PROBOLINGGO – Nama Muh Rayhan mulai mendapat perhatian publik dalam gelaran dialog publik memperingati Hari Lahir Pancasila bertajuk “Pancasila Menjaga Arah Indonesia” yang digelar di Kota Probolinggo, Rabu (24/6/2026).
Dalam forum yang menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang tersebut, Muh Rayhan (24), yang saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Akademik PAC GP Ansor Wonoasih, dinilai mampu memberikan pandangan yang argumentatif, edukatif, dan berbasis fakta dalam setiap sesi diskusi.
Rayhan yang juga pernah menjabat sebagai Koordinator BEM SI Daerah Yogyakarta periode 2023–2024 tampil aktif menyampaikan gagasan terkait posisi strategis Pancasila dalam menjaga arah pembangunan nasional di tengah tantangan globalisasi dan keberagaman bangsa Indonesia.
Selama dialog berlangsung, ia tidak hanya menjawab berbagai pertanyaan dari peserta secara objektif, tetapi juga berperan dalam memperjelas sejumlah persoalan yang berkembang dalam diskusi. Kehadirannya dinilai membantu memperdalam pemahaman audiens terhadap tema yang dibahas.
Dalam pemaparannya, Muh Rayhan menjelaskan bahwa dialog publik merupakan forum terbuka yang melibatkan masyarakat, pemangku kepentingan, serta pembuat kebijakan untuk membahas berbagai isu yang menjadi perhatian bersama.
“Tujuannya adalah memfasilitasi pertukaran ide, memberikan ruang aspirasi, serta mencari solusi atau kesepakatan terkait isu yang rumit, kontroversial, atau membutuhkan partisipasi luas,” ujarnya.
Mahasiswa yang tengah menyelesaikan pendidikan magister tersebut menegaskan bahwa Pancasila memiliki peran penting sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, Pancasila berfungsi sebagai kompas moral sekaligus bintang penunjuk arah (leitstar) yang menjaga Indonesia agar tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus perubahan global.
“Pancasila menjadi landasan yang menjaga kesatuan bangsa yang majemuk dan mengarahkan pembangunan nasional agar tetap berkeadilan, berperikemanusiaan, dan berketuhanan,” kata Rayhan.
Pria asal Kelurahan Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu juga menyoroti tingginya tingkat keberagaman Indonesia yang menjadi salah satu kekayaan sekaligus tantangan bangsa.
Ia menyebut Indonesia merupakan negara kepulauan yang dihuni lebih dari 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta beragam agama, kepercayaan, dan karakter sosial budaya yang tersebar di berbagai wilayah.
Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan fondasi yang mampu menjadi perekat sekaligus pemersatu seluruh elemen bangsa.
“Dalam konteks bangsa yang begitu heterogen, diperlukan sebuah fondasi pemersatu yang mampu menjaga stabilitas, keharmonisan, dan arah pembangunan nasional. Fondasi tersebut adalah Pancasila,” tegasnya.
Dialog publik tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila sekaligus mendorong partisipasi generasi muda dalam menjaga persatuan dan arah pembangunan Indonesia di masa mendatang.
(Bambang/*)**














Respon (2)