Kabupaten Pidie | Situasi keamanan di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, secara umum dinyatakan kondusif hingga Kamis, 5 November 2026 pukul 04.30 WIB. Keterangan tersebut disampaikan Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono. Pernyataan ini menggambarkan perkembangan terkini setelah bentrokan yang terjadi di wilayah tersebut, sekaligus menjadi penanda bahwa kondisi keamanan sedang dipantau secara berkelanjutan. Meski keadaan dinilai kondusif, pemantauan tetap dilakukan agar perubahan situasi dapat diketahui dan ditangani dengan cepat. Karena itu, masyarakat diimbau mengikuti informasi dari pihak berwenang dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi.
Personel TNI masih disiagakan di sekitar wilayah untuk memantau keadaan. Kesiapsiagaan ini merupakan langkah pengamanan, bukan pernyataan bahwa seluruh potensi gangguan telah dipastikan hilang. Di lapangan, pemantauan membantu aparat memahami perkembangan kondisi dan menjaga agar aktivitas masyarakat dapat berlangsung dengan tertib. TNI juga berkoordinasi dengan aparat terkait dalam upaya menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Koordinasi tersebut penting agar langkah pengamanan berjalan selaras, informasi yang diperlukan dapat dibagikan, serta respons terhadap perkembangan di desa dapat dilakukan secara terukur.
Penyebutan kondisi kondusif merujuk pada keadaan hingga waktu yang disampaikan, sehingga situasi tetap perlu diperhatikan seiring perkembangan di lapangan. Kehadiran personel dan koordinasi antarinstansi menunjukkan bahwa pengamanan belum sepenuhnya ditinggalkan, meskipun keadaan secara umum dilaporkan terkendali. Fokus aparat adalah mempertahankan stabilitas, mencegah munculnya gangguan lanjutan, dan menjaga ketertiban warga. Warga diharapkan tetap tenang, mengutamakan keselamatan, serta mengikuti arahan petugas setempat. Informasi mengenai korban atau perkembangan lain sebaiknya merujuk pada keterangan resmi, agar pemberitaan tetap akurat dan tidak menimbulkan keresahan. Dengan pemantauan yang berlanjut, kondisi di Pulo Keunari dapat dinilai berdasarkan informasi terbaru dari pihak berwenang.
Bentrokan di Desa Pulo Keunari bermula pada Rabu, 4 November 2026, ketika warga berkumpul di meunasah untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Suasana kegiatan yang semestinya berfokus pada peringatan keagamaan kemudian berubah tegang setelah bendera bulan bintang dikibarkan di lokasi acara. Pengibaran tersebut menjadi pemicu perselisihan pihak-pihak yang hadir. Peristiwa ini berlangsung di tengah kegiatan masyarakat, sehingga penanganannya memerlukan kehati-hatian agar ketegangan tidak meluas dan rangkaian acara tidak semakin terganggu.
Sebelum terjadi bentrokan, aparat TNI dan Polri telah berupaya mengajak panitia berkomunikasi dan mencari jalan tengah. Dalam pembicaraan itu, aparat meminta agar bendera tersebut tidak dikibarkan. Upaya komunikasi dilakukan untuk meredakan situasi sekaligus mencegah persoalan berkembang menjadi konfrontasi terbuka. Namun, pembicaraan tersebut belum menghasilkan kesepakatan. Panitia tetap menyatakan keinginan untuk mempertahankan bendera bulan bintang, sementara aparat berupaya agar benda itu tidak dipasang dalam kegiatan tersebut. Perbedaan sikap inilah yang membuat suasana di sekitar meunasah semakin sulit dikendalikan.
Setelah kesepakatan tidak tercapai, prajurit TNI berusaha menertibkan keadaan dan menurunkan bendera yang telah dikibarkan. Tindakan tersebut menjadi bagian dari upaya aparat untuk menangani pemicu ketegangan di lokasi. Dalam situasi yang melibatkan banyak orang dan berlangsung saat peringatan keagamaan, proses penertiban berhadapan dengan keberatan dari pihak yang ingin mempertahankan bendera. Rangkaian peristiwa dari komunikasi, tidak tercapainya kesepakatan, hingga upaya penurunan bendera menjelaskan bagaimana ketegangan berkembang menjadi bentrokan. Kronologi ini juga menunjukkan pentingnya dialog yang dapat diterima para pihak, serta penanganan yang terukur untuk mencegah perbedaan pandangan berujung pada kekerasan. Aparat hadir untuk mengupayakan penyelesaian, tetapi keputusan panitia mempertahankan bendera membuat upaya awal tersebut belum mampu mengakhiri perselisihan di meunasah Desa Pulo Keunari.
Menurut keterangan Donny, ketegangan di lokasi meningkat ketika terjadi pelemparan batu dan kayu ke arah personel TNI. Pada saat yang sama, sejumlah orang terlihat membawa senjata tajam. Situasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan yang disampaikan terkait upaya penertiban di Pulo Keunari. Keterangan itu menggambarkan perubahan keadaan di lapangan, dari upaya pengamanan menjadi kondisi yang memerlukan langkah untuk meredakan dan membubarkan massa.
Personel TNI berupaya menenangkan massa dan meminta mereka membubarkan diri. Dalam upaya tersebut, personel menggunakan perlengkapan pengendalian huru-hara. Langkah itu dilakukan ketika pelemparan benda ke arah personel terjadi dan sejumlah orang tampak membawa senjata tajam. Keterangan Donny menyebut upaya penenangan dan pembubaran tersebut sebagai bagian dari tindakan personel di lokasi, tanpa merinci hal lain di luar perkembangan yang disampaikan.
Menurut keterangan TNI AD, tindakan massa berlanjut dan keselamatan personel terancam. Karena itu, pengamanan dilakukan secara bertahap. Tahap awal berupa tembakan peringatan menggunakan munisi hampa, kemudian dilanjutkan dengan penggunaan munisi karet. Urutan tersebut disampaikan sebagai respons atas keadaan yang berlangsung di lapangan. Keterangan TNI AD juga menyebut bahwa penggunaan langkah pengamanan itu berkaitan dengan tindakan massa yang tetap berlanjut dan ancaman terhadap keselamatan personel.
Setelah massa membubarkan diri, personel menurunkan bendera yang berada di lokasi. Penurunan dilakukan setelah rangkaian upaya pengamanan tersebut dan setelah massa tidak lagi berkumpul. Dengan demikian, keterangan mengenai perkembangan bentrokan mencakup pelemparan batu dan kayu, keberadaan sejumlah orang yang membawa senjata tajam, upaya menenangkan massa, serta pengamanan bertahap oleh personel TNI. Rangkaian ini disampaikan berdasarkan keterangan Donny dan TNI AD mengenai kejadian di Pulo Keunari.
Dalam peristiwa bentrok di Pulo Keunari, sebanyak 14 warga menjadi korban. Jumlah tersebut terdiri atas satu orang meninggal dunia dan 13 orang mengalami luka-luka. Selain warga, enam personel TNI juga terluka. Seluruh korban mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi masing-masing. Penanganan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan kesehatan setiap korban, sementara situasi di lokasi terus dipantau oleh pihak terkait.
Korban meninggal dunia diketahui bernama Abzalul Riza, warga Desa Dayah Gampong Baro, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Kepergian Abzalul Riza menjadi duka bagi keluarga dan masyarakat setempat. Jenazahnya dimakamkan pada Kamis, 5 November 2026, pukul 01.00 WIB di pemakaman umum Desa Dayah Kampong Baru, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie. Informasi mengenai identitas dan pemakaman disampaikan secara jelas agar keluarga serta warga memperoleh kepastian mengenai penanganan korban.
Korban luka dari kalangan warga maupun personel TNI memperoleh perawatan berdasarkan kondisi masing-masing. Jumlah yang tercatat mencakup 13 warga luka-luka dan enam personel TNI terluka; kedua kelompok tersebut merupakan kategori korban yang berbeda. Pemantauan terhadap situasi pascaperistiwa dan koordinasi penanganan masih dilakukan oleh TNI AD. Langkah ini diperlukan untuk mengikuti perkembangan keadaan serta mendukung penanganan lanjutan sesuai kebutuhan di lapangan.
Secara terpisah, langkah antisipasi juga dilakukan di Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya. Personel Kodim 0102/Pidie bersama personel BKO melaksanakan patroli dan berkomunikasi dengan warga. Upaya tersebut menjadi bagian dari pemantauan keamanan dan pendekatan kepada masyarakat setempat. Kegiatan yang semula direncanakan berlangsung di Desa Udeung Poroh dipindahkan ke Makam Abdullah Syafi’i, Desa Cubo. Perubahan lokasi itu berlaku untuk kegiatan tersebut dan merupakan langkah tersendiri, terpisah dari penanganan korban bentrok di Pulo Keunari. Dengan demikian, TNI AD tetap melakukan pemantauan dan koordinasi, sementara patroli serta komunikasi warga menjadi bagian dari antisipasi di wilayah Bandar Baru.
12 kunjungan





