JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 4 Oktober 2026, Skrining psikososial bagi pekerja perlu dilakukan dengan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Penggunaan alat ukur yang memiliki dasar ilmiah penting untuk memastikan hasil pemeriksaan dapat menggambarkan kondisi psikososial secara akurat, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan. Instrumen tersebut membantu tenaga kesehatan mengenali faktor risiko, seperti tekanan pekerjaan, beban kerja, konflik peran, maupun dukungan sosial di lingkungan kerja.
Namun, alat ukur tidak dapat digunakan secara sembarangan atau berdiri sendiri. Pemilihannya harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan, jenis pekerjaan, kondisi lingkungan kerja, serta karakteristik pekerja yang diperiksa. Pemeriksaan untuk pemetaan risiko di tingkat organisasi, misalnya, dapat memerlukan pendekatan yang berbeda dari pemeriksaan yang ditujukan untuk mengidentifikasi kebutuhan dukungan individual. Karena itu, interpretasi hasil juga perlu dilakukan oleh tenaga profesional yang memahami konteks kedokteran okupasi dan psikologi kerja.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Dr. Dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.Psiko (K), guru besar sekaligus dokter spesialis kedokteran okupasi konsultan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam keterangan resmi di Jakarta pada Minggu. Ia menekankan bahwa skrining pekerja tidak dapat disamakan dengan pemeriksaan terhadap masyarakat umum. Pekerja menghadapi faktor pemicu stres yang berkaitan dengan tuntutan tugas, pola kerja, hubungan industrial, keselamatan, serta kondisi tempat kerja. Faktor-faktor itu dapat berbeda antarprofesi, sektor, dan tingkat tanggung jawab.
Penyesuaian instrumen menjadi penting agar hasil skrining tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Pemeriksaan yang tepat bukan hanya mengukur gejala, melainkan juga membantu memahami sumber risiko dan menentukan langkah tindak lanjut yang sesuai. Dengan pendekatan berbasis bukti, perusahaan dan tenaga kesehatan dapat merancang upaya pencegahan, dukungan, serta intervensi yang lebih relevan bagi pekerja.
Pemilihan kuesioner dalam skrining psikososial pekerja perlu disesuaikan dengan konteks pemeriksaan. Setiap pemeriksaan memiliki tujuan penggunaan yang berbeda, sehingga instrumen yang dipilih harus mampu menghasilkan informasi yang relevan untuk menjawab tujuan tersebut. Kuesioner tidak cukup dipilih hanya karena umum digunakan atau mudah diterapkan. Isi pertanyaan, cakupan penilaian, serta karakteristik responden perlu dipertimbangkan agar hasil skrining dapat menggambarkan kondisi yang hendak diketahui. Dengan demikian, hasilnya dapat digunakan secara tepat sesuai kebutuhan pemeriksaan, bukan sekadar menjadi gambaran umum mengenai kondisi pekerja.
Pendekatan psikososial dalam dunia kerja juga tidak hanya berfokus pada keadaan individu. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh situasi pekerjaan yang dihadapi pekerja sehari-hari. Karena itu, pemilihan instrumen perlu memperhatikan karakteristik pekerjaan, termasuk tuntutan kerja yang tinggi dan sistem kerja shift. Kedua kondisi tersebut dapat membentuk pengalaman kerja serta kebutuhan penilaian yang berbeda. Kuesioner yang digunakan harus mampu menangkap aspek yang berkaitan dengan situasi tersebut agar interpretasi hasil tidak terlepas dari lingkungan kerja yang melatarbelakanginya.
Penyesuaian yang sama diperlukan ketika pemeriksaan dilakukan pada pekerja di lokasi kerja terpencil atau pada pekerjaan dengan paparan risiko operasional. Konteks ini perlu menjadi pertimbangan karena skrining berkaitan dengan kesiapan pekerja dalam menjalankan tugasnya secara aman dan berkelanjutan. Penilaian harus mendukung kebutuhan untuk menjaga kesiapan fisik dan mental pekerja, sesuai dengan tuntutan serta risiko pekerjaan yang dihadapi. Oleh sebab itu, instrumen yang digunakan perlu dipilih berdasarkan kondisi dan karakteristik pekerja, sekaligus tujuan pemeriksaan. Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa hasil skrining memiliki makna yang sesuai dengan kebutuhan kerja dan dapat menjadi dasar penilaian yang relevan.
