisi dan Lontara, serta mengembangkan keterampilan yang berpotensi mendukung kegiatan kreatif dan produktif.

Dalam kegiatan pengembangan batik, peserta diperkenalkan pada berbagai sumber inspirasi yang berangkat dari kekayaan budaya dan lingkungan Sulawesi Selatan. Pengenalan tersebut mencakup aksara Lontara sebagai sistem tulisan tradisional masyarakat Bugis-Makassar, perahu pinisi yang dikenal sebagai simbol kemaritiman, rumah adat Bugis-Makassar, serta flora khas daerah. Setiap unsur dibahas tidak hanya dari sisi makna, tetapi juga melalui bentuk, garis, dan ciri visual yang dapat diterapkan sebagai motif pada kain.

Aksara Lontara menawarkan susunan karakter yang khas dan mudah dikembangkan menjadi pola dekoratif. Sementara itu, bentuk perahu pinisi memberikan kemungkinan eksplorasi melalui siluet badan kapal, layar, tiang, serta detail konstruksinya. Rumah adat dapat diterjemahkan melalui bentuk atap, tiang, dan susunan bangunan, sedangkan flora Sulawesi Selatan memberi pilihan berupa daun, bunga, dan ragam tumbuhan lokal. Keragaman referensi ini membantu peserta memahami bahwa motif batik dapat memuat identitas budaya sekaligus memiliki nilai estetika.

Sebelum memindahkan rancangan ke kain mori, peserta diminta membuat beberapa alternatif sketsa di atas kertas. Tahap tersebut memberi ruang untuk mencoba ukuran, arah, susunan, dan penyederhanaan bentuk tanpa risiko merusak media utama. Dari proses eksplorasi itu, sebagian besar peserta memilih perahu pinisi dan aksara Lontara sebagai motif utama. Pilihan tersebut menunjukkan kuatnya daya tarik simbol budaya yang dekat dengan sejarah, kehidupan masyarakat, dan identitas daerah.

Tim Universitas Negeri Makassar kemudian memberikan pendampingan untuk menyempurnakan rancangan yang telah dipilih. Peserta diarahkan mengatur proporsi setiap bentuk agar motif tetap terbaca dan tidak saling mendominasi. Mereka juga belajar menyusun pengulangan pola secara teratur serta menyeimbangkan komposisi bidang yang padat dan ruang kosong. Pendampingan ini membuat desain tampak lebih rapi, harmonis, dan memiliki karakter visual yang kuat sebelum diterapkan pada kain mori.

banner 325x300