banner 728x250

Perak Pulih ke US$60,81 per Troy Ons, tetapi Tekanan The Fed Masih Membayangi

Perak Pulih ke US$60,81 per Troy Ons, tetapi Tekanan The Fed Masih Membayangi
banner 120x600
banner 468x60

Jakarta | Harga perak berbalik menguat pada penutupan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, logam mulia tersebut ditutup pada US,81 per troy ons. Level itu mencerminkan kenaikan sebesar 2,46% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan positif tersebut menjadi perkembangan utama pada akhir pekan perdagangan, setelah harga perak sebelumnya berada dalam tekanan selama dua sesi berturut-turut.

Kenaikan harian sebesar 2,46% menghentikan rangkaian penurunan yang berlangsung dalam dua hari perdagangan sebelumnya. Dalam periode tersebut, harga perak merosot secara akumulatif sebesar 3,8%. Dengan demikian, penguatan pada Jumat menandai perubahan arah pergerakan jangka sangat pendek, meskipun harga tetap dicermati setelah mengalami pelemahan dalam sesi-sesi sebelumnya. Data penutupan Refinitiv menjadi acuan untuk mencatat perubahan harga tersebut.

banner 325x300

Secara keseluruhan, harga perak mengakhiri pekan pada US$60,81 per troy ons, dengan posisi lebih tinggi daripada penutupan hari sebelumnya. Angka kenaikan harian dan penurunan kumulatif sebelumnya memberikan gambaran mengenai volatilitas logam tersebut sepanjang rangkaian perdagangan terakhir. Penguatan pada Jumat tidak menghapus catatan pelemahan selama dua hari sebelumnya, tetapi menunjukkan bahwa tekanan jual yang menekan harga pada periode tersebut tidak berlanjut hingga penutupan pekan. Pergerakan berikutnya akan menjadi perhatian pelaku pasar untuk menilai keberlanjutan pemulihan harga perak.

Perak menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah mengalami tekanan tajam pada awal pekan. Pada Kamis, harga logam mulia ini sempat turun ke sekitar US$59 per troy ons, level terendah sejak 3 Agustus 2026. Penurunan tersebut menandai pelemahan yang cukup signifikan dibandingkan posisi sebelumnya, sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan jual yang masih membayangi pasar komoditas.

Namun, harga kemudian berhasil bergerak naik dan kembali mendekati US$60,81 per troy ons. Pergerakan itu mencerminkan munculnya minat beli ketika harga berada pada level yang dianggap lebih menarik. Pelaku pasar memanfaatkan penurunan sebelumnya untuk melakukan bargain hunting, yakni membeli aset setelah harganya merosot dengan harapan memperoleh keuntungan dari pemulihan berikutnya.

Dalam perhitungan mingguan, harga perak masih mencatat penguatan sekitar 0,68%. Kenaikan tersebut memiliki arti penting karena sekaligus mengakhiri tren penurunan selama dua pekan beruntun sebelumnya. Meski persentasenya relatif terbatas, perubahan arah ini menunjukkan bahwa sebagian investor mulai kembali masuk ke pasar setelah harga menyentuh titik terendah dalam dua bulan pada awal pekan.

Pemulihan itu belum sepenuhnya menghapus tekanan yang ada. Perak masih harus menghadapi ketidakpastian terkait kebijakan moneter Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, serta ekspektasi terhadap langkah Federal Reserve. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi daya tarik logam mulia dan membatasi ruang kenaikan dalam jangka pendek. Karena itu, penguatan mingguan lebih tepat dipandang sebagai pemantulan dari area harga rendah, bukan sebagai bukti bahwa tren naik baru telah terbentuk.

Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan harga bertahan di atas area US$60 per troy ons. Jika level tersebut mampu dipertahankan, minat beli berpotensi menguat dan membuka ruang bagi pemulihan lanjutan. Sebaliknya, tekanan jual yang kembali muncul dapat mendorong harga menguji ulang titik terendah yang tercatat pada pekan ini.

Ruang penguatan harga perak masih berpotensi terbatas karena perhatian pelaku pasar tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski logam mulia tersebut sempat pulih ke US$60,81 per troy ons, prospek kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve atau The Fed dapat menahan minat beli. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan instrumen pendapatan tetap, sementara perak tidak memberikan imbal hasil bunga.

Pasar juga memantau perkembangan data ekonomi AS yang dapat memengaruhi keputusan bank sentral. Apabila inflasi tetap kuat atau aktivitas ekonomi menunjukkan ketahanan, peluang pengetatan moneter tambahan dapat kembali mengemuka. Ekspektasi tersebut berisiko mendorong dolar AS menguat. Bagi investor yang memegang perak dalam mata uang lain, dolar yang lebih kuat membuat harga logam tersebut relatif lebih mahal, sehingga permintaannya dapat tertekan.

Kenaikan imbal hasil US Treasury turut menjadi hambatan. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat, aset yang menawarkan pendapatan berkala menjadi lebih menarik dibandingkan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga maupun kupon. Perubahan alokasi portofolio ini dapat membatasi arus dana menuju perak, terutama apabila investor menilai risiko suku bunga masih tinggi dalam beberapa waktu mendatang.

Rhona O’Connell, kepala analisis pasar di StoneX, menilai ruang kenaikan harga logam mulia masih terbatas. Menurutnya, pasar telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Namun, antisipasi tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan karena perubahan ekspektasi terhadap waktu dan besarnya kenaikan tetap dapat memicu volatilitas. Dengan demikian, perak masih memerlukan dukungan dari pelemahan dolar, penurunan imbal hasil Treasury, atau meningkatnya permintaan lindung nilai agar mampu mempertahankan momentum pemulihannya.

Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada agenda ekonomi Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga perak. Salah satu rilis yang paling dinantikan adalah data inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) pada pekan mendatang. Data tersebut dapat memberikan gambaran terbaru mengenai tekanan harga dalam perekonomian dan menjadi bahan pertimbangan penting bagi pasar dalam menilai arah kebijakan moneter.

Han Tan, kepala analis pasar Bybit, menyatakan bahwa rilis CPI AS berpotensi menjadi katalis bagi harga perak. Menurutnya, angka inflasi akan diperhatikan karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap keputusan suku bunga The Fed. Perubahan ekspektasi tersebut pada akhirnya dapat tercermin dalam pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta minat investor terhadap aset logam mulia.

Pasar akan mencermati apakah data inflasi menunjukkan tekanan harga yang tetap kuat atau mulai mereda. Setiap perubahan dalam persepsi terhadap kebijakan The Fed dapat meningkatkan volatilitas di pasar komoditas, termasuk perak. Selain CPI, investor juga akan mengamati komunikasi pejabat bank sentral dan indikator ekonomi lain yang dapat memperjelas kondisi perekonomian AS.

Perak memang telah pulih ke US$60,81 per troy ons setelah mengalami penurunan tajam. Namun, pergerakan berikutnya masih akan dipantau melalui perkembangan suku bunga The Fed dan data inflasi AS. Rilis CPI pada pekan mendatang menjadi salah satu agenda utama yang dapat memberikan arah baru bagi perhatian pasar terhadap logam mulia tersebut.

banner 325x300