Menurut Dr. Royanul Arief, MM (K3L), praktisi kesehatan kerja dari SKK Migas, skrining psikososial, khususnya di industri minyak dan gas, tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental pekerja. Pemeriksaan ini juga berhubungan langsung dengan keselamatan kerja karena kondisi psikologis dapat memengaruhi cara seseorang menerima informasi, mengambil keputusan, berkomunikasi, dan merespons keadaan darurat. Dalam lingkungan kerja dengan risiko operasional tinggi, perubahan kecil pada konsentrasi atau kewaspadaan dapat memiliki konsekuensi yang besar.
Kelelahan mental yang tidak dikenali, ditangani, dan dicegah dapat menimbulkan berbagai persoalan. Pekerja mungkin mengalami penurunan fokus, lambat dalam memproses informasi, mudah lupa, atau kurang cermat mengikuti prosedur. Kondisi tersebut dapat menghambat penyelesaian tugas, menurunkan produktivitas, dan meningkatkan kemungkinan kesalahan manusia. Apabila terjadi saat pekerja mengoperasikan peralatan, melakukan pemeliharaan, atau mengambil keputusan penting, kelelahan mental juga dapat memperbesar risiko insiden dan kecelakaan kerja.
Dampak tersebut perlu dipahami dalam konteks faktor psikososial di tempat kerja. Cara pekerjaan dirancang dan dikelola, termasuk pembagian jadwal, pola kerja bergilir, kewenangan, serta kejelasan peran, dapat memengaruhi tekanan yang dirasakan pekerja. Beban dan tuntutan pekerjaan yang tidak seimbang dengan sumber daya, waktu, atau kompetensi juga dapat mempercepat munculnya kelelahan. Selain itu, hubungan interpersonal yang buruk, konflik, komunikasi yang tidak efektif, dan minimnya dukungan dari atasan maupun rekan kerja dapat memperburuk kondisi psikologis.
Keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi turut menjadi perhatian. Jam kerja panjang, waktu istirahat yang terbatas, serta tuntutan untuk selalu siap bekerja dapat mengurangi kesempatan pemulihan. Karena itu, hasil skrining sebaiknya digunakan untuk menyesuaikan intervensi dengan karakteristik pekerjaan dan tingkat risikonya. Upaya pencegahan dapat mencakup perbaikan desain kerja, pengaturan beban dan waktu istirahat, penguatan dukungan organisasi, serta akses terhadap layanan kesehatan mental. Pendekatan ini membantu melindungi pekerja sekaligus menjaga produktivitas dan keandalan operasi.
Royanul menegaskan bahwa hasil skrining psikososial tidak dapat disamakan dengan diagnosis. Skrining merupakan pemeriksaan awal untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi atau faktor psikososial yang perlu mendapat perhatian. Hasil tersebut belum memberikan kepastian mengenai ada atau tidaknya gangguan tertentu pada seorang pekerja. Karena itu, temuan dalam skrining perlu dipahami secara proporsional dan tidak digunakan untuk memberikan label terhadap individu.
Hasil pemeriksaan awal masih harus melalui penilaian lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis. Penilaian tersebut memerlukan proses yang sesuai, termasuk pengkajian yang lebih mendalam oleh tenaga yang memiliki kewenangan dan kompetensi. Dengan demikian, hasil skrining saja belum dapat dijadikan dasar untuk menentukan kelaikan kerja. Keputusan mengenai kelaikan kerja harus mempertimbangkan pemeriksaan dan informasi yang relevan secara menyeluruh, bukan hanya hasil dari satu tahap pemeriksaan awal.
Pembedaan skrining dan diagnosis penting agar proses pemeriksaan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Skrining dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan untuk melakukan penilaian lanjutan, tetapi tidak menggantikan proses diagnostik. Interpretasi hasil juga perlu dilakukan dengan hati-hati, sesuai tujuan pemeriksaan dan konteks risiko pekerjaan yang dihadapi.
Pengelolaan risiko psikososial merupakan bagian dari kesehatan dan keselamatan kerja. Hal ini semakin penting pada lingkungan kerja yang memiliki tekanan dan risiko tinggi, karena faktor psikososial perlu diperhatikan bersama aspek keselamatan dan kesehatan lainnya. Pendekatan tersebut membantu memastikan bahwa perhatian terhadap kondisi psikososial pekerja ditempatkan dalam kerangka pencegahan dan pengelolaan risiko, sementara hasil skrining tetap digunakan sesuai batas dan tujuan pemeriksaan.







