banner 728x250

Rutan Kraksaan–BNN Perkuat Program Rehabilitasi Adiksi untuk Tekan Kasus Narkoba di Lapas

banner 120x600
banner 468x60

Probolinggo – Upaya pemberantasan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika tidak hanya menyasar penindakan, tetapi juga pembinaan berkelanjutan. Hal ini tampak dalam langkah Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kraksaan yang kembali memperkuat layanan rehabilitasi bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP). Bekerja sama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN), Rutan Kraksaan menggelar program pemulihan adiksi yang digelar di Aula Rutan Kraksaan, Kamis (11/12/2025).

Program rehabilitasi ini menjadi bagian dari strategi pembinaan menyeluruh yang menekankan pemulihan mental dan emosional bagi WBP yang berkaitan dengan kasus penyalahgunaan narkotika. Tidak hanya berupa ceramah dan penyampaian materi, kegiatan dilakukan secara interaktif melalui pendalaman wawasan mengenai pola ketergantungan, diskusi kelompok, serta sesi refleksi yang didampingi langsung oleh psikolog BNN.

banner 325x300

Pemulihan Adiksi sebagai Pondasi Pembinaan Berkelanjutan

Kepala Rutan Kelas IIB Kraksaan, Galih Setiyo Nugroho, menyampaikan bahwa pendekatan rehabilitatif merupakan bagian dari upaya humanisasi pembinaan pemasyarakatan. Menurutnya, pemulihan adiksi menjadi kunci penting agar WBP mampu keluar dari lingkaran ketergantungan dan memiliki perspektif baru mengenai masa depan mereka.

Melalui kegiatan rehabilitasi ini, kami ingin memastikan bahwa setiap WBP memiliki kesempatan mendapatkan pendampingan yang tepat agar mampu keluar dari siklus ketergantungan,” ujar Galih.

Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi langkah strategis untuk mendukung pembinaan yang lebih komprehensif. WBP tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga difasilitasi untuk memperbaiki diri secara mental, sosial, dan emosional sehingga mampu kembali sebagai individu produktif di masyarakat setelah bebas nanti.

Peran Psikolog, Kunci Pendalaman Reflektif WBP

Hal senada disampaikan Kasubsie Pelayanan Tahanan, M. Yasin Zaini, yang menekankan bahwa esensi dari rehabilitasi bukan sekadar penyampaian teori, melainkan proses reflektif yang mendalam. Kehadiran psikolog dalam program ini, menurutnya, merupakan elemen penting dalam membangun kesadaran baru bagi para WBP.

Rehabilitasi bukan hanya soal materi, tetapi juga proses refleksi dan pendalaman diri. Pendampingan psikolog membantu WBP memahami pola perilaku dan mengembangkan strategi untuk mengurangi risiko ketergantungan,” jelas Yasin.

Yasin menambahkan bahwa evaluasi layanan terus dilakukan, mencakup perbaikan alur pembinaan, penyempurnaan SOP kunjungan, hingga peningkatan kualitas pelayanan publik. Menurutnya, pendekatan humanis sangat dibutuhkan agar masyarakat maupun keluarga WBP merasa dihargai saat berurusan dengan Rutan Kraksaan.

Petugas kami berkomitmen memberikan pelayanan yang cepat, ramah dan sesuai prosedur sehingga masyarakat merasa terbantu dan dihargai,” ujarnya.

Langkah Kolaboratif untuk Tekan Kasus Residivisme

Kolaborasi Rutan Kraksaan dan BNN dianggap memiliki dampak signifikan dalam menekan kasus residivisme, terutama bagi WBP yang sebelumnya terjerat penyalahgunaan narkoba. Dengan memahami akar permasalahan adiksi, WBP diharapkan dapat membangun pola hidup baru yang lebih sehat dan bertanggung jawab.

Program ini rencananya akan terus digelar secara berkala dengan metode pembinaan yang lebih terstruktur. Ke depan, pihak Rutan dan BNN juga berencana mengembangkan pendekatan terapi kelompok, sesi konseling individual, dan pelatihan keterampilan sebagai bagian dari integrasi pembinaan.

Kegiatan pemulihan ini menjadi bukti komitmen Rutan Kraksaan bahwa penegakan hukum tidak berhenti pada penghukuman, tetapi juga pemulihan serta pemberdayaan agar WBP dapat kembali ke masyarakat dengan lebih siap dan berdaya.

(Bambang)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *